Breaking News:

Disbun Minta Perbankan Aktif Salurkan KUR untuk Petani Karet , Dorong Pertumbuhan UPPB Baru

Dinas perkebunan meminta perbankan giat mengucurkan KUR untuk petani karet,bantuan permodalan itu diperlukan untuk memacu pertumbuhan UPPB

Penulis: Jati Purwanti | Editor: Azwir Ahmad
sripoku.com/jati
Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Rudi Arpian 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Selatan meminta perbankan untuk aktif memberikan kredit usaha rakyat (KUR) untuk mendorong pertumbuhan Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB).

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Rudi Arpian, mengatakan dengan adanya bantuan permodalan dari perbankan dapat memicu penambahan UPPB baru. Saat ini di Sumsel baru ada 279 UPPB yang tersebar di 14 Kabupaten dan kota. 

"Saya pernah menyampaikan ini saat ada rapat dengan OJK beberapa waktu lalu. Namun, hanya ada satu perbankan yang menyatakan siap sebab masih terkendala dengan ketersediaan kantor cabang di daerah," katanya, Jumat (19/2/2021).

Rudi menyebutkan, pihaknya pun mendorong UPPB untuk memanfaatkan Dana KUR (Kredit Usaha Rakyat). Dengan Dana tersebut UPPB dapat memberikan pinjaman dana talangan kepada petani tradisional yang membutuhkan uang di muka dan pada saat lelang mingguan, dua mingguan maupun lelang bulanan uang tersebut dapat dikembalikan.

Saat tergabung di UPPB, petani tradisional diajarkan untuk menggunakan bahan pembeku anjuran, termasuk edukasi kerugian apabila mereka merendam atau mencampur karetnya dengan bahan bukan karet.

Menurut Rudi, saat ini petani di Sumsel makin tertarik untuk bergabung atau membentuk UPPB baru karena dinilai lebih menguntungkan sehingga total UPPB terus bertambah.

"Untuk Target di Tahun 2022 kita naikkan dari 50 UPPB baru menjadi 75 UPPB, walaupun dengan anggaran yang semakin kecil dibandingkan dengan ketersediaan anggaran di Tahun 2021," jelas Rudi.

Sejak masa pendemi Covid-19 harga di Pasar Internasional mendapat harga keseimbangan baru, Supply sama dengan Demand, dimana Permintaan Industri Hilir berbahan baku karet lagi menurun dan Produksi karet dari negara negara produsen pun saat ini menurun, akibat penyakit gugur daun tahun lalu belum pulih dan Cuaca ekstrim di negara produsen karet

Untuk Sumatera Selatan harga free on board (FOB) pada 18- 19 ribu per kg KKK 100 persen sudah cukup baik. Harga ini  berlangsung sejak Minggu kedua bulan Oktober sampai minggu ketiga bulan Februari 2021.

Di tingkat kelembagaan petani UPPB harga saat ini berfluktuasi antara Rp9 ribu hingga Rp11 ribu per Kg untuk karet Mingguan dengan kadar KK antara 50-60 persen. Sementara di luar UPPB, petani Tradisional (+75 persen dari Jumlah KK Petani Karet) hanya menikmati harga Rp6 ribu hingga Rp8 ribu per kg. Hal ini disebabkan oleh KK karet yang dihasilkan kurang 50 persen.

Rudi menjelaskan, harga karet di tingkat petani lebih rendah disebabkan karena umur simpan bokar yang tidak sampai satu minggu atau biasanya hanya berumur 2-3 hari sudah dijual mengingat kebutuhan rumah tangga yang mendesak. 

"Lebih parah lagi masih adanya kebiasaan petani merendam karet ke dalam kolam serta tidak menjaga kebersihan karet dari tatal dan tanah," jelas Rudi.(mg3)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved