APA Itu Virus Delta, Virus Varian Baru yang Bahaya, Penularannya hanya 5-10 Detik, Kenali Gejalanya

Seperti kita ketahui, Virus Corona adalah virus yang mematikan, sudah berjuta juta jiwa yang menjadi korbanya.

Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM/ANTON
Ilustrasi varian Delta dari virus corona, penyebab tsunami Covid-19 di India. 

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Siti Nadia Tirmizi mengatakan, ada 148 kasus infeksi varian baru yang ditemukan di Indonesia.

Dari 148 kasus tersebut, 107 di antaranya adalah kasus Covid-19 varian Delta yang tersebar di DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah.

Kasus Covid-19 varian Delta paling banyak ditemukan di Jawa Tengah dengan 75 kasus. Angka ini mendominasi kasus infeksi varian Delta secara nasional, yakni lebih dari 70 persen kasus nasional.

Seberapa menular varian Delta?

Berdasarkan data dari Inggris, varian Delta sekitar 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alpha.

Prof Wendy Barclay, profesor virologi dan kepala Departemen Penyakit Menular di Imperial College London di Inggris, menjelaskan bahwa varian Delta lebih menular daripada yang sebelumnya karena beberapa mutasi kunci pada protein lonjakan, yang memungkinkan virus untuk menembus dan menginfeksi sel sehat.

“Varian Delta memiliki dua mutasi penting dalam protein lonjakannya, atau set mutasi,” katanya.

“Salah satunya ada di situs pembelahan furin, yang menurut kami cukup penting untuk kebugaran virus di saluran napas.”

“Virus asli yang muncul di Wuhan kurang optimal dalam hal itu, jadi menular tetapi mungkin tidak semenular itu (varian Delta). Varian Alpha mengambil satu langkah untuk meningkatkannya dengan mutasi tertentu, dan varian Delta telah membangunnya dan mengambil langkah kedua sekarang, langkah yang lebih besar, menuju peningkatan mutasi,” kata Prof. Barclay.

Baca juga: WASPADA! Virus Corona di Palembang Tembus 15 Ribu, Kecamatan Gandus Kini Berstatuskan Zona Merah

Meningkatkan Resiko Rawat inap

Menurut sebuah studi Skotlandia yang diterbitkan di The Lancet pada 14 Juni lalu, varian Delta meningkatkan risiko rawat inap hingga dua kali lipat dibandingkan dengan varian Alpha.

Kesimpulan itu merujuk ke 19.543 kasus komunitas Covid-19 dan 377 rawat inap yang dilaporkan di Skotlandia antara 1 April dan 6 Juni 2021.

Orang yang memiliki penyakit penyerta alias komorbid memiliki risiko lebih besar untuk dirawat di rumah sakit.

Mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap lebih terlindungi

Merujuk ke studi yang disebut di atas, terungkap bahwa mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap memiliki risiko lebih rendah untuk menjalani rawat inap.

Namun menurut studi yang digelar Public Health England (PHE), dosis pertama vaksin Covid-19 tidak terlalu efektif untuk melindungi seseorang dari virus varian Delta, dibandingkan dari virus varian Alpha.

Di Indonesia, celakanya, varian Delta sudah teridentifikasi di sejumlah daerah. Satgas Penanganan Covid-19 pun menyebut varian ini sebagai salah satu penyebab tingginya kasus baru infeksi virus Corona selama satu-dua pekan terakhir.

Bisa Lewat Cairan Pernafasan Bisa Menular 5-10 Detik

Fakta juga menunjukkan dan hal ini diungkapkan oleh Ahli epidemiologi UNSW Mary-Louise McLaws mengatakan bahwa, virus dapat menyebar dengan mudah di pusat perbelanjaan karena aliran udara.

"Maka anda harus waspada. Apalagi jika berada di dalam ruangan atau di pusat perbelanjaan atau berbelanja, perubahan aliran udara (biasanya) rendah, yang biasanya terjadi," kata profesor McLaws.

Dia juga mengatakan, ketika seseorang berada dalam periode viral load tinggi dan dia memiliki banyak cairan pernapasan.

