UU Cipta Kerja
Pelaja STM Ingin Merasakan Rusuh, Ikut Unjukrasa UU Cipta Kerja
Puluhan pelajar STM dan SMA saat unjukrasa menolak UU Cipta Kerja yang berakhir rusuh, mengaku sekadar ingin merasa kerusuhan.
Selain membuat postingan bernada provokasi seperti panggilan untuk turun ke jalan menuju Istana Negara, para admin ini juga menyerukan agar pelajar yang turun ke jalan membawa beberapa peralatan seperti petasan, molotov, senter laser, dan ban bekas.
Dari penangkapan dan pemeriksaan pelajar itu, Nana tetap meyakini adanya keterlibatan kelompok anarko. “Ini admin kelompok anarko atas nama, atau yang berumur MR (17) ini masih pelajar, dan terus kita kembangkan baik dari pelajar dan kelompok anarko masih kita kembangkan untuk cari siapa penggeraknya,” katanya.
“Jadi begini, anarko ini kan dari kata anarkis, mereka menginginkan kebebasan dan kekerasan, yang mereka anti kemapanan lah,” kata Nana.
Di sisi lain, kelompok ini ternyata juga memahami kecurigaan polisi. Beberapa aksi terakhir, mereka mengubah siasat dengan mengelabui polisi dengan menghilangkan lambang dan menanggalkan atribut saat turun ke jalan, termasuk simbol A yang dilingkari.
“Mereka punya lambang, A dilingkari. Mereka selalu menggunakan seragam hitam-hitam. Tapi setelah diketahui, mereka berupaya menghilangkan identitas tersebut. Mereka melakukan kegiatannya tidak pakai lambang dan seragam yang ada, mereka mengarah ke yang mereka sampaikan, yaitu ke media sosial,” kata Nana.****
_______________________
Sumber: (Tribun network/dng/dod)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/bakar-halte.jpg)