HUT Kemerdekaan RI

Kapten A Rivai Bombardir Pasukan Belanda di Perang 5 Hari 5 Malam,Putra Pangeran OKU Timur Itu Gugur

Kepahlawanan A Rivai tidak diragukan lagi. Bagaimanapun juga dia tercatat berada pada Front Charitas di bawah Batalyon 31/ XVII

Editor: Hendra Kusuma
Istimewa/handout
Foto Kapten A Rivai, pahlawan asal Palembang yang gigih mempertahankan kemerdekaan RI. Sejarah Kapten A Rivai Bombardir Kapal Belanda di Perang 5 Hari 5 Malam, Putra Pangeran OKU Timur Itu Gugur 

Namun hingga kini nama Kapten A Rivai memang tidak tercatat dalam sejarah Pahlawan Nasional, sebab berkaitan dengan  sejarah Perang 5 Hari 5 Malam, yang perlu dipertanyakan apakah masuk dalam sejarah nasional atau tidak. Sebab, banyak pahlawan asal Palembang yang menjadi pahlawan perintis kemerdekaan. Salah satunya yakni AS Macik yang merupakan sosok pahlawan perintis kemerdekaan dalam melawan penjajah.

Sebab hingga kini, pahlawan Palembang yang menyandang sebagai pahlawan nasional hanya ada dua.

“Perlu diketahui, pahlawan asal Palembang yang menyandang sebagai pahlawan nasional cuma ada dua, pertama Sultan Mahmud BAdaruddin II dan AK Gani,” ujarnya.

Putra Pangeran dari OKU Timur

Meski masih samar siapa sebenarnya Kapten A Rivai dalam sejarah Perang 5 Hari 5 Malam itu, namun beberapa nara sumber sedikit menguak siapa sebenarnya sang Kapten.

Dikutip dari Sripo cetak edisi 24 Agustus 2012 yang menghubungi langsung pelaku sejarah yakni, Drs Suhaimi Sai selaku pewawancara eks pejuang di Desa Campang Tiga dalam buku ‘Suntingan Perjuangan Rakyat Semendawai OKU Mei 1986’ mengungkapkan bahwa, Kapten A Rivai merupakan putera Pangeran Harun, asal Desa Cempaka OKU Timur.

Juga tidak diragukan lagi, Kapten A Rivai adalah pahlawan dalam Perang 5 Hari Lima Malam Palembang 1-5 Januari 1947 tersebut.(Suntingan Perjuangan Rakyat Semendawai OKU Mei 1986’)

Kembali kepada sosok Kapten A Rivai, berdasarkan hasil wawancara Suhaimi, bahwa dikatakan pada 28 Desember 1946 pukul 21.30, tentara Belanda yang dalam kondisi mabuk berat melanggar garis damarkasi yang telah ditentukan.

Hal ini memicu kemarahan para pejuang sehingga terjadi Perang 5 Hari 5 Malam Palembang.

Perang yang berlangsung ketat itu melibatkan Kapten A Rivai sejak 1 Januari. Disebutkan pula jika Kapten A Rivai turun ke medan perang meski terluka di bahu.

Dengan senjata di tangan, Kapten A Rivai membombardir pasukan Belanda, namun kemudian dibalas pula oleh pasukan Belanda di mana Kapten A Rivai yang saat itu berpangkat Lettu tertembak ia, meninggal pada 3 Januari 1947. Ketika itu Lettu A Rivai tertembak dekat RS Charitas dan dirawat di RS Benteng.

Selain Kapten A Rivai yang tewas dalam pertempuran itu, ada pula  Lettu Anwar Sastro adik kandung A Rivai, gugur bersama enam laskar di Desa Cempaka setelah Belanda berangkat dari Desa Gunung Batu. Lettu Anwar sastro gugur sebagai pahlawan.

“Sudah dipastikan bahwa Kapten A Rivai merupakan sosok pejuang dalam pertempuran lima hari lima malam. Jadi Jalan Kapten A Rivai bukan diambil dari nama Kapten Kapal Tambomas yang terjadi pada tahun 1981. Sebelum peritiwa kapal itu, Jalan Kapten A Rivai sudah ada. Dan pada waktu itu saya ada di Jakarta,” ujar Suhaimi yang pernah menjabat sebagai Asisten Pemkot Palembang dan mantan Camat Ilir Timur I.

Kontroversi Waktu Wafat Kapten A Rivai

Meski banyak sumber yang menyatakan Kapten A Rivai adalah pahlawan Perang 5 Hari 5 Malam Palembang, namun dalam penelusuran di situs cendikiasumsel menyebutkan waktu wafat Kapten A Rivai masih diberdebatkan. Sebab batu nisan Kapten A Rivai di Taman Makam Pahlawan Satria Siguntang, Kota Palembang, menuliskan tanggal lahir dan meninggal almarhum. Begitu pula batu-batu nisan lainnya di mana-mana. Khusus Kapten A Rivai tertulis pada batu nisan waktu meninggalnya pada 30 Maret 1946.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved