Didatangi Arwah Korban Tiap Malam, Pengakuan Tentara Israel yang Depresi Habisi 40 Warga Palestina

Bahkan Razon kaget, terkait apa yang dilakukan oleh pemerintah Israel setelah dirinya tak aktif menjadi Tentara.

Editor: Hendra Kusuma
Istimewa/Youtube
Didatangi Arwah Korban Tiap Malam, Pengakuan Ido Gal Razon Tentara Israel yang Depresi Habisi 40 Warga Palestina 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kisah mantan Tentara Israel Ido Gal Razon yang Depresi akibat Perang Palestina dan Israel.

Cerita Ido Gal Razon sebagian kecil dari kejamnya peperangan, sebab perang Israel vs Palestina ini, tak hanya mendatangkan korban dari pihak sipil kedua belah pihak, tetapi juga korban dari tentara yang berperang.

Korban perang Palestina vs Israel yang kerap disebut sebagai perang antara sekelompok Zionis Israel menghadapi Hamas di Gaza Palestina ini, benar-benar menimbulkan Depresi dan traumi psikis yang membuat seseorang mengalami penderitaan seumur hidupnya.

Baca juga: Gilad Shalit Tentara Israel yang Diculik Hamas, Pemerintah Sampai Rela Lepas 1.027 Tahanan Palestina

Baca juga: BAK Siluman, HAMAS Bisa Muncul Kapan Saja, Culik Tentara Israel: Terowongan Gaza Bikin Panik Yahudi

Traumi psikis tak hanya dialami oleh Tentara dan warga sipil Palestina, tetapi seorang tentara Israel pun mengalami hal buruk tersebut.

Kisah Ido Gal Razon, seorang Tengara Israel yang mengalami Depresi ini, diungkapkan dalah sebuah video di Kanal Youtube Cerita Dalam Sejarah yang diunggah satu tahun lalu dan hingga kini ditonton hingga 2,5 juta.

Dengan penuh amarah dan luapan kekecewaan, seperti ditayangkan dalam Video tersebut, Razon, demikian nama Tentara Israel itu mengalami trauma hebat pasca perang.

Dia mengaku, Didatangi Arwah Korban Tiap Malam, yakni arwah para korban yang merupakan penduduk Palestina.

Dan jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Demikian kata Razon, Pengakuan Tentara Israel yang Depresi Habisi 40 Warga Palestina ini, dihadapan sidang pengadilan, di mana kala itu dia menggungat pihak pemerintah Israel yang tak peduli akan keberadaannya pasca mengalami trauma.

"Saya membunuh untuk kalian, bagaimana saya menyaksikan puluhan orang yang menjadi korban setiap hari," ujarnya.

Idap Post traumatic Stress Disorder (PTSD)

Diakui Razon, dia mengidap Post traumatic Stress Disorder (PTSD), pasca penyerangan dari 13 tahun silam. Namun saat dia meminta dirawat, pemerintah justru tidak memberikan perawatan maksimal.

"Saya juga seorang pejuang Galoni, kenapa anda tidak memperlakukan saya dengan baik? saya membunuh untuk anda dengan tangani ini," jelas Razon saat menuntut Komite Isarel untuk memberinya perawatan yang layak untuk mengobati stres dan traumnya setelah masa perang berakhir.

Diakui Razon akibat kejadian di Jalur Gaza dan serangan demi serangan yang mereka lakukan, dia mengaku telah membunuh 40 warga Palestina.

Meski tak sedikit dari pihak Tentara Israel juga tewas oleh serangan Hamas kala itu.

"Saya membunuh lebih dari 40 orang hanya untuk kalin, saya benar-benar membunuh mereka," jelas Razon.

Dan jangan lupa subscribe, like dan share channel Tiktok Sriwijayapost di bawah ini:

Bahkan, hingga kini, Razon mengaku kerap didatangi oleh para arwah warga Palestina yang dibunuhnya di dalam mimpin dan bertanya mengapa mereka dibunuh.

Hal inilah yang membuat Razon dicekam ketakutan dan trauma, sulit tidur bahkan buang air di tempat tidurnya.

"Saya selalu buang iar kecil di ksur saat ditur selama ini akibat trauma, mereka mendatangi saya dan berkumpul serta berkata, kenapa kamu membunuhku," kata Razon.

9 Tahun Tak Tenang

Diapun selama 9 tahun terakhir ini mengaku tak bisa hidup dengan tenang, karena trauma tersebut. Namun, saat dia meminta fasilitas perawatan dari pihak pemerintah Israel, justru tidak mendapatkan perawatan maksimal dan terkesan dibiarkan begitu saja.

Pengakuan ini dibuat Razon pada tahun 2016, bagaimana dia tidak mendapatkan perawatan yang layak dan semua biaya ditangguh oleh ibunya.

"Apa yang kalian lakukan disini. Ini sudah 9 tahun lamanya dan saya tidak mendapatkan 1 persen pun bantuan perawatan. Apakah ibu saya yang harus membayar semuanya untuk saya.

"Inikah menurut kalian keadilan. Saat ibu saya membayar tagihan rumah sakit untuk semua luka yang saya alami di Gaza?," kata Ido pada tahun 2016 lalu.

Serta Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Minta Pemerinah Israel Peduli

Razon mengatakan saat itu, Pemerintah Israel tak pernah bertanggung jawab sedikitpun atas luka yang ia alami. Ido mengaku hingga saat ini, ia masih sering dihantui oleh masa lalunya saat berperang di Jalur Gaza.

Mendapatkan kenyataan pahit seperti itu, Ido hanya bisa terdiam dalam menjalani sisa hidupnya.

Bentuk Gerakan

Kini ia pun membentuk sebuah gerakan bernama Fighters For life (FOF)

FOF sendiri adalah gerakan yang didedikasikan oleh para mantan pejuang Israel (IDF) untuk mendapatkan keadilan dari pemerintah terkait masa setelah perang yang mereka alami.

Kronologi

Diakui Ido Gal Razon, saat itu bergabung dalam sebuah operasi bernama 'Clear As Wine' untuk menyerbu rumah Wali Kota Gaza. Tetapi yang ditemukan oleh Ido dan rekannya bahwa operasi tersebut adalah jebakan dari para prajurit Palestina. Dalam operasi tersebut, Ido berhasil lolos meskipun teman-temannya banyak yang gugur.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Namun, dalam beberapa operasi lainnya juga memberikan trauma tersendiri terhadap Ido, salah satunya adalah operasi 'Greenhouse Effect' di mana temannya Ido yang bernama Ben Kobani harus terbunuh karena ketidaksiapan pemerintah Israel dalam menyiapkan operasi.

Bahkan Razon kaget, terkait apa yang dilakukan oleh pemerintah Israel setelah dirinya tak aktif menjadi Tentara.

Sebab, Seluruh pengabdian dari Ido Gal Razon diabaikan oleh pemerintah Israel pada saat itu.

"Dan inilah yang terjadi setelah pertempuran. Kalian menggunakan saya untuk bertempur dan saya berjuang sendiri. Kalian mengabaikan saya dan tidak keluar selama 'Greenhouse Effect'.

Demikian pernyataan dari Razon, dari Lohamim, Ido Gal Razon yang aktif menjadi tentara pada tahun 2007 lalu, dan kini mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) setelah peperangan berakhir lebih dari 13 tahun lalu.

Sejauh Razon terus berjuang dan memperjuangkan hak-haknya bersama para mantan Tentara Israel atau warga yang mengalami trauma psikis akibat perang Israel dan Palestina.

ilustrasi
Update 24 Mei 2021. (https://covid19.go.id/)
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved