Breaking News:

Rasio NPL Perbankan Diprediksi Alami Peningkatan, Begini Masalah Yang Terjadi Pada Debitur

Rasio Kredit Macet (NPL) di perbankan diprediksi meningkat. Debitur mengalami masalah arus kas

Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM / Tatik
Pegawai bank BNI melayani nasabah 

SRIPOKU.COM, JAKARTA - Mayoritas perbankan sudah melakukan restrukturisasi kredit debitur terdampak Covid-19. Namun kebijakan tersebut tidak membantu menekan naiknya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL).

Diantara bank yang mengalami peningkatan rasio NPL salah satunya adalah Bank BNI. Pada Juni 2020, NPL BNI tercatat naik jadi 3% dari 1,8% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara restrukturisasi kredit yang sudah dilakukan bank ini terhadap debitur terdampak Covid-19 hingga akhir Juni sudah mencapai Rp 119 triliun.

Direktur Manajemen Resiko BNI,Osbal Saragih, menjelaskan, penyebab kenaikan NPL tersebut lantaran beberapa debitur yang mengalami masalah cash flow sebelum pandemi Covid-19 merebak.

"Setelah pandemi terjadi, arus kas debitur tersebut semakin terganggu dan berkembang menjadi kredit macet," katanya.

Dia katakan, BNI saat ini tengah melakukan proses restrukturisasi terhadap kelompok debitur tersebut dan itu tidak bisa masuk dalam relaksasi restrukturisasi yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena masalahnya sudah terjadi sebelum adanya Covid-19.

"Adapun sektor penyumbang utama dari kelompok itu adalah manufaktur, perdagangan, dan restoran,"kata Osbal pada Kontan.co.id, Senin (24/8).

BNI memperkirakan akan ada beberapa dari kelompok tersebut yang gagal melakukan restrukturisasi di paruh kedua tahun ini sehingga akan meningkatkan NPL. Oleh karena itu, bank ini memproyeksikan NPL akan di kisaran 3,7%-4,5% sampai akhir tahun.

Pandemi Covid-19 Perburuk Kinerja Perusahaan Pembiayaan, Permintaan Kredit Motor dan Mobil Lesu

Penukaran Uang Rp 75 Ribu Bisa Kolektif di Bank Indonesia, Ini Syarat dan Ketentuannya

Bank Sumsel Babel Menambah Fasilitas QRIS di Palembang Golf Course, akan Terus Perbanyak Merchant

Selain itu, lanjut Osbal, tingginya proyeksi NPL juga karena BNI telah memprediksi akan ada sekitar 6%-7% dari total yang sudah direstrukturisasi karena terdampak Covid-19 tidak bisa bangkit. Itu paling dominan berasal dari sektor jasa perhotelan dan restoran, serta sektor manufaktur.

Namun, untuk mengantisipasi peningkatan resiko kredit tersebut, BNI akan berupaya meningkatkan pencadangan yang imbasnya bisa semakin menekan perolehan laba tahun ini. Hingga akhir tahun, bank ini akan menjaga CKPN tidak terlalu jauh dari posisi Juni yakni 225%.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved