Breaking News

Apa Itu Eating Disorder? Penyakit Mental yang Dialami Ilene, peserta Indonesia's Next Top Model

Penderita gangguan ini dapat mengonsumsi terlalu sedikit atau terlalu banyak makanan, dan terobsesi pada berat badan atau bentuk tubuhnya.

Tayang:
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Welly Hadinata
Tribunnews
Eating Disorder 

6. Avoidant/restrictive food intake disorder (GGA)

Avoidan atau gangguan asupan menghindari makanan (GGA) adalah gangguan makan yang menyebabkan orang kurang makan.

Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya minat pada makanan atau ketidaksukaan yang kuat terhadap tampilan, bau, atau rasa makanan tertentu.

Gejala gangguan makan atau eating disorder tipe ini adalah sebagai berikut:

Menghindari atau membatasi asupan makanan yang mencegah orang tersebut makan kalori atau nutrisi yang cukup

Kebiasaan makan yang mengganggu fungsi sosial normal, seperti makan dengan orang lain

Penurunan berat badan atau perkembangan yang buruk untuk usia dan tinggi

Kekurangan nutrisi atau ketergantungan pada suplemen atau selang makan

Penyebab Gangguan Makan

Sejauh ini, belum diketahui penyebab pasti gangguan makan. Namun seperti juga gangguan mental lain, gangguan makan bisa terjadi akibat kombinasi dari beberapa faktor, di antaranya:

Genetik
Beberapa kasus gangguan makan ditemui pada orang yang memiliki gen tertentu. Gen ini dapat mempermudah terpicunya gangguan makan.

Keturunan
Selain itu, gangguan makan juga umumnya dialami oleh orang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat gangguan yang sama.

Biologis
Perubahan zat kimia dalam otak dapat berperan menimbulkan gangguan makan.

Psikologis (kondisi mental)
Gangguan makan sering ditemukan pada orang yang juga mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan obsessive compulsive disorder.

Diagnosis Gangguan Makan

Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan makan jika gejalanya sudah berlangsung setidaknya selama 3 bulan.

Pada pemeriksaan awal, psikiater akan menggali lebih dalam mengenai cara pandang, perasaan, juga kebiasaan makan pasien untuk mengetahui sikap pasien terhadap makanan dan pola makannya.

Jika memang ada gangguan makan, psikiater akan melakukan pemeriksaan lain untuk mengetahui dampak dari gangguan makan tersebut.

Psikiater akan memeriksa tinggi dan berat badan, detak jantung, serta tekanan darah pasien. Psikiater juga akan mengamati ada tidaknya kekeringan pada kulit dan rambut serta kerapuhan pada kuku, yang merupakan dampak dari bulimia.

Baca juga: Lumpuh Gegara Disengat Tawon Ndas 4 Tahun Lalu, Begini Kondisi Kopka Ade Casmita: Harapan Masih Ada

Baca juga: Jarang Diketahui, Selain Puasa & Tarawih, Ini 5 Amalan Penting yang Bisa Dilakukan di Bulan Ramadhan

Baca juga: Duel Maut Rebutan Warisan di Desa SP Padang OKI, Masih Sepupu Hingga Tersangka Baru Setahun Kembali

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved