Mutiara Ramadhan
Mutiara Ramadhan: Ramadhan, Agama dan Media Sosial
Kehati-hatian dalam beragama perlu diperhatikan agar tidak tersesat dalam memilih pandangan atau ajaran yang tidak sesuai dengan esensi beragama.
Oleh: Muhammad Romi SH, MH
(Lembaga Kajian dan PDL Yayasan Izzatuna Palembang)
KAMI mengajak kepada kita semua menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum menguatkan kembali prinsip-prinsip beragama yang baik dan benar di era digital. Di era modern ini, setiap individu harus berhati-hati dan mampu menahan diri dari setiap informasi yang diterima, terlebih terkait dengan masalah agama. Ramadhan yang mengajarkan diri untuk menahan dari hal membatalkan puasa, harus dimaksimalkan juga untuk menahan diri dari bermuamalah negatif di media sosial.
Di dalam menjalankan puasa Ramadhan, terdapat banyak tantangan yang harus kita hadapi, salah satunya adalah menahan diri dari segala bentuk godaan dan hawa nafsu. Namun, itulah yang menjadi ujian bagi kita untuk membuktikan ketakwaan dan kesungguhan kita dalam menjalankan ibadah puasa
Melalui puasa, kita diajarkan untuk menahan diri dari makan, minum, dan aktivitas-aktivitas yang dapat membatalkan puasa. Selain itu, kita juga diajarkan untuk menahan diri dari perilaku-perilaku negatif untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan terhindar dari dosa-dosa yang dapat merusak kehidupan kita di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk menjaga ketakwaan dan menahan diri dalam menjalankan ibadah puasa sehingga pada muaranya kita akan mendapat predikat takwa.
Di era digital seperti sekarang ini, tantangan menjaga takwa semakin besar. Media sosial, dengan segala kelebihannya, dapat menjadi salah satu faktor yang memperberat tugas kita untuk selalu berada di jalan yang benar. Momentum Ramadhan ini harus kita maksimalkan untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya menahan diri dalam bermuamalah baik di dunia nyata maupun di dunia maya yakni di media sosial.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
Kita harus berusaha untuk tidak terjebak dalam godaan informasi yang salah serta informasi yang tidak relevan dengan kegiatan ibadah kita. Kita harus mengingatkan diri kita bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah swt.
Oleh karena itu, kita juga harus memperkuat kesadaran tentang pentingnya menahan diri dalam penggunaan media sosial di bulan suci Ramadhan ini. Dengan menahan diri, kita akan lebih mudah untuk fokus pada ibadah dan mendapatkan keberkahan di bulan suci Ramadhan ini. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja dalam puasa kita.
Rasulullah Saw mengingatkan yang artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” (HR An-Nasa’i). Momentum Ramadhan kali ini harus menguatkan kehati-hatian kita dalam beragama di era digital seiring perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat. Kehati-hatian dalam beragama perlu diperhatikan agar tidak tersesat dalam memilih pandangan atau ajaran yang tidak sesuai dengan esensi dari beragama itu sendiri.
Kita perlu memastikan bahwa sumber informasi yang kita peroleh benar-benar dapat dipercaya dan valid. Penting untuk melakukan verifikasi dan pengecekan terhadap sumber informasi yang kita peroleh sebelum menggunakannya sebagai referensi dalam memahami ajaran agama.
Kita harus kritis dalam menilai setiap pandangan dan opini yang kita temukan di media sosial atau internet. Jangan langsung mempercayai informasi yang kita peroleh tanpa melakukan pengecekan dan pemahaman yang mendalam mengenai pandangan atau opini tersebut.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Banyak ayat-ayat menekankan pentingnya melakukan klarifikasi atau tabayun terhadap informasi yang diterima sebelum menyebarluaskannya kepada orang lain. Kita harus memastikan kebenaran informasi tersebut agar tidak menimbulkan kesalahan yang tidak diinginkan.
Kita perlu sadari bahwa siapapun di media sosial bisa menyampaikan berbagai hal sesuai keinginannya sendiri walaupun orang tersebut tidak menguasai ilmunya. Sehingga jangan sampai kita mengonsumsi dan mengikuti informasi atau ilmu di media sosial dari orang yang tidak berkompeten di bidangnya.
Pengetahuan dalam beragama yang benar harus berimbang dengan semangat kita dalam beragama. Dalam konteks era digital saat ini, memperdalam ilmu agama tidaklah sulit karena ada banyak sumber belajar yang dapat diakses melalui internet seperti kitab-kitab online, video tutorial, maupun kajian-kajian online yang diselenggarakan oleh para ulama.
Namun, kita juga harus bijak dalam memilih sumber belajar yang benar dan dapat dipercaya agar tidak terjebak dalam informasi yang salah. Sebagai umat Islam, kita seharusnya tidak mudah terprovokasi dengan konten-konten media sosial tentang agama yang belum tentu kebenarannya. (*)
Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Muhammad-Romi.jpg)