Pemilu AS
Eric Trump: Ada Konspirasi "Pulpen Sharpie", Pemilu AS Semakin Panas
DITENGAH penghitungan hasil Pemilu AS yang belum final dan skenario "kiamat", kini beredar rumor konspirasi "pulpen sharpe".
SRIPOKU.COM --- Penghitungan suara hasil pemilihan umum presiden Amerika Serikat (AS) yang belum tuntas, dan kubu pasangan calon petahana Donald Trump, menuntut dihentikannya rekapitulasi suara.
Tuntutan kubu pasangan calon dari Partai Republik Donald Trump-Mike Pence ini, sebagai reaksi atas perolehan suara pasangan calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden-Kamala Harris. Peroleh calon persiden Joe Biden diluar prediksi analis politik dan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris, sementara unggul 264 - 214 atas Donald Trump.
Tuntutan penghentian penghitungan suara dari kubu Donald Trump melalui Supreme Court, dianggap tidak menghormati suara rakyat Amerika. Tuntutan Presiden Donald Trump memuncul reaksi demontrasi warga AS di berbagai kota, agar seluruh suara dihitung, tagline "vote must be count", hitung semua suara, bermunculan.
Situasi semakin memanas, dengan munculnya rumo "Konspirasi Pulpen Sharpie". Penghitungan suara yang terganggu dan belum rampung, melahirkan satu teori konspirasi yang diyakini pendukung Donald Trump terkait penggunaan pulpen Sharpie di tempat pemungutan suara.
Seperti dilansir jaringan CNN, rumor tersebut --yang kemudian disebarkan oleh Eric Trump di Twitter. Petugas pemungutan suara dituding memberikan pulpen Sharpie kepada pendukung Trump untuk menandai pilihan di kertas suara.
Baca juga: Donald Trump Semakin Berang, Tuntut Hitung Ulang di Tiga Negara Bagian
Baca juga: Masih Ada Jutaan Surat Suara Lagi yang Belum Dihitung, Donald Trump Klaim Menang Pilpres
Inilah masalahnya, tinta pulpen Sharpie itu diklaim tidak dapat terbaca mesin penghitung suara.
Isu ini kemudian beredar di Arizona, negara bagian AS yang selisih suara antara Joe Biden dan Donald Trump hanya di kisaran 68 ribu.
Sejumlah media enggan menyatakan Biden sebagai pemenang di sana, meski kantor berita Associated Press (Amerika) Adan AFP (Perancis), telah menyimpulkan Arizona dimenangi oleh pasangan Biden-Harris.
Isu teori konspirasi #SharpieGate ini sudah dibantah oleh pemerintah Arizona. Dikatakan, penggunaan pulpen Sharpie ini dipilih karena tinta pulpen tersebut lebih mudah kering dan tidak bocor. Namun mereka menegaskan, kertas suara yang ditandai tinta Sharpie, terbaca mesin penghitung.
Situasi memanasnya suhu Pemilu AS 2020, sejak awal sudah diprediksi kalangan analis. Beberapa minggu menjelang pemilu, Donald Trump telah mengatakan bahwa jika selisih perolehan suara dalam pemilihan presiden tipis.
Sejak dini ia menuduh lawannya dari Partai Demokrat, melakukan kecurangan pemilu dan berusaha mencuri kemenangan darinya. Bahkan sehari menjelang hari pemilihan Selasa (3/11)), Trump memberi sinyak akan menolak hasil Pemilu 2020 apabila ia kalah.
Kekhawatiran sejumlah analis politik di AS, kubu Donald Trump akan mendeklarasikan kemenangan sebelum penghitungan suara selesai. Hal yang dikekhawatirkan analis, menjadi kenyataan.
Rabu (04/11) dini hari atau Rabu malam WIB, Donald Trump mendeklarasikan kemenangan di Gedung Putih dihadapan pendukungnya dan media. Padahal, saat itu jutaan surat suara yang sah belum selesai dihitung, ia mengumumkan kemenangannya sebelum waktunya.
"Kami sudah bersiap-siap untuk memenangkan pemilihan ini. Terus terang, kami sudah memenangkan pemilihan ini," kata Trump dalam pidato di Gedung Putih, seperti dikutip BBCNews.
Tanpa memberikan bukti apapun, Trump yang didampingi Mike Pence, melanjutkan dengan klaim bahwa telah terjadi "kecurangan" pemilu. Ia menuduh itu dilakukan kubu Partai Demokrat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/joe-biden-pecahkan-rekor-barack-obama-untuk-usir-donald-trump-dari-gedung-putih-berikut-rinciannya.jpg)