DARURAT, Ribuan Warga Perbatasan Eksodus, Jenderal Myanmar Berani Serang Perbatasan Thailand
Karen, Kachin dan beberapa kelompok etnis pemberontak lainnya telah ikut ambil bagian untuk mendukung para demonstran pro-demokrasi
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Fakta bahwa gejolak di Myanmar masih terus belangsung bahkan darurat, sebab Ribuan Warga Perbatasan Eksodus, sebab, Jenderal Myanmar Berani Serang Perbatasan Thialand.
Fakta bahwa Myanmar masih dalam keadaan darurat akibat ulah para Jenderal Myanmar yang semakin bertindak keras terhadap warga terutama di arel perbatasan.
Akibatnya aksi Jenderal dari Militer Myanmar tersebut, Ribuan Warga Perbatasan Eksodis, terutama dalam beberapa desa di sekitar perbatasan.
Teruma desa dari etnis Karen di Myanmar.
Mereka sudah gelisah dan merasa terancam, sebab Militer Myanmar ini sudah berani menyerang perbatasan di Thailand.
Karena tidak aman itulah, mereka pun bersiap untuk menyeberang ke Thailand.
Sebab ada indikasi, jika pertempuran semakin meningkat dan intensif antara militer Myanmar dan pemberontak Karen di sekitar perbatasan.
Perlawanan pemberontak Karen memang membuat Jenderal Myanmar marah dan menyerang hingga ke perbatasan Thailand.
Itulah yang membuat warga di Myanmar memilih eksodus dan akan bergabung dengan warga Myanmar yang telah lebih dahulu melarikan diri saat kudeta 1 Februari terjadi.
Bentrok Diperbatasan
Seperti diketahui bahwa, Pemberontak Karen dan militer Myanmar memang telah terjadi bentrok di dekat perbatasan Thailand dalam beberapa minggu terakhir ini.
Sebab, sejak jenderal Myanmar mengusir pemerintahan terpilih yang dipimpin oleh juara demokrasi Aung San Suu Kyi, maka gejolak terus terjadi.
Apalagi ada isu bahwa orang-orang Myanmar akan datang menembaki mereka."Orang-orang mengatakan orang Myanmar akan datang dan menembaki kami,"
Maka itulah para penduduk disekitar perbatasan melarikan diri.
"Jadi kami melarikan diri ke sini," kata Chu Wah, seorang penduduk desa etnis Karen yang menyeberang ke Thailand bersama keluarganya minggu ini.
"Saya harus melarikan diri menyeberangi sungai," kata Chu Wah, merujuk pada sungai Salween yang membentuk perbatasan di daerah itu.
Mengungsi ke Kamp-kamp
Jaringan Dukungan Perdamaian Karen mengatakan ribuan penduduk desa mengungsi ke kamp-kamp pengungsian di sisi Myanmar di Sungai Salween.
Mereka akan melarikan diri ke Thailand jika pertempuran meningkat.
"Dalam beberapa hari mendatang, lebih dari 8.000 warga Karen di sepanjang sungai Salween harus mengungsi ke Thailand."
"Kami berharap bahwa tentara Thailand akan membantu mereka melarikan diri dari perang," kata kelompok itu dalam sebuah posting di Facebook.
Pejuang Karen pada hari Selasa melibas unit militer Myanmar di tepi barat Salween dalam serangan pra-fajar.
Karen mengatakan, 13 tentara dan tiga pejuang mereka tewas.
Serangan Udara di Perbatasan Thailand
Militer Myanmar merespons dengan serangan udara di beberapa daerah dekat perbatasan Thailand.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan, 2.267 warga sipil telah menyeberang ke Thailand per Jumat dini hari sejak putaran terbaru konflik dimulai.
Thailand telah memperkuat pasukannya dan membatasi akses ke perbatasan.
Penduduk dua desa Thailand yang dekat dengan perbatasan juga telah mengungsi, juru bicara kementerian Tanee Sangrat mengatakan.
"Situasinya telah meningkat sehingga kami tidak bisa kembali," kata Warong Tisakul, 33, seorang penduduk desa Thailand dari Mae Sam Laep, sebuah pemukiman, yang sekarang ditinggalkan, di seberang pos tentara Myanmar yang diserang minggu ini.
Bentrokan berat juga telah terjadi di utara Myanmar antara pasukan pemerintah dan pemberontak etnis Kachin.
Media melaporkan korban terbanyak ada di pihak pasukan pemerintah dalam beberapa hari terakhir.
Tetapi juru bicara kelompok pemberontak Tentara Kemerdekaan Kachin mengatakan, dia tidak dapat mengkonfirmasi angka apa pun.
"Akan ada korban di kedua belah pihak karena ada pertempuran," kata juru bicara, Naw Bu, melalui telepon.
Karen, Kachin dan beberapa kelompok etnis pemberontak lainnya telah ikut ambil bagian untuk mendukung para demonstran pro-demokrasi yang telah turun ke jalan-jalan di kota-kota di seluruh negeri untuk menentang kembalinya kekuasaan militer.
Pasukan keamanan telah membunuh sedikitnya 759 demonstran sejak kudeta, kata kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik. Reuters tidak dapat mengkonfirmasi korban jiwa.
Militer telah mengakui kematian beberapa demonstran, terbunuh setelah mereka memulai kekerasan, katanya.
Beberapa anggota pasukan keamanan juga telah tewas dalam mengawal aksi protes, kata militer.(Reuters/ Japan Times)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Militer dan Milisi Berperang, Ribuan Penduduk Myanmar Melarikan Diri ke Thailand, https://www.tribunnews.com/internasional/2021/04/30/militer-dan-milisi-berperang-ribuan-penduduk-myanmar-melarikan-diri-ke-thailand?page=2
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kudeta-militer-di-myanmar-membuat-resah-warga-dan-akan-mengungsi-ke-thailand.jpg)