Berita Muratara

Sudah Ada Petani Tewas Disambar Petir, Warga Muratara Diimbau Waspada Cuaca Buruk

Bahkan ada satu rumah warga roboh rata dengan tanah, dua rumah rusak sedang dan sekitar 55 rumah rusak ringan di kelurahan tersebut akibat angin.

Editor: Odi Aria
SRIPOKU.COM/ANTONI AGUSTINO
Ilustrasi: Hujan deras disertai petir 


SRIPOKU.COM, MURATARA - Cuaca buruk melanda Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) akhir-akhir ini, Kamis (3/2/2022).

Hujan deras disertai angin kencang hampir terjadi setiap hari terutama di waktu malam.

Bahkan, tiga hari lalu atau persisnya pada Minggu (30/1/2022) malam sekira pukul 20.30 WIB, hujan angin merusak puluhan rumah warga di Kelurahan Karang Jaya.

Bahkan ada satu rumah warga roboh rata dengan tanah, dua rumah rusak sedang dan sekitar 55 rumah rusak ringan di kelurahan tersebut akibat diterpa angin.

Sejak sore kemarin (Selasa, 1/2/2022) hingga malamnya, hujan deras disertai angin kencang kembali melanda wilayah Muratara.

Ironisnya, saat hujan tersebut seorang petani asal Desa Maur Baru bernama Sumantri (40) disambar petir hingga meninggal dunia.

Kejadian itu terjadi di kawasan persawahan di Desa Bingin Rupit, saat korban hendak pulang namun menunggu hujan reda di pondok tepi sawah.

Karena intensitas hujan akhir-akhir ini meningkat, volume air sungai Rupit dan sungai Rawas di Muratara juga mengalami pasang, Rabu (2/2/2022).

Seperti diketahui, Muratara ini memang merupakan salah satu daerah langganan banjir di Sumatera Selatan (Sumsel).

Oleh sebab itu, warga yang tinggal di bantaran sungai diimbau tetap siaga terhadap potensi bencana banjir.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara, Zainal Arifin mengatakan meski banjir belum melanda namun potensinya tetap ada.

"Potensi tentu ada, apalagi beberapa hari terakhir hujan terus, volume air sungai juga naik, kami terus memantau perkembangannya," kata dia.

Selian itu, Zainal Arifin juga mengingat warga yang tinggal di pinggir sungai untuk menjaga anak jangan sampai jatuh dan terhanyut.

Mengingat volume air sungai saat ini terus meningkat setelah diguyur hujan beberapa hari terakhir.

"Anak-anak tolong dijaga, jangan sampai tidak diawasi saat dia main, apalagi rumah di pinggir sungai, hati-hati jangan lengah, bahaya," katanya.

Menurut Zainal Arifin, banjir di Kabupaten Muratara merupakan bencana musiman yang biasa terjadi setiap tahunnya.

Banjir akibat luapan Sungai Rawas dan sungai Rupit terutama saat musim penghujan karena mayoritas penduduk tinggal di bantaran sungai.

"Daerah kita ini sebenarnya banjirnya biasa, musiman, yang kita takutkan adalah banjirnya di luar dari yang biasa, ini yang harus kita siagakan," katanya.

Untuk diketahui, dari 89 desa kelurahan di Kabupaten Muratara ini ada 32 desa kelurahan yang biasa terdampak banjir.

Sebanyak 32 desa kelurahan tersebut berada di lima kecamatan, yakni Kecamatan Rawas Ilir, Karang Dapo, Rupit, Rawas Ulu dan Karang Jaya.

Bencana banjir biasanya terjadi akibat luapan sungai Rawas dan sungai Rupit yang mengalir di sepanjang lima kecamatan tersebut.

Di Kecamatan Karang Jaya ada 7 desa yang biasa banjir, yakni Desa Tanjung Agung, Rantau Telang, Bukit Ulu, Muara Batang Empu, Sukamenang, Terusan dan Desa Embacang Lama.

Di Kecamatan Rawas Ulu terdapat 4 desa yang biasa banjir, yakni Desa Lesung Batu, Lesung Batu Muda, Lubuk Kemang dan Desa Remban.

Di Kecamatan Rupit terdapat 9 desa yang biasa banjir, yakni Desa Noman, Noman Baru, Batu Gajah, Maur, Maur Baru, Bingin Rupit, Karang Anyar, Lubuk Rumbai dan Desa Pantai.

Di Kecamatan Karang Dapo terdapat 4 desa dan kelurahan yang biasa banjir, yakni Desa Karang Dapo 1, Kertasari, Rantau Kadam dan Kelurahan Karang Dapo.

Di Kecamatan Rawas Ilir terdapat 8 desa dan kelurahan yang biasa banjir, yakni Desa Mandi Angin, Beringin Makmur I, Tanjung Raja, Belani, Batu Kucing, Pauh, Pauh I, dan Kelurahan Bingin Teluk.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved