Berita PALI

Harga Karet di PALI tak Kunjung Membaik, Cuaca tak Bersahabat Hasil Sadapan Sulit Dikumpulkan

Menyikapi produksi karet yang terus turun dan harga yang tak stabil, petani disarankan mencari pemasukan tambahan lain.

|
Penulis: Reigan Riangga | Editor: Ahmad Farozi
reigan/sripoku.com
Petani karet di wilayah Kabupaten PALI merasakan nelangsa tak kunjung berkesudahan. Selain harga karet tak kunjung naik, juga diperparah dengan kondisi cuaca yang tak bersahabat. Akibatnya, karet hasil sadapan petani tak membeku dan sulit untuk dikumpulkan. Tampak petani karet di wilayah Kelurahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi, Kamis (30/3/2023). 

SRIPOKU.COM, PALI - Petani karet di wilayah Kabupaten PALI merasakan nelangsa tak kunjung berkesudahan.

Selain harga karet tak kunjung naik, juga diperparah dengan kondisi cuaca yang tak bersahabat.

Akibatnya, karet hasil sadapan petani tak membeku dan sulit untuk dikumpulkan.

"Tentu dengan kondisi ini jadwal kami menjual karet jadi tak bisa diperhitungkan dengan kebutuhan yang terus naik," ungkap Ikhwan petani karet di Kelurahan Handayani Mulya Kecamatan Talang Ubi, Kamis (30/3/2023).

Dijelaskan, biaya operasional saat ini sangat tak sepadan dengan hasil penjualan. Dimana, harga karet saat ini berada diangka Rp7,3 ribu per kg.

"Sejak awal tahun 2023, harga paling rendah diangka Rp7 ribu per kg. Dan tak pernah naik signifikan," ujarnya.

Sementara untuk harga karet kualitas bulanan berada diangka Rp10,300 per kg.

Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ahmad Jhoni mengatakan, menyikapi produksi karet yang terus turun dan harga yang tak stabil, petani disarankan mencari pemasukan tambahan lain.

"Bisa manfaatkan dengan tanaman serta halaman kosong agar tetap produktif. Sehingga bisa sangat bermanfaat," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved