Selain Ketokohan, Kandidat Calon Gubernur Sumsel Selalu Berbasis Kultural Kedaerahan

Pilgub Sumsel identik ketokohan calon Gubernur Sumsel selalu berbasis kultural kedaerahan berlatar belakang pengalaman kepala daerah.

Tayang:
Penulis: Arief Basuki | Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Pengamat Politik dari Public Trust Institute, Fatkurohman sebut Pilgub Sumsel identik ketokohan calon Gubernur Sumsel selalu berbasis kultural kedaerahan berlatar belakang pengalaman kepala daerah. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pasca pileg dan pilpres 2024, geliat pilkada serentak November mendatang kian terasa.

Sejumlah tokoh mulai mengemuka untuk digadang-gadang potensial muncul menjadi kandidat Calon Gubernur Sumatera Selamat (Sumsel) 2024 - 2029.

Jika merujuk pada jumlah kursi DPRD provinsi Sumsel sebanyak 75 kursi dan syarat dukungan pencalonan 20 persen kursi DPRD yaitu 15 kursi, maka secara rasional paling tidak, dimungkinkan ada sekitar 3-4 pasang calon berasal dari parpol. 

Peneliti Lembaga Riset Sosial Politik Public Trust Institute Fatkurohman mengatakan, sejak Pilgub Sumsel dilaksanakan secara langsung pada tahun 2008, ketokohan calon Gubernur Sumsel selalu berbasis kultural kedaerahan berlatar belakang pengalaman kepala daerah.

"Misalkan Alex Noerdin dua periode sangat kuat di wilayah Musi dan Besemah, karena memang punya sejarah kultural di daerah tersebut," kata Fatkurohman, Selasa (12/3/2024).

Begitu juga dengan Herman Deru (HD), menurutnya ketokohan di basis kultural terutama Komering sangat kuat, bahkan ketokohannya mampu mampu mengimbangi basis diluar wilayahnya.

"Pada Pilgub Sumsel 2024 akan sama, bakal adu kuat basis sendiri dan mengambil basis lawan. HD masih mengandalkan OKU Raya sebagai benteng pertahanan yang kokoh, sementara penantang Mawardi Yahya (MY) mengandalkan basis Ogan dan menarik basis Palembang sebagai DPT terbesar di Sumsel," terangnya. 

Begitu juga dengan Heri Amalindo jika kelak maju, maka diterangkan Fatkurohman akan mengandalkan kultural Musi sebagai basisnya.

"Pengalamannya sebagai Bupati 2 periode di PALI dan Birokrat di Muba, tentu ini jadi modal basis utamanya, " jelasnya. 

Kedepan ia melihat, yang jadi penentu kemenangan di Pilgub Sumsel tak terlepas dari peran bakal calon wakil gubernurnya, untuk menambah pundi-pundi suara di basis yang ada. 

"MY sudah menggandeng Harno, hal ini dipandang sebagai strategi memperkuat basis Palembang, sebagai DPT terbanyak di Sumsel dan menguasai basis besemah melalui ketokohan Harnojoyo" ucapnya. 

Fatkurohman menggambarkan, jika MY mampu menguasai basis ini (Palembang) maka sangat mungkin untuk memenangkan Pilgub Sumsel, apalagi jika PAN sebagai koalisi pilpres juga merapat di koalisi Mawardi Yahya dan Harnojoyo ini. 

Dilanjutkan Fatkurohman, untuk diketahui, MY secara teritori kultural dan jaringan politik bisa menguasai OI, Prabumulih, Palembang.

Kemudian diperkuat Harnojoyo (Demokrat) Walikota Palembang 2 periode berdarah besemah. 

"Jika nanti koalisi Pilpres solid di Sumsel misalkan Gerindra, Demokrat dan PAN bergabung, maka ketiga partai ini memang solid di basis tersebut. PAN di OKI dan Empat Lawang, Demokrat di Palembang dan Lahat Gerindra di OI dan Prabumulih,"tandasnya

Disisi lain, berdasarkan Survei Public Trust Institute di Palembang Januari 2024 lalu, tokoh yang mampu menarik pemilih Palembang selain MY dan Harnojoyo, ada Eddy Santana Putra.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved