Pemilu AS

Pemilu AS: Facebook Blokir Akun Grup @Stop The Steal, Serukan Angkat Senjata

PIHAK facebook memblokir akun grup @Stop Teh Steal karena berisi konten ajakan aksi bersenjata untuk mempertahankan Gedungn Putih.

Editor: Sutrisman Dinah
Istimewa/handout
Joe Biden 

SRIPOKU.COM --- Grup Facebook bernama Stop The Steal dilaporkan mengajak anggotanya untuk menyiapkan senjata, jika calon presiden petahana Donald Trump kehilangan upaya mempertahankan Gedung Putih.

Kabar itu mengemuka sebelum Facebook akhirnya memblokir Grup Facebook tersebut pada Kamis lalu. 

Facebook menyebut forum tersebut berupaya untuk mendelegitimasi proses pemilu AS.

Perusahaan media sosial itu juga mengkhawatirkan adanya seruan untuk melakukan kekerasan dari beberapa anggota grup tersebut.

 

Dilansir dari Reuters, seperti dikutip Tribunnews.com di Jakarta, seruan kekerasan melalui grup facebook memang sering ditemukan menjelang pemilu AS.

Sebuah survei yang berfokus pada grup Facebook di AS antara September dan Oktober menemukan retorika dengan nada kekerasan pada ribuan grup publik yang memiliki jutaan anggota dan berorientasi politik.

Baca juga: Pendukung Joe Biden Menari di Jalan, Kubu Trump Bawa Senjata

Baca juga: Jika Donald Trump Menolak Kekalahan, Ini yang Akan Terjadi Menurut Pengamat Politik AS

Survei tersebut dilakukan oleh perusahaan intelijen digital CounterAction atas permintaan Reuters.

Variasi dari dua puluh frasa yang dapat dikaitkan dengan seruan untuk kekerasan muncul bersama dengan referensi hasil pemilu di sekitar 41.000 grup facebook publik yang berbasis di AS selama dua bulan.

Frasa-frasa kekerasan seperti "tembak mereka" dan "bunuh mereka semua", digunakan di dalam grup publik setidaknya masing-masing 7.345 kali dan 1.415 kali, menurut CounterAction.

Frasa "gantung dia" juga muncul di grup-grup sebanyak 8.132 kali.

Facebook mengatakan sedang meninjau temuan CounterAction yang dibagikan Reuters dengan perusahaan tersebut.

Juru Bicara Facebook Dani Lever mengatakan, pihaknya akan mengambil sejumlah tindakan, termasuk di grup Facebook, agar dapat mengurangi kerugian dunia nyata dan kerusuhan sipil.

Perusahaan menolak untuk mengatakan apakah contoh yang dibagikan oleh Reuters melanggar aturan yang ditetapkan Facebook.

Facebook juga mengumumkan perubahan kebijakan sejak musim panas lalu yang bertujuan untuk membatasi "gerakan sosial militer," termasuk milisi AS, jaringan Boogaloo, dan gerakan konspirasi QAnon.

Perusahaan tersebut mengatakan, telah menghapus 14.200 grup atas dasar perubahan kebijakannya sejak Agustus.

Berbagai seruan kekerasan semakin bermunculan selama proses penghitungan surara hasil Pemilu Presiden 2020, Selasa lalu. Sampai sejauh ini, dari hasil penghitungan suara dan suara ELctoral College, calon presiden AS dri Partai Demokrat Joe Biden diproyeksikan unggul.

Joe Biden telah mengantongi suara elektoral 264 suara atau kurang enam suara untuk mencapai ambang batas kemenangan 270 suara Electoral College. Sementara calon presiden petahana dari Partai Republik Donald Trump telah mengumpulkan 214 suara elektoral.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved