Berita Palembang

LIPSUS: Kabut Asap Makin Tebal, Indeks Standar Pencemaran Udara di Palembang Tidak Sehat

kini Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palembang naik kembali, naik di atas 200 dan kategori sangat tidak sehat (merah)

Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Reigan Riangga
Serang Kapal Jukung di Dermaga 7 Ulu mengeluhkan bahwa imbas asap tebal wilayah pesisir sungai membuatnya mengurangi aktivitas mengangkut barang ke daerah Jalur Kabupaten Banyuasin.  


"Asap ini bahaya terutama bagi anak-anak. Di rumah maupun sekolah, anak berair mata terus karena mata perih," ujar Firman.
"Saya juga sama, mata perih," imbuhnya.

Sedangkan bagi warga lainnya, kabut asap sangat mempengaruhi kebugaran fisik meskipun rajin berolahraga.

Yuni, pelatih Taekwondo yang biasa menggelar latihan di lapangan Mapolsek Indralaya mengungkapkan, tubuh gampang lelah saat saat berada di tengah kabut asap.


"Tetap latihan walaupun ada kabut asap," kata Yuni.


Menurutnya, ancaman terbesar kabut asap saat intensitas latihan sedang tinggi, di mana tubuh banyak menghirup oksigen. Sedangkan udara yang tercemar dikhawatirkan dapat menimbulkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).


"Kalau ada asap terus-menerus, berdampak ke daya tahan fisik. Gampang lelah," kata dia.

Kondisi serupa juga dialami warga yang berada di lokasi TPA Sukawinatan Palembang yang sempat terbakar hingga tiga kali. Kabut asap hitam pekat yang muncul dari gunung sampah luas 25 hektar ini berdampak langsung ke warga sekitar TPA.


Kadir (65) warga yang kesehariannya beraktivitas mengumpulkan sampah plastik di TPA Sukawinatan menjelaskan, dirinya terbiasa dengan bau sampah tiap harinya. Namun ia enggan mendekat ke lokasi tempat terbakarnya TPA karena asapnya langsung terasa di tubuh.


"Kami tak berani mendekat membantu memadamkan api, karena badan langsung gemetar," katanya, Selasa (3/10/2023) lalu.

Tama warga yang tinggal Jalan Nurdin Panji Palembang mengaku dampak asap ini sangat menggangu kesehatan. Diraskannya hidung menjadi nyeri hingga gangguan lainnya di tubuh.


"Selain tiap jam harus membersihkan abu di teras rumah, asap bau sampah ini juga berdampak pada pencernaan lantaran perut sering terasa sakit akibat menghirup asap," ujarnya.


Ketua RT 68 RW 10, Jalan TPA Sukawinatan Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang, Somad menuturkan bahwa kebakaran dilokasi pembuangan sampah ini sudah terjadi tiga kali dan menimbulkan asap hitam pekat. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved