HUT Kemerdekaan RI
Perang 5 Hari 5 Malam Palembang Bermula dari Pasukan Belanda Mabuk Lewati Batas Garis Demarkasi
"Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean...
SRIPOKU.COM-Meski jauh terjadi setelah Indonesia Merdeka (17 Agustus 1945), sementara Perang 5 Hari 5 Palembang yang terjadi pada 1 Januari 1947, namun banyak sejarawan yang menganggap peristiwa bersejarah di kota Palembang ini, tak lepas dari perjuangan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan secara utuh.
Sebab, pasca pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1954 oleh Presiden Dr Ir Soekarno, Belanda yang masih tak terima kemerdekaan Indonesia, berusaha melakukan agresi, sehingga hampir seluruh pangkalan di daerah-daerah di Republik Indonesia masih mereka tempati.
Termasuk kota Palembang pun menjadi tempat landasan Belanda untuk kembali menjajah bangsa Indonesia dalam bentuk lain, padahal bangsa Indonesia sudah membacakan proklamasi dan menyatakaan kemerdekaan.
Namun Belanda bergeming dan melakukan agresi. Hal inilah yang membuat bangsa ini tak pernah melupakan sejarah, termasuk kota Palembang dengan insiden Perang 5 Hari 5 Malam Palembang yang melegenda itu.
Terkait pemantik atau pemicu Perang 5 Hari 5 Malam Palembang bermula dari aksi arogansi pasukan Belanda mabuk atau tengah mabuk berat melanggar batas Demarkasi yang telah disepakati.
Mengenai Perang 5 Hari 5 Malam ini, diungkap oleh Kemas AR Panji, Sejarah Sumsel.
"Awal insiden yang terjadi pada 1 Januari 1947 karena Belanda melanggar garis demarkasi di sekitar benteng yang kemudian melakukan penembakan-penembakan," ujar Dosen UIN RF ini.
Menurut Kemas AR Panji, pasukan Belanda mabuk itu memang melanggar batas wilayah yang sudah disepakati, sehingga pasukan di Palembang marah besar.
"Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan.
"Kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI atau Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara," ujar Kemas AR Panji seperti dilansir dari sripoku.com.
Seperti disitir dari situs kemendikbud bahwa, aksi arogansi dari pasukan Belanda inilah yang kemudian membuat pasukan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan para pejuangan di kota Palembang menjadi panas.
Sejarah juga mencatat, aksi balasan dari pasukan di Palembang, maka dilakukanlah perundingan dengan badan-badan perjuangan, kemudian diputuskan untuk mencegah Belanda menguasai Palembang harus diadakan serangan langsung kepada pertahanan Belanda antara lain, Rumah Sakit Charitas, Gedung Borsumij, 13 Ilir, Boombaru, Handelsaken, 28 Ilir, Talangsemut, Baguskuning, Plaju dan Benteng.
Berikut Fakta Sejarah Perang 5 Hari 5 Malam Palembang:
Fakta bahwa Belanda berkepentingan menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda Palembang dari aspek politik, ekonomi dan militer, memang berkompeten sebagai salah satu daerah di Sumatera yang memiliki peran penting dan sebagai simbol kekuasaan di Sumatera, sebab dengan menguasai Palembang Belanda ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera.
Sementara ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya, maka Belanda bisa menguasai beberapa aset penting, seperti tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong, jalur perdaganggan di mana Palembang memiliki aeral perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor.
Sementara ditinjau dari segi militer, Pasukan TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota.
Namun pasukan di Palembang justru marah besar dan melakukan perlawanan ketika pasukan Belanda mabuk itu melanggar batas wilayah, sehingga pasukan TRI dan pejuang di Palembang marah besar dan melakukan serangan.
1 januari 1947:RS Charitas Diserang
Perang kemudian dimulai Pertempuran pertama terjadi pada hari Rabu 1 Januari 1947.
Pada hari pertama ini, Belanda melancarkan serangan dan tembakan yang terus menerus diarahkan ke lokasi pasukan RI yang ada di sekitar RS Charitas.
Maka RS Charitas berada di tempat yang strategis karena berada di atas bukit sehingga menjadi basis pertahanan yang baik bagi Belanda.
Kemudian terjadilah tembakan-tembakan, dari RS Charitas terjadi rentetan tembakan disusul oleh ledakan-ledakan dahsyat kearah kedudukan pasukan RI yang bahu-membahu dengan tokoh masyarakat bergerak dari pos di Kebon Duku (24 Ilir-sekarang) mulai dari Jalan Jenderal Sudirman terus melaju kearah Borsumij, Bomyetty Sekanak, BPM, Talang Semut.
2 Januari 1947: Pertahankan Masjid Agung
Belanda sebenarnya dibantu pasukan kuat dan pelengkapan sejarah yang sangat baik dibandingkan pasukan Indonesia di Palembang. Sebab Diperkuat dengan Panser dan Tank Canggih Belanda bermaksud menyerbu dan menduduki markas Tentara Indonesia di Masjid Agung Palembang.
Pasukan Batalyon Geni dibantu oleh Tokoh Masyarakat bahu membahu memperkuat barisan mengobarkan semangat jihad yang akhirnya dapat berhasil mempertahankan Masjid Agung dari serangan sporadis Belanda.
Pasukan bantuan Belanda dari Talang Betutu gagal menuju Masjid Agung karena disergap oleh pasukan Lettu Wahid Luddien sedangkan pada hari kedua Lettu Soerodjo tewas ketika menyerbu Javache Bank.
Di Seberang Ulu Lettu Raden M menyerbu kedudukan strategis belanda di Bagus Kuning dan berhasil mendudukinya untuk sementara. Bertepatan dengan masuknya pasukan bantuan kita dari Resimen XVII Prabumulih.
3 Januari 1947: Lettu Ahmad Rivai Tewas
Namun, dari pihak pasukan pejuang di Palembang, pertempuran yang semakin sengit kembali memakan korban perwira penting Lettu Ahmad Rivai yang tewas terkena meriam kapal perang belanda di Sungai Seruju.
Namun, pasukan di Palembang tetap berjuang keras, sehingga Keberhasilan gemilang diraih oleh Batalyon Geni pimpinan Letda Ali Usman yang sukses menghancurkan Tiga Regu Kaveleri Gajah Merah Belanda. Meskipun Letda Ali Usman terluka parah pada lengan.
Selanjutnya, pasukan lini dua yang bergerak di lokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi untuk menghindari terlalu mudah bagi belanda memborbardir posisi mereka.
Sementara pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.
Selain itu, ada pasukan bantuan dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba di Kertapati, meski memang ada kesulitan memasuki zona sentral pertempuran di areal masjid agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda kala itu.
4 Januari 1947: Belanda Tersdesak
Palembang marah, bantuan pasukan berdatangan dan Belanda dikepung, akibatnya pasukan Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat.
Sedangkan tentara Palembang mendapat bantuan dari tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.
Selain itu, Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di Keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun.
Bantuan dari pasukan ke Masjid Agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan Belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju ke wilayah Charitas dan sekitarnya. Perang pun berlanjut.
5 Januari 1947: Kepung Cinde, Belanda Akhirnya Menyerah dan Minta Gencatan
Perjuangan pasukan gabungan Tentara dan Pejuang di Palembang meang berat menghadapi Perang 5 Hari 5 Palembang tersebut.
Sebab, Pada hari ke lima, panser Belanda serentak bergerak maju ke arah Pasar Cinde namun belum berani maju karena perlawanan sengit dari Pasukan Mobrig, pimpinan Inspektur Wagiman dibantu oleh Batalyon Geni.
Sedangkan pasukan Belanda di jalan Merdeka mulai Sekanak tetap tertahan tidak mampu mendekati Masjid Agung.
Namun Belanda sudah terkepung, akibat kesulitan tentara Belanda di bidang logistik dan kesulitan yang lebih besar pada pihak pejuang pada bidang amunisi akhirnya dibuat kesepakatan untuk mengadakan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/Lasykar harus kelur dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintah Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota.
Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 Km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.
Terkesan Dilupakan
"Namun, sepertinya banyak yang lupa akan peristiwa ini. Padahal, bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Perang diawali pada hari Rabu, tanggal 1 Januari 1947, sekitar pukul 05.30 pagi. Ketika itu sebuah kendaraan Jeep yang berisi pasukan Belanda mabuk karena pesta malam tahun baru, keluar dari Benteng (BKB) dengan kecepatan tinggi. Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati."
"Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean (sekarang Jalan TP. Rustam Efendi) lalu menuju Sayangan. Kemudian melintasi ke arah Jalan Segaran di 15 Ilir, yang banyak terdapat markas pasukan RI atau Lasykar seperti Markas Napindo, Markas TRI di Sekolah Methodist, rumah kediaman A.K. Gani, Markas Divisi 17 Agustus, Markas Resimen 15 dan markas Polisi Tentara."
"Atas aksi Belanda yang melampaui batas ini disambut oleh pihak Republik, maka dimulailah perang yang kemudian berlanjut dengan perang kota. Melihat betapa gigihnya para pejuang dalam P5H5MP, sudah selayaknya peristiwa ini dijadikan momen bersejarah oleh pemerintah provinsi Sumatera Selatan dan kota Palembang." jelas Sejarawan Sumsel Kemas AR Panji seperti dikutip dari sripoku.com.
Referensi
- Dimjati, M. (1951). Sedjarah Perdjuangan Indonesia, Djakarta: Widjaja
- Nugroho Notosusanto. Marwatidjoened Poesponegoro (1987). Sejarah Indonesia V Balai Pustaka
- Dokumentasi Sripoku.com (Sejarawan Sumsel Kemas AR Panji)
Artikel ini telah tayang di sripoku.com dengan judul Selama 5 hari Inilah Sejarah Pertempuran 5 hari 5 malam Di Palembang, https://palembang.tribunnews.com/2018/11/10/selama-5-hari-inilah-sejarah-pertempuran-5-hari-5-malam-di-palembang?page=3
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/perang-5-hari-5-malam-palembang-bermula-dari-pasukan-belanda-mabuk-lewati-batas-garis-demarkasi.jpg)