Opini: Selamat Jalan Bang Ridwan

"Telah berpulang dengan tenang Suami, Ayah dan Dato kami tercinta Bapak Ridwan Saidi pada hari Ahad, 25 Desember 2022 pukul 08:35 di RSPI Bintaro

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Dasman Djamaluddin SH.M.Hum. (Mantan Wartawan Sriwijaya Post (Sripo), Penulis Biografi, Sejarawan dan Wartawan) 

Oleh: Dasman Djamaluddin
(Mantan Wartawan Sriwijaya Post (Sripo), Penulis Biografi, Sejarawan dan Wartawan)

SRIPOKU.COM -- BUDAYAWAN Betawi Ridwan Saidi meninggal dunia. Sang budayawan meninggal dunia di RSPI Bintaro, Tangerang Selatan. Berdasarkan keterangan keluarga yang diterima dari anggota DPR Fadli Zon, Ridwan meninggal dunia pada pukul 08.35 WIB. Setelah sebelumnya, ia menjalani perawatan akibat pecah pembuluh darah di rumah sakit tersebut. "Telah berpulang dengan tenang Suami, Ayah dan Dato kami tercinta Bapak Ridwan Saidi pada hari Ahad, 25 Desember 2022 pukul 08:35 di RSPI Bintaro Tangsel," demikian keterangan dari pihak keluarga.

Keluarga memohon doa atas kepergian Ridwan Saidi. Keluarga juga meminta maaf atas kekhilafan almarhum semasa hidup. Jenazah Ridwan Saidi dimakamkan di TPU Karet Bivak. Tangis keluarga pecah, ketika jenazah Ridwan Saidi tiba di rumah duka. Jenazah tiba di rumah duka Jalan Merak II No 24, Bintaro, Jakarta Selatan. Ambulans pembawa jenazah tiba pada pukul 11.49 WIB. Keranda jenazah diturunkan dari ambulans oleh beberapa orang. Saat jenazah turun, keluarga, kerabat, dan sahabat yang ikut mengiringi jenazah ke rumah duka. Anak almarhum terlihat menangis.

Kenangan Saya
Rumah duka di Jalan Merak II No 24, Bintaro, Jakarta Selatan, buat saya tidak asing lagi. Sewaktu saya menjadi Redaktur majalah "Biografi," di bulan April 2010, saya berbincang dengan beliau tentang berbagai hal yang berkembang saat itu. Saya memanggilnya "Abang," panggilan populer di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Bang Ridwan Saidi adalah Ketua Umum Pengurus Besar (PB) HMI 1974-1976. Sedangkan saya ketika kuliah di Jurusan Hukum Fakultas Ilmu-Ilmu Hukum, Ekonomi dan Sosial (FIHES) Universitas Negeri Cenderawasih, Abepura, Papua, saya menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura (1977-1978) dan Ketua Umum Lembaga Hukum Mahsiswa Islam (LHMI) HMI Cabang Jayapura.

Ketika saya pindah ke Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, Sumbar, saya dipercaya menjadi Ketua LHMI-HMI, Cabang Padang, 1980-1981. Oleh karena itu kedekatan saya dengan almarhum Bang Ridwan Saidi tidak dapat diragukan lagi.

Partai Masyumi
Bang Ridwan Saidi, budayawan Betawi dan politikus kawakan ini, lahir di Jakarta, 2 Juli 1942. Pernah menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (1977-1987), karena itu, berbicara dengan suami Yahma Wisnani yang dkaruniai lima anak, terutama dalam hal membicarakan partai Islam sungguh mengasyikan.

Anak kader Partai Masyumi ini tidak segan-segan menyatakan, bahwa dirinya adalah anak sosiologis Masyumi. "Apa itu haram ? ," tanyanya. Partai Masyumi hingga kini masih tetap lagendaris. Hal itu dikarenakan, Masyumi mengandalkan intelektual muslim, punya integritas, jujur dan berpegang teguh pada prinsip.

Tokoh Masyumi lainnya adalah yang kita kenal selama ini, yaitu Buya Hamka dan dalam perjuangannya telah memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Itu sebabnya beliau menjadi anggota Sarekat Islam, Muhammadiyah dan terakhir memasuki Partai Masyumi atau Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), salah satu partai politik yang bernapaskan Islam. Hamka menganut paham Nasionalis-Agamis. Hal ini bisa dilihat dari novel-novelnya yang ditulisnya. Masyumi, sudah tentu kita tidak bisa melupakan dua orang tokoh Islam lainnya, Bang Ridwan Saidi itu dan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.

Pertama, Ridwan Saidi, adalah tokoh Betawi yang sudah malang melintang dalam perpolitikan di Indonesia. Pada bulan April 2010 di rumah kediamannya di Bintaro, Jakarta Selatan, dia menegaskan, “Hamka dan tokoh Masyumi lainnya orang jujur.” Ridwan Saidi adalah putra almarhum Abdul Rahim bin Saidi, salah seorang aktifis Partai Masyumi ranting Sawah Besar.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Kejayaan Partai Masyumi dalam Pemilihan Umum 1955 yang menjadikan partai di mana Hamka, Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Kasman Singodimodjo, Burhanuddin Harahap, duduk di dalamnya menjadikan partai nomor dua terbesar setelah PNI dalam dukungan suara, membuat Ridwan Saidi ingin mengulang sejarah kejayaan partai tersebut pada 24 November 1995 dengan mendirikan Partai Masyumi Baru (Masyarakat Umat Muslimin Indonesia Baru) meskipun akhirnya tidak sebagaimana Partai Masyumi yang sudah dibekukan Pemerintahan Soekarno tahun 1960 itu.

“Saya ingin merehabilitasi secara sosiologis, psikologis dan politis Partai Masyumi era 1950-an. Di masa Soekarno dan Soeharto, Masyumi tetap sebagai organisasi terlarang dan itu dicantumkan dalam PSPB (Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa). Itu beban psikologis yang sangat besar bagi anak cucu warga Masyumi,” ujar Ridwan Saidi.

“Partai Masyumi hingga kini masih tetap lagendaris. Tokoh-tokohnya seperti Hamka dan lain-lain mengutamakan intelektual muslim, memiliki integritas, jujur dan berpegang tegung pada prinsip. Ini konsep lama dalam berpolitik yang sekarang dianggap sudah ketinggalan zaman,” tegas Ridwan Saidi menggarisbawahi.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved