Berita Ogan Ilir

Sejarah Syeh Aulia Ulumuddin, Simbol Leluhur di Desa Ekowisata Burai Ogan Ilir

Syeh Aulia Ulumuddin yang memiliki gelar Pangeran Rambut Panjang. Dia adalah simbol seluruh leluhur yang berkumpul di Desa Burai

Editor: Odi Aria
Tribun Sumsel/Agung Dwipayana
Makam Syeh Aulia Ulumuddin di Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Ogan Ilir, berdampingan dengan makam ibunya yakni Saidatun Az Zahra dan gurunya yakni H. Mustaqim. 

Penulis : Agung Dwipayana

SRIPOKU.COM, INDRALAYA - Desa Burai merupakan ikon pariwisata di Ogan Ilir karena merupakan desa wisata ekowisata terpopuler di Bumi Caram Seguguk, bahkan di Sumatera Selatan.

Di balik pesona Desa Burai dengan panorama alam dan kearifan lokal yang dimiliki, desa yang berada di wilayah Kecamatan Tanjung Batu ini memiliki sejarah dakwah Islam yang dibawa oleh para leluhur terdahulu.

Ialah Syeh Aulia Ulumuddin yang memiliki gelar Pangeran Rambut Panjang.

Dia adalah simbol seluruh leluhur yang berkumpul di Desa Burai dan menyebarkan dakwah ke wilayah-wilayah Sumatera Selatan saat ini.

Sejarah kedatangan Syeh Aulia ke Burai dikemukakan tokoh pemuda desa setempat, Ahmad Syadad.

Syadad menceritakan, Syeh Aulia Ulumuddin keturunan dari Kerajaan Perlak di Aceh dan dia merupakan putra Sultan Alaudin Syah.

Kerajaan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara yang berdiri pada 1 Muharram 225 Hijriah atau 804 Masehi.

"Kerajaan Perlak mengalami masa surut, sehingga Syeh Aulia pindah ke Malaka, lalu ke Palembang," kata Syadad kepada TribunSumsel.com, Sabtu (13/11/2021).

Saat masa runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, Syeh Aulia datang ke Burai pada tahun 1.314 bersama rombongan berjumlah ratusan orang.

Rombongan ini datang dengan menggunakan perahu yang merupakan alat transportasi zaman dahulu.

"Jadi beliau datang ke Burai untuk menyelamatkan diri bersama para leluhur lainnya," ujar Syadad.

Di Burai, Syeh Aulia bersama para leluhur menyebarkan agama Islam kepada penduduk setempat hingga ke wilayah Komering.

Meskipun ulama yang sangat diagungkan, Syeh Aulia memiliki guru bernama H. Mustaqim yang senantiasa memberi tuntunan dalam berdakwah.

Syeh Aulia wafat di Burai pada tahun 1.403, namun tak dijelaskan usia beliau saat tutup usia.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved