Hubungan Minangkabau dan Sriwijaya

Menelisik Hubungan Antara Minangkabau dan Sriwijaya

Bicara Minangkabau kita tidak dapat melupakan Kerajaan Sriwijaya yang berkembang semenjak abad ke-7 dan mulai menurun abad ke-13.

Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
ist
Albar S Subari SH, MH 

SRIPOKU.COM --Bicara Minangkabau (baca sejarah Sumatera Barat), kita tidak dapat melupakan Kerajaan Sriwijaya yang berkembang semenjak abad ke-7 dan mulai menurun abad ke-13.

Menurut Ketua Pembina Adat Sumatera Selatan Albar S Subari SH, MH Jumat (19/9) kerajaan ini didirikan oleh Dapunta Hiyang yang memimpin pasukan terdiri dari 20.000 orang, naik sampan dan mendirikan kerajaan Sriwijaya yang mendapatkan berkah.

Rombongan ini sebagian terus ke selat Malaka dan selat Sunda untuk menguasai perdagangan di Asia Tenggara pada waktu itu.

Berita ini ditemui dalam prasasti Kedukan Bukit (634M)  yang menyebutkan rombongan itu bertolak dari Minanga Tamwan yang artinya pertemuan (orang) Minang, dekat Pusat Listrik Tenaga Air Koto panjang sekarang.

Semenjak abad ke 13 kerajaan Sriwijaya mulai mundur. K

erajaan Melayu yang berada du pantai Timur Sumatra mulai melepaskan diri dari Sriwijaya.

tahun 1275 datang sebuah ekspedisi Kerajaan Singosari ke kerajaan Melayu Darmasraya yang terletak disekitar sungai Langsek, kabupaten Sawah Lunto Sijunjung sekarang.

Mulai saat itu, nama Melayu Darmasraya yang kemudian menjadi Melayu Minangkabau.

Ekspedisi Pamalayu ini kembali ke tanah Jawa pada tahun 1292 bersama dua orang putri Melayu, Dara Petak dan Dara Jingga ( baca dalam kitab Pararaton, sebuah kitab sejarah kuno).

 Dara Petak menjadi permaisuri raja Majapahit Pertama, Raden Wijaya, perkawinan mereka melahirkan putra mahkota  Jayanegara yang kemudian menjadi raja Mojopahit kedua.

Dara jingga kawin dengan seorang Manti, seorang perantau Minang yang disebut Dewa Tuan.

Tuanwan, wan artinya adalah gelar orang Sumatra dan lahirlah Adityawarman.

Adityawarman, putra siguntur dekat sungai Langsek, lahir pada tahun 1294.

Nama Adityawarman terpatri dalam prasasti Manjusri du candi Jago Malang Jawa Timur yang menyebutkan  bahwa Adityawarman berada di kerajaan Rajapatni yang dianggap saudra sendiri.

Ia juga membangun sebuah candi Buddha untuk memudahkan pemindahan arwah orang tua dan kerabatnya dari alam dunia ke alam nirwana hal ini terjadi pada tahun 1265 saka atau 1332 M.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved