Lebaran Idul Fitri 2022

Warga Pilih Belanja ke Luar Daerah, Toko Pakaian di Muratara Sepi Pembeli

Salah satu dagangan yang ramai pembeli biasanya adalah pakaian karena warga ingin mengenakan baju dan celana baru di hari lebaran. 

Tayang:
Editor: Odi Aria
Tribunsumsel.com/Rahmat
Deretan toko pakaian di pasar tradisional Lawang Agung Rupit Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) terpantau masih sepi pembeli pada H-10 lebaran Idul Fitri, Jumat (22/4/2022). 

SRIPOKU.COM, MURATARA - Sepuluh hari menjelang lebaran Idul Fitri 1443 Hijriah tahun 2022 (H-10) biasanya di pasar-pasar sudah ramai warga berbelanja keperluan hari raya.


Salah satu dagangan yang ramai pembeli biasanya adalah pakaian karena warga ingin mengenakan baju dan celana baru di hari lebaran. 


Namun berbeda dengan yang terjadi di pasar tradisional Lawang Agung di Kecamatan Rupit, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). 


Sejumlah toko pakaian di pasar pusat ibukota kabupaten ini terpantau masih sepi pembeli kendati sudah H-10 lebaran yang seharusnya sudah ramai.


"Masih sama seperti hari-hari biasanya itulah, belum terlalu ramai, mungkin sudah mau dekat lebaran nanti ramai," ujar Reni, pemilik toko, Sabtu (23/4/2022). 


Ia mengaku tak mengetahui penyebab sepinya pembeli, namun menurutnya sudah biasa terjadi menjelang lebaran pada tahun-tahun sebelumnya. 


"Tidak tahu juga, lebaran-lebaran lalu perasaan sama saja, malah hari-hari biasa kadang ada juga ramai orang beli (pakaian)," katanya.


Sementara itu, Ranti, warga setempat mengungkapkan salah satu penyebab sepinya pembeli pakaian karena banyak yang berbelanja ke luar daerah. 


Menurut dia, warga Muratara biasanya menjelang lebaran seperti ini berbelanja ke Kota Lubuklinggau atau ke Singkut Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. 


"Kalau tidak ke Linggau ya ke Singkut, karena lebih lengkap biasanya model-model pakaiannya, pasarnya besar, kita (Muratara) belum ada pasar induk, jadi tidak lengkap," katanya.


Sebelumnya, Bupati Muratara Devi Suhartoni pernah mengatakan pemerintah daerah tengah berupaya untuk membangun pasar induk di kabupaten ini. 


Pembangunan pasar induk di daerah ini awalnya direncanakan pada tahun 2021 lalu, namun terpaksa ditunda karena belum ada Detail Engineering Design (DED).


Padahal dana untuk membangun pasar induk tersebut telah ada bantuan dari Gubernur Sumsel Herman Deru sebesar Rp 15 miliar. 


"Batal (tahun 2021) karena belum ada DED, maka saya minta dianggarkan DED pada APBD Perubahan 2021 agar tahun 2022 bisa berjalan," kata Devi Suhartoni. 


Menurut Devi, pasar induk sangat penting karena salah satu indikator angka kemiskinan masih tinggi di daerah ini karena belum memiliki pasar induk. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved