Apa Itu Eating Disorder? Penyakit Mental yang Dialami Ilene, peserta Indonesia's Next Top Model
Penderita gangguan ini dapat mengonsumsi terlalu sedikit atau terlalu banyak makanan, dan terobsesi pada berat badan atau bentuk tubuhnya.
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM - Beberapa waktu lalu acara Indonesia'S Next Top Model sempat dibuat heboh.
Hal itu lantaran Juri Indonesia'S Next Top Model sempat melontarkan kalimat yang dinilai menganggap sepele dengan masalah 'Mental Health'.
Hal itu dilakukan keduanya saat melakukan penjurian ajang pencarian model, Indonesia's Next Top Model.
Ucapan mereka saat mengomentari Ilene, salah satu peserta ajang itu seakan tak peka dengan kesehatan mental.
Ilene diketahui menderita kesehatan mental yang dinamakan eating disorder.
Baca juga: Lezatnya Cita Rasa Ayam Guling: Pertama di Palembang, Pilihan Menu Ayam Bakar Untuk Diet
Baca juga: BEDA Usia 30 Tahun, Jarang Disorot, Ini Dia Istri Yusril Ihza Mahendra: Blasteran Jepang Filipina
Baca juga: Lama di Penjara, Saipul Jamil Mendadak Ungkap Dendam ke Teman Sesama Artis, Akui Siap Balas Dendam
Lantas apa itu Eating Disorder? berikut penjelasannya.
Eating disorder atau gangguan makan merupakan kondisi psikologis yang menyebabkan munculnya kebiasaan makan tak sehat.
Melansir Alodokter, Penderita gangguan ini dapat mengonsumsi terlalu sedikit atau terlalu banyak makanan, dan terobsesi pada berat badan atau bentuk tubuhnya.
Ada beberapa jenis gangguan makan, namun tiga jenis yang paling sering dijumpai adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan.
Gangguan ini bisa saja terjadi pada usia berapa pun, namun lebih sering dialami oleh remaja, sekitar usia 13 hingga 17 tahun.
Penyebab gangguan makan ini biasanya merupakan gabungan dari faktor genetik, faktor biologis, serta masalah psikologi.
Untuk menanganinya, psikiater dapat melakukan psikoterapi, dan pemberian obat antidepresan atau antikecemasan.
Dengan kata lain, eating disorder adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan obsesi terhadap makanan atau bentuk tubuh.
Sehingga, eating disorder ini menjadi kondisi kesehatan mental yang kompleks dan seringkali memerlukan intervensi ahli medis dan psikologis untuk mengubahnya.
Melansir Kompas.com, Berikut ada 6 tipe eating disorder yang perlu diketahui.
1. Anorexia nervosa
Anorexia nervosa adalah tipe eating disorder atau gangguan makan yang paling banyak dikenal masyarakat.
Umumnya, gangguan makan atau eating disorder tipe anoreksia nervosa ini berkembang selama masa remaja atau dewasa muda, dan cenderung memengaruhi lebih banyak wanita daripada pria.
Orang dengan anoreksia, biasanya menganggap dirinya kelebihan berat badan, padahal mereka sangat kurus. Penderita anoreksia ini cenderung terus-menerus memantau berat badan mereka, menghindari jenis makanan tertentu dan sangat membatasi kalori mereka.
Sembari membatasi asupan makanan dan menurunkan berat badan, mereka juga akan melakukan diet, puasa atau olahraga berlebihan.
Bahkan, pada tipe individu binge eating dan purging akan makan besar, tetapi setelah itu memuntahkan semua makanannya atau mengonsumsi obat pencahar (diuretik) dan berolahraga berlebihan.
Sehingga, penderita anoreksia nervosa dapat membatasi asupan makanan mereka atau mengimbanginya melalui berbagai tindakan membuang asupan tersebut.
Gejala umum anoreksia nervosa yaitu sebagai berikut:
Menjadi sangat kurus dibandingkan dengan orang seusianya dan tinggi yang sama
Pola makan yang sangat terbatas
Ketakutan yang intens akan kenaikan berat badan atau terus menerus untuk menghindari kenaikan berat badan, meskipun berat badannya kurang
Enggan untuk mempertahankan berat badan yang sehat
Pengaruh berat badan atau bentuk tubuh yang dirasakan sebagai harga diri
Citra tubuh yang terdistorsi, termasuk penolakan menjadi sangat kurus
Baca juga: Lama di Penjara, Saipul Jamil Mendadak Ungkap Dendam ke Teman Sesama Artis, Akui Siap Balas Dendam
Baca juga: Aksi Pencurian di Jalan Sukabangun 2 Sukarami, Pelaku Enam Kali Turun Naik Motor Ambil Blower AC
Baca juga: Geser Tugas PPK dan PPS Untuk PSU PALI di 4 TPS, Masa Berlaku Satu Bulan Kerja: Honor Tetap Sama
2. Bulimia nervosa
Sama halnya dengan anoreksia, tipe eating disorder atau gangguan makan Bulimia nervosa ini juga cenderung banyak diderita oleh mereka dalam masa remaja dan awal masa dewasa, serta banyak dialami oleh wanita.
Akan tetapi, Bulimia nervosa ini sangat berlawanan dengan anoreksia. Jika penderita anoreksia sangat membatasi konsumsi pangannya, maka, penderita bulimia sering kali makan makanan dalam jumlah yang sangat banyak dalam jangka waktu tertentu.
Mereka akan makan sampai sekenyang mungkin, dan bahkan bisa lanjut terus atau tidak dapat berhenti ingin makan.
Orang dengan Bulimia nervosa juga sangat sulit mengontrol seberapa banyak mereka makan.
Namun, setelah makan mereka akan membersihkan asupan tersebut dengan muntah paksa, puasa, konsumsi obat pencahar, diuretik, enema dan olahraga berlebihan.
Gejala gangguan makan bulimia nervosa meliputi:
Periode makan berlebihan yang berulang dengan perasaan tidak terkontrol
Episode berulang dari perilaku membersihkan diri (mengeluarkan asupan) yang tidak tepat untuk mencegah penambahan berat badan
Harga diri yang terlalu dipengaruhi oleh bentuk tubuh dan berat badan
Takut naik berat badan, meski memili berat badan normal
3. Binge eating disorder
Binge eating disorder atau gangguan makan berlebihan adalah gangguan yang mirip dengan Bulimia atau suptipe makan berlebihan dari anoreksia.
Orang dengan binge eating disorder akan makan secara teratur, namun tidak terkendali dalam mengonsumsi makanan dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Akan tetapi, mereka tidak membersihkan diri atau memaksa mengeluarkan asupan tersebut.
Gejalanya adalah seperti berikut:
Makan makanan dalam jumlah besar dengan cepat, diam-diam dan sampai kenyang, meski tidak merasa lapar
Merasa kurang kendali selama pesta makan
Perasaan tertekan, seperti malu, jijik atau bersalah, ketika memikirkan tentang perilaku makan berlebihan
Tidak menggunakan tindakan seperti pembatasan kalori, muntah, olahraga berlebihan, atau penggunaan pencahar (diuretik) untuk mengimbangi binging
4. Pica
Pica adalah gangguan makan yang cenderung menginginkan dan memakan zat non-makanan.
Penderita pica membutuhkan zat non-makanan seperti es, kotoran, tanah, kapur, sabun, kertas, rambut, kain, wol, kerikil, deterjen, atau tepung maizena.
Gangguan ini dapat menyerang anak-anak, wanita hamil dan individu disabilitas mental.
Baca juga: TIRULAH Rasulullah SAW, Wasiat Orangtua Atta Halilintar: Bina Rumah Tangga Bukan karena Materi
Baca juga: Sebanyak 20 Pejabat Istana Ditangkap Karena Merencanakan Kudeta, Mau Gulingkan Pemerintahan Dinasti
Baca juga: Viral Truk Buang Sampah Kelapa di Jalan Lintas Indralaya - Prabumulih: tidak Merasa Berdosa
5. Gangguan ruminasi (Rumination disorder)
Orang dengan kondisi gangguan ruminasi umumnya akan memuntahkan makanan yang baru saja mereka telan. Kemudian, mereka mengunyahkannya lagi dan menelannya atau memuntahkannya.
Eating disorder dengan tipe Rumination disorder ini dapat memengaruhi orang di semua tahap kehidupan, baik pada masa bayi, kanak-kanak atau dewasa.
Orang dewasa dengan kelainan ini mungkin membatasi jumlah makanan yang mereka makan, terutama di tempat umum. Hal ini dapat menyebabkan mereka menurunkan berat badan dan menjadi kurus.
6. Avoidant/restrictive food intake disorder (GGA)
Avoidan atau gangguan asupan menghindari makanan (GGA) adalah gangguan makan yang menyebabkan orang kurang makan.
Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya minat pada makanan atau ketidaksukaan yang kuat terhadap tampilan, bau, atau rasa makanan tertentu.
Gejala gangguan makan atau eating disorder tipe ini adalah sebagai berikut:
Menghindari atau membatasi asupan makanan yang mencegah orang tersebut makan kalori atau nutrisi yang cukup
Kebiasaan makan yang mengganggu fungsi sosial normal, seperti makan dengan orang lain
Penurunan berat badan atau perkembangan yang buruk untuk usia dan tinggi
Kekurangan nutrisi atau ketergantungan pada suplemen atau selang makan
Penyebab Gangguan Makan
Sejauh ini, belum diketahui penyebab pasti gangguan makan. Namun seperti juga gangguan mental lain, gangguan makan bisa terjadi akibat kombinasi dari beberapa faktor, di antaranya:
Genetik
Beberapa kasus gangguan makan ditemui pada orang yang memiliki gen tertentu. Gen ini dapat mempermudah terpicunya gangguan makan.
Keturunan
Selain itu, gangguan makan juga umumnya dialami oleh orang yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan riwayat gangguan yang sama.
Biologis
Perubahan zat kimia dalam otak dapat berperan menimbulkan gangguan makan.
Psikologis (kondisi mental)
Gangguan makan sering ditemukan pada orang yang juga mengalami gangguan kecemasan, depresi, dan obsessive compulsive disorder.
Diagnosis Gangguan Makan
Seseorang dapat dikatakan mengalami gangguan makan jika gejalanya sudah berlangsung setidaknya selama 3 bulan.
Pada pemeriksaan awal, psikiater akan menggali lebih dalam mengenai cara pandang, perasaan, juga kebiasaan makan pasien untuk mengetahui sikap pasien terhadap makanan dan pola makannya.
Jika memang ada gangguan makan, psikiater akan melakukan pemeriksaan lain untuk mengetahui dampak dari gangguan makan tersebut.
Psikiater akan memeriksa tinggi dan berat badan, detak jantung, serta tekanan darah pasien. Psikiater juga akan mengamati ada tidaknya kekeringan pada kulit dan rambut serta kerapuhan pada kuku, yang merupakan dampak dari bulimia.
Baca juga: Lumpuh Gegara Disengat Tawon Ndas 4 Tahun Lalu, Begini Kondisi Kopka Ade Casmita: Harapan Masih Ada
Baca juga: Jarang Diketahui, Selain Puasa & Tarawih, Ini 5 Amalan Penting yang Bisa Dilakukan di Bulan Ramadhan
Baca juga: Duel Maut Rebutan Warisan di Desa SP Padang OKI, Masih Sepupu Hingga Tersangka Baru Setahun Kembali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/eating-disorder.jpg)