HUT Kemerdekaan RI
Perang 5 Hari 5 Malam Palembang Bermula dari Pasukan Belanda Mabuk Lewati Batas Garis Demarkasi
"Mereka melampaui daerah garis demarkasi yang sudah disepakati. Kendaraan Jeep itu melintasi Jalan Tengkuruk membelok dari Jalan Kepandean...
Selanjutnya, pasukan lini dua yang bergerak di lokasi keramat Candi Walang (24 Ilir) menjaga posisi untuk menghindari terlalu mudah bagi belanda memborbardir posisi mereka.
Sementara pasukan Ki.III/34 di 4 Ulu berhasil menenggelamkan satu kapal belanda yang sarat dengan mesiu. Akibatnya pesawat-pesawat mustang belanda mengamuk dan menghantam selama 2 jam tanpa henti posisi pasukan ini.
Selain itu, ada pasukan bantuan dari Lampung, Lahat dan Baturaja tiba di Kertapati, meski memang ada kesulitan memasuki zona sentral pertempuran di areal masjid agung dan sekitar akibat dikuasainya Sungai Musi oleh Pasukan Angkatan Laut Belanda kala itu.
4 Januari 1947: Belanda Tersdesak
Palembang marah, bantuan pasukan berdatangan dan Belanda dikepung, akibatnya pasukan Belanda mengalami masalah amunisi dan logistik akibat pengepungan hebat dari segala penjuru oleh tentara dan rakyat.
Sedangkan tentara Palembang mendapat bantuan dari tokoh masyarakat dan pemuka adat yang mengerahkan pengikutnya untuk membuka dapur umum dan lokasi persembunyian serta perawatan umum.
Selain itu, Pasukan Mayor Nawawi yang mendarat di Keramasan terus melaju ke pusat kota melalui jalan Demang Lebar Daun.
Bantuan dari pasukan ke Masjid Agung terhadang di Simpang empat BPM, Sekanak, dan Kantor Keresidenan oleh pasukan Belanda sehingga bantuan belum bisa langsung menuju ke wilayah Charitas dan sekitarnya. Perang pun berlanjut.
5 Januari 1947: Kepung Cinde, Belanda Akhirnya Menyerah dan Minta Gencatan
Perjuangan pasukan gabungan Tentara dan Pejuang di Palembang meang berat menghadapi Perang 5 Hari 5 Palembang tersebut.
Sebab, Pada hari ke lima, panser Belanda serentak bergerak maju ke arah Pasar Cinde namun belum berani maju karena perlawanan sengit dari Pasukan Mobrig, pimpinan Inspektur Wagiman dibantu oleh Batalyon Geni.
Sedangkan pasukan Belanda di jalan Merdeka mulai Sekanak tetap tertahan tidak mampu mendekati Masjid Agung.
Namun Belanda sudah terkepung, akibat kesulitan tentara Belanda di bidang logistik dan kesulitan yang lebih besar pada pihak pejuang pada bidang amunisi akhirnya dibuat kesepakatan untuk mengadakan gencatan senjata (cease fire) antara kedua belah pihak, dimana TRI/Lasykar harus kelur dari Kota Palembang sejauh 20 Kilometer kecuali Pemerintah Sipil RI dan ALRI masih tetap berada di dalam kota.
Sedangkan pos-pos Belanda hanya boleh sejauh 14 Km dari pusat kota. Jalan raya di dalam kota dijaga pasukan Belanda dengan rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.
Terkesan Dilupakan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/perang-5-hari-5-malam-palembang-bermula-dari-pasukan-belanda-mabuk-lewati-batas-garis-demarkasi.jpg)