Maka dia mungkin menghasilkan lebih banyak partikel dengan ukuran berbeda, dia menjadi lebih menular.

Dilansir Sripoku.com dari The Guardian, Kamis (24/6/2021), hal ini diungkapkan oleh Kepala Petugas Kesehatan Queensland, Dr Jeannette Young, juga mengatakan varian Delta diindikasi dapat menular bahkan dengan kontak singkat yang mengarah ke transmisi.

Bahkan durasi yang diperlukan bagi virus ini untuk menular hanya sekitar 5-10 detik.

“Pada awal pandemi ini, saya berbicara tentang kontak dekat selama 15 menit yang menjadi perhatian."

"Sekarang sepertinya 5 sampai 10 detik itu menjadi perhatian. Risikonya jauh lebih tinggi sekarang daripada setahun yang lalu,” kata Dr Young.

Jenis Virus Terkuat yang pernah ada

Virus Delta dikabarkan sebagai virus paling kuat diantara Virus Corona.

Hal ini diungkapkan oleh WHO seperti dilansir dari NBC News yang menyatakan, jika virus ini sudah menyebar 85 negara dan lebih cepat.

Kasus penularannya memang sangat cepat dan bahaya.

"Varian Delta 40 persen lebih menular di bandingkan Virus Alpha. Indikasinya, satu orang yang terinfeksi akan bisa menularkan virus tersebut kepada 7 hingga 8 orang yang berpapasan atau berkomunikasi dengannya," jelasnya.

Bukti lainnya, yang menjadi rusukan adalah kasus di Australia, ketika rekaman di CCTV yang diungkapkan oleh ABC, 22 Jnui 2021 lalu, jika dua orang yang berbelanja di Shopping Center Wstfiled Bondi Junction Autralia berpapasan dengan dua orang yang saat ini terfeksi Covid-19.

Bahkan mereka nyaris tidak melakukan kontak apapun, tetapi bisa tertular, ada asumsi meski mereka hanya sebentar berpapasan, tetapibisa tertular dengan cepat.

Diduga Memanfaatkan Kondisi Udara

Diduga virus ini semakin pintar ketika melakukan penularan. Hal ini dikatakan oleh Chief Health Officer Negara Bagian, Dr Kerry Chant seperti dilansir dari kompas.com, bahwa dia mencurigai jika dua orang lainnya terinfeksi Covid-19 dengan cara yang sama. Yakin melalui udara.

"Kami tahu ada tiga orang yang terpapar pada 12 Juni dan 13 Juni," kata Dr Chant.

Maka itu, dia mengatakan pihaknya benar-benar memiliki rekaman CCTV dari pertemuan itu dan pada dasarnya adalah persilangan individu jelas mereka hanya berpapasan sebenarnya saja.

Mereka jelas saling berhadapan tetapi secara harfiah seseorang bergerak melintasi satu sama lain untuk sesaat, dekat, tetapi sesaat.

"Dalam dua kasus lain, kami belum dapat, dengan rekaman CCTV, melihat titik persimpangan yang sama persis, tetapi kami tahu mereka berjarak 20 meter, masuk di tempat yang berbeda pada waktu yang sama atau di area itu. Jadi kami menduga mereka memang menyeberang," imbuh Dr Chant.

Sementara itu, Perdana Menteri Gladys Berejiklian menambahkan bahwa pertemuan itu "sangat singkat". Secara harfiah orang-orang itu bahwa tidak secara fisik saling menyentuh, tetapi dengan cepat datang ke wilayah udara yang sama dan virus berpindah dari satu orang ke orang lain.

"Begitulah menularnya," kata dia.

Seperti diketahui, CCTV secara teratur digunakan dalam investigasi yang dilakukan oleh NSW Health untuk melacak perjalanan kasus dan mengidentifikasi setiap momen penularan yang mungkin terjadi.

Baca juga: Tanpa Vaksin Bisa Kendalikan Virus Covid-19, Begini Kata Epidemilog Asal Perhatikan 2 Hal Penting

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved