Benarkah Akhir dari Pandemi Covid-19 Sudah di Depan Mata ? Ini Jawaban dari WHO dan Kemenkes

Benarkah jika akhir dari pandemi Covid-19 sudah benar-benar ada di depan mata ?

KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Kamis (26/3/2020). 

SRIPOKU.COM -- Baru-baru ini, ada sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO).

Melansir Kompas.com, WHO menyebut jika akhir dari Pandemi Covid-19 yang sudah lebih dari 2 tahun menyerang dunia sudah ada "di depan mata."

Pernyataan dari WHO ini juga muncul menyusul data yang menunjukkan jika kasus kematian mingguan akibat virus corona di seluruh dunia sudah ada di level terendah, sejak virus ini menyerang pada Maret 2022 silam.

Bahkan menurut situs web WHO, tepatnya pada 5 September 2022 lalu, angka kematian secara global sudah berada di angka 11.118.

WHO juga memperkirakan bahwa 19,8 juta kematian dapat dihindari pada 2021 dengan vaksin Covid-19 yang telah digunakan sebanyak 12 miliar dosis di seluruh dunia.

Namun, WHO memperingatkan bahwa virus corona masih menimbulkan "darurat global akut" dan menyoroti bahwa selama delapan bulan pertama 2022 lebih dari 1 juta orang meninggal karena Covid-19.

“Pekan lalu, jumlah kematian mingguan yang dilaporkan akibat Covid-19 adalah yang terendah sejak Maret 2020,” kata Direktur jenderal badan kesehatan internasional Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagaimana dilansir Guardian pada Rabu (14/9/2022).

“Kami tidak pernah berada dalam posisi yang lebih baik untuk mengakhiri pandemi – kami belum sampai di sana, tetapi akhir sudah di depan mata.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyelidikannya tentang asal-usul Covid-19 tidak mendapatkan kesimpulan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyelidikannya tentang asal-usul Covid-19 tidak mendapatkan kesimpulan. (REUTERS/LAURENT GILLIERON via ABC INDONESIA)

Meski demikian dia mendorong kewaspadaan semua pihak dengan mengambil perumpamaan bagaimana seorang pelari maraton tidak berhenti ketika garis finis terlihat, tapi berlari lebih keras dengan semua energi yang tersisa.

“Jadi kita harus begitu.” “Kita bisa melihat garis finis, kita dalam posisi unggul. Tapi sekarang adalah waktu terburuk untuk berhenti berlari. Sekarang saatnya untuk berlari lebih keras dan memastikan kita melewati batas dan menuai hasil dari semua kerja keras kita.”

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved