Mata Lokal UMKM
Dari Limbah Jadi Rupiah, Kisah Sukses Petani Jamur Tiram di Musi Rawas
Abdul Rohim, seorang warga desa, berhasil mengubah limbah serbuk gergaji kayu yang biasanya dibuang percuma menjadi sumber penghasilan
Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM, MUSI RAWAS – Di tengah hamparan perkebunan dan aktivitas warga Musi Rawas, Sumatera Selatan, sebuah kisah inspiratif hadir dari Desa H Wukirsari, Kecamatan Tugumulyo.
Abdul Rohim, seorang warga desa, berhasil mengubah limbah serbuk gergaji kayu yang biasanya dibuang percuma menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan melalui budidaya jamur tiram.
Lima tahun lebih sudah Abdul Rohim menekuni usaha ini. Dibantu istri dan anak laki-lakinya, ia mampu menghasilkan 500 hingga 600 baglog (media tanam jamur tiram) dalam sekali produksi.
Di sebuah pondok sederhana di belakang rumahnya, keluarga ini setiap hari bergelut dengan serbuk gergaji, dedak, dan kapur, menciptakan “ladang” jamur tiram mereka.
Kisah Abdul Rohim berawal dari perantauannya ke Lampung. Bekerja sebagai pembuat keramba ikan, usahanya hancur diterjang tsunami.
"Sempat menganggur, saya tak sengaja melihat orang membuat baglog. Rasa penasaran membawa saya bertanya, dan dari situlah saya mengenal budidaya jamur tiram," kata Rohim mengawali cerita, Selasa (14/1/2025).
Pulang kampung, ia melihat potensi besar dari limbah serbuk gergaji yang melimpah di desanya, sisa dari aktivitas pembuatan batu bata. Ingat pengalamannya di Lampung, ia pun mencoba peruntungan dengan budidaya jamur tiram.
Namun, awal mula usahanya tidaklah mudah. Dua tahun pertama diwarnai kegagalan dan habisnya modal. Beruntung, dukungan modal dari keluarga membangkitkannya kembali.
Kegigihan dan semangat pantang menyerah akhirnya membuahkan hasil di tahun ketiga.
Proses pembuatan baglog ala Abdul Rohim terbilang sederhana namun efektif. Serbuk gergaji disaring untuk mendapatkan tekstur yang lebih halus, kemudian dicampur dengan dedak dan kapur.
Campuran tersebut dimasukkan ke dalam cetakan plastik dan dikukus selama sehari semalam. Setelah didiamkan, barulah bibit jamur dimasukkan.
Sebagai perangsang pertumbuhan bibit, ia menggunakan pipilan jagung hibrida yang juga dikukus dan dimasukkan ke dalam botol sebelum dicampurkan ke baglog.
Dengan proses yang masih tradisional, Abdul Rohim mampu memproduksi 600 hingga 1.000 baglog dalam waktu sekitar satu minggu.
Setiap baglog berumur sekitar tiga bulan dan dapat dipanen setiap hari selama periode tersebut.
"Sekali panen untuk 300 baglog ini bisa sampai 7-8 kilogram jamur. Tapi panen raya bisa 15 kilogram. Jamur ini bisa panen setiap hari. Kalau harga jamur tiram mencapai Rp20.000 per kilogramnya," jelasnya.
| BUMDes Harapan Bunda Desa Keban Agung Kecamatan Semidang Aji Raih Omzet Rp 1,8 M |
|
|---|
| Sensasi Bakso Sumsum Pak Eko, Primadona Baru di Simpang Tiga Sekayu yang Bikin Rela Antre |
|
|---|
| Jejak Rempah Hikmah Fajar, Warisan Rasa Keluarga dari Palembang hingga Mancanegara |
|
|---|
| Aroma dari Ulu Ogan, Kisah Kopi Ulu Ayakh yang Menembus Pasar Nasional |
|
|---|
| Dari Ampas Kedelai Jadi Cuan, Haris Ubah Kebutuhan Pakan Jadi Usaha Produktif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Abdul-Rohim-jamur-tiram.jpg)