Breaking News:

Virus Corona 19

HANYA 30 Menit Berjemur Sinar Matahari, Sel Virus Corona Rusak, Ahli Sebut Diluar Perkiraan

Tim ilmuwan baru-baru ini tampaknya melihat bahwa virus corona kemungkinan lebih rentan terhadap radiasi ultraviolet sinar matahari

Shutterstock
Ilustrasi Covid-19(Shutterstock) 

SRIPOKU.COM--Tim ilmuwan baru-baru ini tampaknya melihat bahwa virus corona kemungkinan lebih rentan terhadap radiasi ultraviolet sinar matahari, daripada yang telah diperkirakan sebelumnya. Insinyur mekanik UC Santa Barbara Paolo Luzzatto-Fegiz dan rekannya melihat inaktivasi virus corona delapan kali lebih cepat dalam percobaan, daripada yang diperkirakan dalam teori.

"Teori tersebut mengasumsikan bahwa inaktivasi bekerja dengan cara membuat UVB mengenai RNA virus, dan kemudian merusaknya," jelas Luzzatto-Fegiz.

Sinar UV, atau bagian spektrum ultraviolet, mudah diserap oleh basa asam nukleat tertentu dalam DNA dan RNA, yang dapat menyebabkannya terikat dengan cara yang sulit diperbaiki. Tapi tidak semua sinar UV itu sama. Gelombang UV yang lebih panjang, disebut UVA, yang mana tidak memiliki cukup energi untuk menimbulkan masalah.

Gelombang UVB jarak menengah di bawah sinar matahari, bertanggung jawab untuk membunuh mikroba, tapi menempatkan sel tubuh pada risiko kerusakan akibat sinar matahari. Sementara radiasi UVC gelombang pendek, telah terbukti efektif melawan virus seperti SARS-CoV-2, meskipun radiasi tersebut masih tersimpan dengan aman dalam cairan manusia. Tetapi jenis UV ini biasanya tidak bersentuhan dengan permukaan bumi, berkat adanya lapisan ozon.

"UVC sangat bagus untuk rumah sakit," kata rekan penulis dan ahli toksikologi Oregon State University, Julie McMurry.

Serta Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

"Tapi di lingkungan lain - misalnya, dapur atau kereta bawah tanah - UVC akan berinteraksi dengan partikulat dan menghasilkan ozon yang berbahaya." Melansir Science Alert, pada Juli 2020, sebuah studi penting menemukan, bahwa simulasi sinar matahari dengan cepat menonaktifkan SARS-CoV-2 di permukaan.

Menurut perkiraan mereka, 90 persen virus SARS-CoV-2 dinonaktifkan setiap 10-20 menit dalam air liur yang disimulasikan ketika terkena simulasi sinar matahari yang mewakili hari musim panas di permukaan laut. Bulan berikutnya, studi lain menghasilkan model teoritis yang menggambarkan inaktivasi SARS-CoV-2 oleh sinar matahari. Luzzatto-Feigiz dan tim membandingkan hasil keduanya.

Studi ini menemukan virus SARS-CoV-2 tiga kali lebih sensitif terhadap sinar UV di bawah sinar matahari daripada influenza A, dengan 90 persen partikel virus corona dinonaktifkan hanya dalam waktu setengah jam terpapar sinar matahari tengah hari di musim panas. Sebagai perbandingan, di musim dingin, partikel infeksius cahaya bisa tetap utuh selama berhari-hari. Perhitungan lingkungan yang dibuat oleh tim peneliti terpisah menyimpulkan molekul RNA virus sedang rusak secara fotokimia, secara langsung oleh sinar cahaya.

Ini lebih kuat dicapai dengan panjang gelombang cahaya yang lebih pendek, seperti UVC dan UVB. Karena UVC tidak mencapai permukaan bumi, mereka mendasarkan perhitungan paparan cahaya lingkungan mereka pada bagian gelombang menengah UVB dari spektrum UV.

Halaman
12
Editor: Wiedarto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved