Berita Palembang

LIPSUS: Kabut Asap Makin Tebal, Indeks Standar Pencemaran Udara di Palembang Tidak Sehat

kini Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palembang naik kembali, naik di atas 200 dan kategori sangat tidak sehat (merah)

Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Reigan Riangga
Serang Kapal Jukung di Dermaga 7 Ulu mengeluhkan bahwa imbas asap tebal wilayah pesisir sungai membuatnya mengurangi aktivitas mengangkut barang ke daerah Jalur Kabupaten Banyuasin.  

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sempat mengalami penurunan di bawah 200 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori kuning (tidak sehat), kini Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palembang naik kembali, naik di atas 200 dan kategori sangat tidak sehat (merah).


Pagi hari menjadi waktu paling berbahaya bagi kesehatan, sebab berdasarkan data DLHP Sumsel, ISPU di Kota Palembang pada Sabtu (7/10/2023), menyentuh 301 mikrogram per meter kubik.


"Kalau tadi pagi ISPU di Kota Palembang mencapai 301 atau kategori berbahaya. Namun siang ini ini ISPU kota Palembang 293 atau sangat tidak sehat," ungkap Kasi Pengendalian Pencemaran DLHP Provinsi Sumsel Rezawahya saat dikonfirmasi, Sabtu (7/10/2023).


Rezawahya menyatakan, kenaikan angka ISPU tersebut karena terjadinya peningkatan hotspot di wilayah yang mengalami karhutla. Dikatakan, hotspot sebelum sempat berada pada 100an, namun kini jadi 600an hotspot.


"Memang kondisi cuaca tidak ada hujan, kering, kecepatan angin tidak terlalu kencang, sehingga proses recovery atau kembali ke kondisi normal agak lambat," katanya.


Ia menyarankan masyarakat agar jangan banyak beraktivitas di luar rumah. Kalaupun keluar rumah menggunakan masker dan mengkonsumsi makan bergizi, minum air hangat dan jaga kesehatan.


Sementara berdasarkan pantauan Sripo pada Sabtu kemarin, jarak pandang pada pagi hari sangat terbatas. Tower Jembatan Ampera, ikon Kota Palembang sempat tak terlihat karena tertutup kabut asap yang tebal pagi hari. Selain itu jarak pandang pengendara di jalan raya juga terbatas.


Tak hanya warga, para pemain Sriwijaya FC yang akan menjamu PSPS Riau, Minggu (8/10/2023) ini terpaksa latihan di tengah kabut asap. Diakui hal itu mengganggu latihan Chencho dan pemain lainnya.


Pelatih Muhammad Yusup Prasetyo mengakui kabut asap yang tebal menyelimuti udara pagi cukup mengganggu tim Sriwijaya FC menjalani official training di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Sabtu (7/10/2023) dari pukul 06.45 hingga 08.00 pagi.


"Ya asap tadi pagi cukup mengganggu kita latihan. Mudah-mudahan sore besok tidak seperti pagi tadi karena cukup mengganggu penglihatan kita," kata Muhammad Yusup Prasetyo didampingi kiper Rudi Nurdin Rajak pada pre match conference.


Pelatih yang akrab disapa coach Yoyo mengatakan official training yang merupakan latihan terakhir tim untuk menjajal lapangan yang akan menjadi venue laga ke lima babak penyisihan putaran pertama grup 1 Liga 2 2023/2024 menjamu PSPS Riau di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Minggu (8/10/2023) pukul 15.00.


"InsyaAllah besok diberikan kemenangan. Tadi kita semua sepakat bahwa di tim ini semua mau menang. Tidak ada yang mau kalah. InsyaAllah kita melakukan yang terbaik untuk fans Sriwijaya FC dan warga Palembang, Sumatera Selatan. Sekali lagi kita di tim ini tidak ada yang mau kalah di pertandingan besok," kata eks pelatih klub Malaysia Kelantan FA.


Sementara kasus harian Infeksi Saluran Penapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang akibat kabut asap, tren diawal Oktober ini mengalami penurunan. Pada 5 Oktober tercatat 611 kasus, sedangkan 6 Oktober turun menjadi 519 kasus.


"Total kasus ISPA harian, 519 kasus. Ini terjadi penurunan sebesar 8,49 persen dibandingkan satu hari sebelumnya 611 kasus," kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Palembang, Yudhi Setiawan, Sabtu (7/10/2023).


Menurutnya, kasus terbanyak pada kelompok usia di atas 18 tahun yaitu 251 kasus, kemudian usia 5-18 tahun sebanyak 139 kasus, usia 1 sampai kurang dari 5 tahun ada 109 kasus dan usia kurang dari 1 tahun ada 20 kasus.


"Terkait ISPU yang masih fluktuatif, tetap jaga kesehatan, terutama selalu memakai masker kalau berada di luar ruangan dan kurangi aktivitas di luar rumah kalau memang tidak terlalu penting," pesannya.


Sedangkan berdasarkan data yang ada di Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, untuk Kota Palembang, terhitung Januari hingga 4 Oktober kemarin sudah ada 102.789 kasus ISPA.


Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana menambahkan, berbagai upaya terus dilakukan untuk menanggulangi karhutla sehingga meminimalisir munculnya kabut asap.


"Mulai dari pemadam darat, udara dengan water bombing hingga memperpanjang teknologi modifikasi cuaca (TMC) dari 7-12 Oktober 2023. Bahkan akan ditambah personel sebanyak 350 personel dari Kodam II Sriwijaya," katanya.


Jam Sekolah Mundur Hingga Daring


Sementara itu kabut asap yang melanda Palembang membuat Pemkot Palembang mengeluarkan kebijakan mengatur pembelajaran tingkat TK, SD dan SMP di Kota Palembang. Saat ini pembelajaran bagi siswa TK, SD, dan SMP tidak lagi tatap muka, tetapi secara online atau daring.


Penjabat Walikota Palembang, Ratu Dewa mengatakan masalah kabut asap menyangkut kesehatan anak-anak.


"ISPU sudah mencari 346 mikrogram per meter kubik atau kategori berbahaya. Belum lagi anak-anak yang sudah kena ISPA sudah mencapai lebih dari 14.000," kata Ratu Dewa, Minggu (1/10/2023).


Sementara itu Kabid SD Dinas Pendidikan Kota Palembang Juita mengatakan bahwa sejauh ini belum ada arahan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang. "Jadi kita akan ikuti sesuai arahan Pj Walikota Palembang," katanya.


Sebelumnya sempat keluar surat edaran dari Disdik Kota Palembang yang menginstruksikan agar jam masuk sekolah bagi TK, SD dan SMP di Palembang dimundurkan karena kabut asap.

Namun surat edaran tersebut kemudian dicabut oleh Pj Walikota Palembang dan sekolah-sekolah diinstruksikan menerapkan pembelajaran secara daring, mulai 2 Oktober 2023.

Badan Gampang Lelah


KELUHAN dampak kabut asap juga dirasakan di Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Ogan Ilir masuk kategori tidak sehat. Warga Indralaya yang berkendara pun merasa terganggu jarak pandang di jalan terbatas.


"Kami sangat terganggu dengan kabut asap ini, di samping memang cuaca panas," kata Firman, seorang warga Indralaya, Jumat (6/10/2023). Selain itu ia mengeluhkan mata perih setiap beraktivitas di luar rumah.


Menurut Firman, sejak kabut asap melanda Ogan Ilir, dirinya membatasi aktivitas, kecuali untuk keperluan mendesak.


"Asap ini bahaya terutama bagi anak-anak. Di rumah maupun sekolah, anak berair mata terus karena mata perih," ujar Firman.
"Saya juga sama, mata perih," imbuhnya.

Sedangkan bagi warga lainnya, kabut asap sangat mempengaruhi kebugaran fisik meskipun rajin berolahraga.

Yuni, pelatih Taekwondo yang biasa menggelar latihan di lapangan Mapolsek Indralaya mengungkapkan, tubuh gampang lelah saat saat berada di tengah kabut asap.


"Tetap latihan walaupun ada kabut asap," kata Yuni.


Menurutnya, ancaman terbesar kabut asap saat intensitas latihan sedang tinggi, di mana tubuh banyak menghirup oksigen. Sedangkan udara yang tercemar dikhawatirkan dapat menimbulkan gejala Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).


"Kalau ada asap terus-menerus, berdampak ke daya tahan fisik. Gampang lelah," kata dia.

Kondisi serupa juga dialami warga yang berada di lokasi TPA Sukawinatan Palembang yang sempat terbakar hingga tiga kali. Kabut asap hitam pekat yang muncul dari gunung sampah luas 25 hektar ini berdampak langsung ke warga sekitar TPA.


Kadir (65) warga yang kesehariannya beraktivitas mengumpulkan sampah plastik di TPA Sukawinatan menjelaskan, dirinya terbiasa dengan bau sampah tiap harinya. Namun ia enggan mendekat ke lokasi tempat terbakarnya TPA karena asapnya langsung terasa di tubuh.


"Kami tak berani mendekat membantu memadamkan api, karena badan langsung gemetar," katanya, Selasa (3/10/2023) lalu.

Tama warga yang tinggal Jalan Nurdin Panji Palembang mengaku dampak asap ini sangat menggangu kesehatan. Diraskannya hidung menjadi nyeri hingga gangguan lainnya di tubuh.


"Selain tiap jam harus membersihkan abu di teras rumah, asap bau sampah ini juga berdampak pada pencernaan lantaran perut sering terasa sakit akibat menghirup asap," ujarnya.


Ketua RT 68 RW 10, Jalan TPA Sukawinatan Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami Palembang, Somad menuturkan bahwa kebakaran dilokasi pembuangan sampah ini sudah terjadi tiga kali dan menimbulkan asap hitam pekat. 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved