G30S PKI

"MAU Nyulik Jenderal," UNTUNG dan Latief Pamitan ke Soeharto di RSPAD: Pengakuan Eks Cakrabirawa

Ishak Bahar menjadi saksi dalam aksi penculikan hingga pembantaian Dewan Jenderal di Lubang Buaya (daerah Pondok Gede Jakarta).

Editor: Wiedarto
Tribun-Papua.com/Istimewa
Pengakuan saksi G30S PKI 1965. Kolonel Latief dan Letkol Untung bertemu Soeharto sebelum culik Dewan Jenderal. 

Awalnya, Soekitman ini suruh dibunuh, tapi saya tahan, saya lindungi, saya bilang kamu tidak tahu apa-apa,” kata Ishak sambil memperagakan detik-detik penembakan.

Kelak, Soekitman yang diselamatkan Ishak ini menjadi saksi kunci bagaimana kebiadaban para tentara Cakrabirawa membantai Dewan Jenderal.

Dia pula yang menunjukkan lokasi jasad Dewan Jenderal dibenamkan dalam sumur tua lalu diuruk dan ditanam pohon pisang.

Ishak mengungkapkan, peristiwa pembantaian itu berlangsung sangat cepat.

Bahkan, sampai detik terakhir penembakan jenderal, dia masih belum percaya apa yang terjadi di depan matanya adalah nyata.

“Saya hanya sedikit tahu kalau Dewan Jenderal ini mau menggulingkan Pak Karno, sebagai pasukan pengawal presiden, Cakrabirawa berkewajiban menggagalkan itu,” terangnya.

Ishak mulai sadar, bahwa dirinya sudah terjebak masuk dalam pusaran gejolak politik yang maha dahsyat. Meski demikian, Ishak belum sepenuhnya paham skenario seperti apa yang akan menjeratnya setelah itu.

“Setelah itu lalu bubar, saya enggak tahu (Untung dan Latief) pada ke mana, saya ditinggal dengan pasukan-pasukan yang lain.

Saya pulang sendiri dengan membawa truk, sopir dan Soekitman itu tadi,” katanya.

Sesampainya di markas Cakrabirawa, tidak berselang lama datang pasukan tentara berpita putih.

Ishak dilucuti dan langsung dijebloskan ke penjara tanpa dimintai keterangan apa pun.

“Saya ditahan belasan tahun tanpa pakai persidangan apa-apa, hanya sekali dimintai keterangan jadi saksinya Untung,” ujarnya.

Selama 14 hari, Ishak ditahan di LP Cipinang. Di sinilah neraka dunia yang dirasakan bagi pasukan Cakrabirawa yang tertangkap, tidak terkecuali Ishak.

“Saya diberi makan jagung rebus saja, tapi tidak pakai piring, langsung disebar di lantai, dituturi (dipunguti) satu-satu,”

Selain itu, siksaan yang dialami selama di Cipinang juga tak bisa diceritakan dengan rinci oleh Ishak.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Papua
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved