75 Tahun Berlalu, Penculikan Alien Terhadap 5 Pesawat Bomber AS di Segitiga Bermuda Masih Dikenang

Tetapi mereka menilai ada mahkluk asing atau alien yang sudah menguasai teknologi canggih menghuni kawasan Segitiga Bermuda tersebut.

Editor: Hendra Kusuma
ist
75 Tahun Berlalu, Penculikan Alien Terhadap 5 Pesawat Bomber AS di Segitiga Bermuda Masih Dikenang 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Setelah 75 tahun berlalu, namun kejadian buruk yang menimpa 5 Pesawat Bomber Terpedo masih dikenang.

Khususnya Amerika Serikat memang tak dapat melupakan bagaimana 5 Pesawat Bomber Terpedo yang mereka banggakan tersedot medan magnetik di kawasan Segitiga Bermuda - Samudra Atlantik.

Banyak pula yang menyebutkan, jika Segitiga Bermuda itu tak hanya sekadar memiliki medan magnetik yang kuat untuk menyedet benda apa saja yang melintas.

Tetapi mereka menilai ada mahkluk asing atau alien yang sudah menguasai teknologi canggih menghuni kawasan Segitiga Bermuda tersebut.

Kini semuanya tinggal kenangan, sebab sudah 75 berlalu, namun bagi Amerika Serikat menjadikan ini sebagai pelajaran dan penelitian.

Sebab hingga kini tak ada yang tahu mengenai Segitiga Bermuda, bagaimana isi di dalam pusaran yang disebut-sebut dominasi oleh ribuan medan magnetik.

Berikut fakta dan kronolgis75 Tahun Berlalu, Penculikan Alien Terhadap 5 Pesawat Bomber AS di Segitiga Bermuda Masih Dikenang.

Hari ini 75 tahun yang lalu, tepatnya pada 5 Desember 1945, lima pesawat bomber torpedo milik Amerika Serikat menghilang di Segitiga Bermuda.

Dilansir dari History, pukul 14.10 waktu setempat, lima pesawat bomber torpedo atau torpedo-bombers milik AS yang terdiri dari Flight 19 lepas landas dari Bandar Udara Angkatan Laut Fort Lauderdale di Florida dalam misi latihan rutin selama 3 jam.

Saat itu, Flight 19 dijadwalkan membawa skuadron ke timur sejauh 120 mil, ke utara sejauh 73 mil, dan menempuh 120 mil untuk kembali ke pangkalan angkatan laut.

Dua jam setelah dimulai, pemimpin skuadron melaporkan kompas dan kompas cadangan tidak dapat berfungsi, sehingga posisinya pun tidak dapat diketahui.

Untuk diketahui, pemimpin skuadron tersebut sejatinya telah terbang di daerah tersebut selama lebih dari enam bulan.

Pesawat lainnya pun melaporkan malfungsi alat yang sama.

Fasilitas radio di darat telah dihubungi untuk menemukan lokasi dari skuadron yang hilang. Namun, tidak ada yang berhasil.

Setelah lebih dari dua jam, pada pukul 18.20, terdengar sebuah transmisi radio yang terdistorsi dari pemimpin skuadron yang menyerukan anak buahnya untuk bersiap-siap pergi dari pesawat secara bersamaan karena kekurangan bahan bakar.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved