Berita Palembang

2 Hari Diberlakukan, Warga Palembang Mulai Keluhkan Tarif Naik Angkutan Feeder dan Teman Bus

Warga Palembang mulai mengeluhkan pemberlakuan tarif penggunaan angkutan umum Teman Bus dan Feeder, Senin, (31/10/2022) kemarin

Penulis: Mita Rosnita | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Mita Rosnita
Warga Palembang mulai mengeluhkan pemberlakuan tarif penggunaan angkutan umum Teman Bus dan Feeder, Senin, (31/10/2022) kemarin 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Warga Palembang mulai mengeluhkan pemberlakuan tarif penggunaan angkutan umum Teman Bus dan Feeder, Senin, (31/10/2022) kemarin.

Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 138/PMK.02/2022 itu dinilai sejumlah masyarakat Palembang terlalu terburu-buru mengingat sebelumnya program subsidi bagi angkutan Feeder dan Teman Bus akan berakhir pada bulan Desember 2022.

"Kayaknya agak terburu-buru karena awalnya kemaren program angkutan gratis bagi warga Palembang ini akan berlaku hingga bulan Desember ini," kata Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Palembang sekaligus pengguna transportasi Teman Bus, Ellysa (20).

Selain dinilai terlalu tergesa-gesa, Ellysa juga menyebutkan bahwa dengan aturan itu membuatnya cukup kebingungan lantaran sosialisasi di awal tidak pernah dilakukan oleh pengelola.

"Saya awalnya juga tahu dari media sosial saja, namun lebih jauh terkait penggunaan dan sistem pembayarannya juga tidak begitu banyak dipahami oleh masyarakat secara luas ya," lanjutnya.

Bahkan dengan dikenakannya tarif ini, El juga merasa cukup terbebani terlebih bagi dirinya yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswi di perguruan tinggi yang letaknya di tengah-tengah kota.

"Selain itu, saya sebagai pengguna setia angkutan Teman Bus ini merasa sangat terbebani dengan tarif yang diadakan ini, apalagi lokasi rumah saya yang harus dua kali naik angkutan umum tentunya uang saku saya lebih terkuras," ungkapnya.

Ellysa yang merasa terbebani dengan kebijakan itu mengatakan bahwa pemerintah seharusnya dapat lebih bijak dalam mengeluhkan aturan.

"Implementasinya kayaknya masih kurang pas di tengah-tengah himpitan ekonomi seperti ini, apalagi BBM juga mengalami peningkatan harga. Kalau begini jadinya saya berniat untuk menggunakan kendaraan pribadi saja," ujarnya yang sudah dua tahun belakangan menikmati fasilitas gratis angkutan Teman Bus ini.

Perasaan yang sama pun turut dirasakan mahasiswa perguruang tinggi lainnya, Fitra (22) yang mengatakan bahwa kebijakan itu dinilainya cukup ribet bahkan dapat membebani pengguna yang awam terhadap sistem pembayaran cashless.

"Kalau dari saya pribadi tidak setuju, karena menurut saya harus membayar tarif dengan cara menggunakan kartu itu terlalu ribet untuk sebagian orang," ujarnya saat dibincangi langsung, Selasa (1/11/2022)

Dia menyebutkan disaat pemerintah ingin memberlakukan kebijakan baru artinya tugas lainnya juga mampu dijalankan seperti mulai dari sosialisi dan menarik minat masyarakat untuk mau menggunakan transportasi umum.

Kekhawatiran yang dia rasakan tak berhenti sampai disitu, dia kembali menuturkan apabila kebijakan ini tidak diterapkan sesuai kondisi dan pemahaman masyarakat, kedepannya warga di Palembang malah akan memilih menggunakan kendaraan pribadi karena dinilai efektif dan hal ini justru akan menimbulkan kemacetan yang tidak berkesudahan di kota Metropolitan ini.

"Terutama bagi yang gaptek, karena ga semua ngerti sama cara yang diatur oleh Pemerintah itu. Memang pembayaran melalui elektronik itu efektif, akan tetapi itu hanya untuk sebagian orang saja terutama bagi kalangan milenial yang lebih melek teknologi," imbuhnya.

Halaman
12
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved