Perbankan Harus Beradaptasi, Merubah Pola dan Strategi Layani Masyarakat Pada Masa Pandemi

Dunia Perbankan harus beradaptasi lakukan digitalisasi adapatasi perubahan pola hidup masayarakat di era pandemi

Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Hari Widodo 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Perbankan harus bisa merubah pola dan strategi dengan adanya perubahan gaya hidup masyarakat dalam adaptasi pada masa Pandemi covid-19 .

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel Hari Widodo mengatakan, dampak pandemi mengakibatkan turunnya kinerja kredit. Karena dari sisi konsumsi rumah tangga turun sehingga aktivitas perbankan menjadi lebih terbatas.

Apalagi saat pelaksanaan PSBB, penurunan kedatangan wisatawan dan turunnys pendapatan masyarakat.

Sementara itu dari sisi inevstasi juga turun karena pelaku usaha cendrung menunggu situasi kondusif, belanja modal juga diakibatkan alokasinya untuk penanganan pandemi.

"Aktivitas ekonomi turun, pemerintaan masyarakat juga turun yang juga diikuti ekspansi usaha turun. Sehingga resiko pengembalian kredit naik dan menyebabkan pemerintaan kredit turun. Perbankan juga fokus pada proses restrukturisasi kredit dan penerapan prinsip kehati-hatian untuk menjaga kredit berkualitas," Hari disela Webminar adaptasi perbankan di masa New Normal, Kamis (27/8/2020).

Sementara itu Dirut Bank Sumsel Babel (BSB) Achmad Syamsudin mengatakan upaya BSB beradaptasi di tengah pandemi dengan memberikan restrukstusi kredit bagi UMKM yang terdampak pandemi.

Dari sisi teknologi dan layanan nasabah BSB menggalakkan penggunaan layanan non tunai dengan meresmikan BSB QRIS.
BSB QRIS memudahkan masyarakat bertransaksi di tengah pandemi tanpa harus menggunakan uang tunai dan juga bisa bertransaksi dari mana saja dan dimana saja.

"Layanan perbankan konvensional atau datang langsung ke kantor cabang juga turun karena sudah memasuki era digital. Ditengah pandemi sehingga membuat layanan mobile dan digital mutlak dibutuhkan dan itu sudah diterapkan di BSB," ujar Syamsudin.

Sementara itu Pengamat Ekonomi Universitas Sriwijaya Prof Bernande mengatakan pandemi mempengaruhi kebiasaan masyarakat, dari semula beraktivitas di luar dan melakukan transaksi tunai, kini beralih lebih banyak memanfaatkan teknologi dan di rumah saja. Sehingga transaksi keuangan juga berubah menjadi gerakan non tunai.

Oleh sebab itulah perbankan harus sigap mengahadapi fenomena ini dengan menggalakkan transaksi elektronik atau digitalisasi sehingga bisa menjawab kebutuhan masyarakat bertransaksi non tunai.

Sementara itu dari sisi penyaluran kredit. Pandemi juga memukul roda perekonomian karena sektor perdagangan besar dan retail sangat merasakan dampaknya karena turunnya daya beli masyarakat. Oleh sebab itu perbankan harus sigap menyikapi restrukturisasi kredit.

Bioskop di Jakarta Segera Dibuka Kembali, Ini Tanggapan Ahli Mikrobiologi Sumsel Prof Yuwono

OJK Dorong Percepatan Digitalisasi Perbankan di Sumsel

Rasio NPL Perbankan Diprediksi Alami Peningkatan, Begini Masalah Yang Terjadi Pada Debitur

Di tengah upaya beradaptasi dan memulihkan perekonomian nasional, perbankan dan semua pihak diminta agar tetap menerapkan protokol kesehatan karena semua krisis ini berawal dari kesehatan dan bergerak domino ke sektor lainnya.

"Perbankan diharapkan menjadi media utama untuk transfer knowledge terkait dengan teknologi informasi dan digitalisasi
ke masyarakat sekaligus menjadi agent of global market bagi dunia usaha terutama dalam masa adaptasi baru yang memunculkan banyak peluang baru dan memerlukan terobosan baru," tutupnya.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved