Petani Pagaralam Menjerit, Mayoritas Harga Sayur Mayur Anjlok
Petani Pagaram awal tahun ini menjerit karena hampir semua harga sayur mayur anjlok. Harga jual tidak sesuai dengan biaya perawatan tanaman
Penulis: Wawan Septiawan | Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Berbeda dengan harga karet yang menunjukan tren naik pada awal tahun ini, yang memberikan harapan bagi petani karet.
Bagi petani sayur di Pagaralam awal tahun ini dipastikan banyak yang merugi, mereka menjerit karena hampir semua harga mayoritas sayur mayur anjlok akibat berkurangnya permintaan.
Bahkan harga jual sayur mayur tersebut jauh dari biaya perawatan yang dikeluarkan petani.
Informasi yang dihimpun sripoku.com dari Pasar Nendagung, saat ini ada beberapa jenis sayur yang harganya sangat anjlok seperti Bunga Kol yang hanya 5.000 per kilogram, padahal sebelumnya Rp10.000 per kilogram.
Kemudian Daun Sop dari Rp 4.000 menjadi Rp1.000 per kilogram,begitu pula harga Sayur Bicai hanya Rp10.000 per tiga ikat.
Lebih parah lagi harga tomat yang tinggal Rp 250 per kilogram. Saat ini harga per kotak dengan berat 70 kilogram hanya Rp15.000 saja.
Kondisi ini membuat banyak petani dan pedagang terpaksa membuang tomat ketempat sampah karena tidak laku dan busuk.
Wati (47) salah satu pedagang di Pasar Nendagung mengatakan, hampir semua komoditi sayur harganya anjlok. Hal ini disebabkan tidak ada permintaan di Pasar Induk Jakabaring Palembang.
"Anjlok semua harga sayur sekarang dek mulai dari daun Sop, kembang Kol sampai Bicai yang anjlok lebih dari 50 persen," ujarnya.
Lebih parah harga tomat yang semula Rp 7.000 per kilogram ditingkat pasar saat ini hanya tinggal Rp 2.000 . Bahkan jika ditingkat petani hanya Rp250 perkilonya karena satu kotak hanya dihargai Rp15.000 perkotak dengan berat 70 kilogram perkotak.
"Tomat banyak busuk dan terpaksa dibuang karena harnya anjlok sekali dek. Bahkan lihat saja ditempat sampah sudah ada tomat yang dibuang karena busuk akibat tidak laku," katanya.
Sementara itu, Man (37) petani Tomat Pagaralam mengatakan, pihaknya dipastikan akan merugi pasalnya harga jual ditingkat petani yang sangat anjlok.
"Kemarin saya jual masih Rp400 per kilogram dan hari ini kabarnya tinggal Rp 250 perkilogram karena perkotaknya hanya Rp15 ribu. Meskipun harga anjlok kami akan tetap menjual karena untuk menutupi biaya pemeliharaan dan biaya angkut," ungkapnya.(one)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/1sayur.jpg)