Apa Itu ASF? Ini Pengertian Jenis Flu Babi yang Perlu Diwaspadai Lengkap Cara Pencegahan dari Virus

Virus yang berasal dari babi yang dinamakan ASF terdeteksi telah masuk ke wilayah Sulawesi Utara (Sulut). Simak pengertian dan upaya pencegahannya.

Tayang:
Penulis: Tria Agustina | Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Tria Agustina
Berikut ini pengertian ASF, virus dari babi yang perlu diwaspadai lewat upaya pencegahan. 

Penyebaran dan penularan ASF dapat terjadi secara langsung (melalui kontak fisik dengan babi yang terinfeksi ASF) maupun secara tidak langsung.

Penularan secara tidak langsung dapat terjadi melalui saluran pencernaan (konsumsi sampah sisa makanan dan bangkai), melalui urin, lendir dan feses, melalui darah (bekas luka pertarungan), melalui gigitan caplak lunak Ornithodoros (O. erraticus dan O. moubata) ataupun melalui kontak dengan benda yang tercemar ASFV (pakaian, sepatu, kendaraan, alat peternakan, kandang dan lainnya).

Sampai saat ini, belum ditemukan vaksin yang sesuai untuk mengatasi dan mencegah penyebaran penyakit ASF.

Walaupun demikian, penyebaran virus ASF dapat ditekan dengan melakukan upaya pencegahan dan pengendalian sebagai berikut:

Baca juga: Ayam Mati Mendadak, Virus Newcastle Disease Menyerang Hewan Ternak

1. Penerapan Biosecurity dalam lingkup Peternakan

Biosecurity merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencegah masuk atau menyebarnya penyakit dari luar ke dalam peternakan.

Kegiatan ini dapat dilakukan melalui pencegahan kontak langsung antara babi yang sehat dan sakit (isolasi), kegiatan karantina babi impor sebelum disatukan dalam kandang, menjamin keamanan pakan babi, selalu menjaga sanitasi kandang dan sarang caplak, segera memusnahkan babi yang mati akibat penyakit ASF, melakukan vaksinasi untuk menjaga kesehatan babi secara teratur, membatasi orang yang masuk dalam peternakan, selalu mencuci tangan dan membersihkan alas kaki dengan desinfektan sebelum memasuki kandang serta menerapkan pengawasan yang ketat dan intensif.

2. Pengendalian perbatasan

Pembatasan pergerakan babi hutan dan vektor alami virus ASF merupakan hal yang sulit dilakukan, salah satu cara paling efektif yang dapat dilakukan adalah dengan menutup akses dan melindungi peternakan dari satwa liar. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun pagar pembatas.

Pagar ini berfungsi untuk menutup akses kontak langsung antara babi liar dengan babi domestik, menutup akses pembuangan sisa makanan, sampah dan bangkai yang terkontaminasi. Pagar pembatas dirancang dengan tinggi 1,8 meter dengan tambahan 50 cm masuk ke dalam tanah untuk mencegah terbukanya akses melalui penggalian tanah oleh babi.

Cara ini mungkin saja sulit diterapkan oleh peternak skala kecil karena keterbatasan dana. Kegiatan lain seperti perburuan terkontrol, pemberian pakan tambahan bagi babi hutan, pembangunan zona kontrol, hingga penerapan biosecurity bagi pemburu mungkin saja dapat diterapkan dengan pertimbangan trade-off dari masing-masing opsi.

3. Peningkatan kesadaran akan ancaman penyakit ASF

Peningkatan kesadaran akan pentingnya keamanan hayati sejalan dengan adanya respon cepat terhadap laporan kasus ASF merupakan suatu upaya deteksi dini terbaik mengingat sulitnya melakukan pembatasan pergerakan babi hutan.

Melalui penyediaan informasi, bantuan teknis dan pelatihan, semua pemangku kepentingan dapat memahami perannya dan berkolaborasi secara lintas sektoral untuk mencegah, mengendalikan dan mengawasi penyebaran ASF di Indonesia.

Melalui kolaborasi ini, laporan kasus ASF akan lebih cepat direspon. Pendampingan kepada pemburu, peternak, individu hingga akses cepat untuk berkomunikasi dengan dokter hewan dan pemangku kepentingan lain akan sangat membantu dalam penanganan kasus ini.

Cek Berita dan Artikel Sripoku.com lainnya di Google News

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved