Bagaimana Cara Membedakan Hadits Lemah dan Hadits Palsu? Ini Kata Buya Yahya Awas Haram Amalkannya
Lantas bagaimana membedakan antara hadits dhof dan hadits maudhu' atau hadits palsu? Begini penjelasan selengkapnya.
Penulis: Tria Agustina | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM - Bagaimana cara membedakan hadits dhoif dan hadits mauhdu? Begini jawaban Buya Yahya.
Hadits dhoif atau hadits lemah merupakan hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih dan hasan.
Hadits dhaif tidak sama dengan hadits maudhu’ atau palsu.
Hadits dhaif memang dinisbahkan kepada Rasulullah, tetapi perawi haditsnya tidak kuat hafalan ataupun kredibilitasnya, atau ada silsilah sanad yang terputus.
Hadist maudhu' adalah segala sesuatu (riwayat) yang disandarkan pada Nabi Muhammad SAW, baik perbuatan, perkataan, maupun taqrir secara dibuat-buat atau disengaja dan sifatnya mengada-ada atau berbohong.
Dengan kata lain hadits maudhu' jika diartikan yakni hadits palsu.
Lantas bagaimana membedakan antara hadits dhoif dan hadits maudhu' atau hadits palsu?
Berikut penjelasan selengkapnya yang disampaikan oleh Buya Yahya melalui tayangan YouTube Al-Bahjah TV.
Baca juga: Apa Hukum Bersalaman Selesai Sholat? Begini Penjelasan Lengkapnya, tak Seorang pun yang Mengharamkan
Dalam hal ini ada seorang jemaah yang mengajukan pertanyaan mengenai perbedaan antara hadits dhoif dan hadits maudhu'.
"Bagaimana cara membedakan hadits dhoif dan maudhu' dan boleh diterapkan nggak dalam kehidupan sehari-hari?," tanya seorang jemaah.
Begini penjelasan Buya Yahya seputar hadits dhoif dan hadits maudhu' alias hadits palsu.
"Ulama membagi-bagi hadits, ada hadits shohih, ada hadits hasan, ada hadits dhoif, ada hadits maudhu'," jelasnya.
"Hadits hasan dan hadits shohih disebut makbul (diterima), ini pembahasannya disebut dalam ilmu usl hadits," tambahnya.
"Akan disebut hadits shohih dengan syarat sanadnya sambung, perawinya harus memenuhi syarat-syaratnya, baru nanti tidak memenuhi syarat-syaratnya disebut hadits yang sesaat dhoif, sesaat maudhu'," terangnya.
"Maudhu' (palsu) adalah perawinya yang sama sekali nggak ada celah yang bisa diterima, pendusta, perawinya yang membawa adalah dusta, nggak bisa dipake," tambahnya.
"Maka kalo hadits maudhu' haram kita meriwayatkannya apalagi mengamalkannya, haram," jelasnya.
"Kemudian kalo hadits dhoif itu tidak semuanya harus ditolak, yang menjadi masalah di akhir zaman itu orang membagi hadits antara shohih dengan dhoif, eh tiba-tiba yang dhoif dimasukkan sebagai hadits maudhu', dzolim," paparnya.
"Bahkan hadits dhoif itu sendiri bisa jika saling menguatkan di antara yang lain naik lagi menjadi hasan, bisa menjadi hasan lighoirihi (hasan yang bisa diterima)," tutur Buya Yahya.
"Bisa saja, dhoif asalkan tidak parah dhoifnya, bisa digunakan kata Ibnu haja Al-Askolani bahwasanya bisa digunakan untuk amal dengn syarat tidak parah (misalnya perawinya bukan pendusta tapi dia lemah hafalannya atau bagaimana), maka bisa saja dipake," lanjutnya.
Baca juga: Hukum Khutbah Sebelum Sholat Tarawih Diperbolehkan Selama Perhatikan Hal Ini, Begini Kata Buya Yahya
"Maka hati-hati dengan hadits dhoif, tidak semua hadits dhoif bisa dipake, harus dibuang nggak, tapi ada sebagian yang memilah antara hadits shohih, ini silsilah hadits dhoif, kalo sudah hadits dhoif ini seolah-olah maudhu', nggak bener, hadits dhoif bukan maudhu," jelas Buya Yahya.
"Hadits dhoif dan maudhu' beda, maudhu' ialah hadits yang dibuat, banyak pendusta-pendusta hadits dari kalangan ahli Qur'an, karena Qur'an sudah banyak ditinggalkan orang, lalu dia membuat hadits-hadits palsu agar orang membaca Alquran, ini ada palsu, biarpun tujuannya baik tetep haram," jelasnya.
"Barangsiapa berdusta atas namaKu dengan sengaja, tempatnya di neraka," lanjutnya.
Ulama sudah menjelaskan dengan ilmu, kemudian dengan syarat-syarat.
"Makanya kita ini taklik di dalam ilmu hadits, mengatakan Imam Bukhari shohih, jangan sok jadi mustahid di sini jika tidak mengerti," ujar Buya Yahya.
Baca juga: Bagaimana Cara Membayar Fidyah yang Dikeluarkan untuk Satu Orang Miskin? Begini Takaran dan Porsinya
SUBSCRIBE US
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/buya-yahya-hadits.jpg)