UU Cipta Kerja

Pelaja STM Ingin Merasakan Rusuh, Ikut Unjukrasa UU Cipta Kerja

Puluhan pelajar STM dan SMA saat unjukrasa menolak UU Cipta Kerja yang berakhir rusuh, mengaku sekadar ingin merasa kerusuhan.

Editor: Sutrisman Dinah
Tribunnews.com
Halte bus TransJakarta di Jl Thamrin dibakar pengunjukrasa menolak UU Cipta Kerja 

SRIPOKU.COM -- Puluhan pelajar sekolah menengah yang ditangkap terkait aksi unjukrasa menolak omnibus law Undang-undang Cipta Kerja, pekan lalu,  mengaku sekadar ingin merasakan suasana kerusuhan. Mereka tidak tahun UU Cipta Kerja, karena hanya ikut-ikutan.

“Ya, dari beberapa orang yang kami periksa, mereka diajak, solidaritas sesam teman. Ajakan  disampaikan lewat WA (WhatsUp), merasa ada kesamaan, satu rasa gitu. Kalau mereka turun, mereka akan turun,” kata Kapolda Metro Jaya, Irjen Nana Sudjana dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/10).

“Mereka lebih banyak dari ajakan. Ada rasa ingin mengetahui, ingin tahu bagaimana aksi demo itu, juga ingin merasakan kalau demo rusuh itu seperti apa. Makanya dalam aksi demo itu mereka selalu melempari aparat polisi, mereka selalu memancing,” kata Nana.

Dikatakan, sebagian besar pelajar yang tertangkap itu, tidak tahu apa itu Omnibus Law. Para pelajar tersebut mengaku tidak mengerti tuntutan yang disampaikan. Rata-rata pelajar hanya ikut-ikutan karena terprovokasi akun ‘STM Se-Jabodetabek’.

Kepolisian menangkap sebanyak 2.667 orang terkait aksi unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja yang berujung rusuh pada awal dan pertengahan Oktober 2020. Ribuan yang ditangkap itu, diduga terlibat aksi unjuk rasa pada tanggal 8, 13, dan 20 Oktober.

Mereka juga kedapatan merusak, melempar dan membakar sejumlah fasilitas publik seperti halte Transjakarta, mini ekskavator proyek MRT Jakarta maupun aksi vandalisme.

“Adanya pelemparan, perusakan, dan oembakaran fasilitas umum, pos polisi dan beberapa kendaraan,” kata Kapolda Metro Jaya.

Dari 2.667 orang yang ditangkap, 143 di antaranya ditetapkan tersangka. Kemudian, dari 143 tersangka itu, 67 orang ditahan.

Terhadap 67 tersangka yang ditahan, mereka dijadikan dua kelompok. Kelompok pelaku di lapangan, yakni merusak fasilitas publik. Sedangkan kelompok kedua, pelaku yang menggerakkan massa untuk berbuat anarkis, sengaja sengaja mengunggah, dan menyebarkan seruan aksi rusuh di media sosial.

“Kelompok pelaku lapangan yang melempar, merusak, membakar di beberapa TKP seperti gedung di ESDM, halte busway, dan pos polisi,” kata Nana.

Dari kelompok kedua, polisi menangkap tiga admin dan kreator media sosial yang menyebarkan ajakan provokatif sehingga pelajar ini berbuat rusuh dan anarkistis.

“Tiga orang kami tangkap dan hasil pengembangan berinisial FI, MM, dan MA. Ini mereka yang selama ini membuat dan merupakan kreator, mereka adalah kreator dan Admin WA Grup (WAG) Jakarta Timur, ini juga terkait Omnibus Law itu,” kata Nana.

Dari tiga orang itu, polisi menangkap dua orang lagi. Yakni kreator dan admin dari WhatsApp Group bernama STM se-Jabodetabek. Mereka adalah AP dan FS.

“Dari 2 orang ini kami kembangkan, kami tangkap 1 orang MAR, ini yang merupakan admin admin dari WAG STM se-Jabodetabek,” kata Nana.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved