Breaking News:

Sedihnya Proses Pemakaman Pasien Corona di Sidoarjo,Sopir Ambulans & Petugas Makam Sama-sama Menolak

Membantu proses pemakaman terhadap pasien Covid-19 yang sudah meninggal dunia bukanlah pekerjaan mudah untuk para petugas makam.

WARTA KOTA/DESY SELVIANY
Petugas menggali kuburan jenazah pasien Covid-19 di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (25/3/2020). 

SRIPOKU.COM - Membantu proses pemakaman terhadap pasien Covid-19 yang sudah meninggal dunia bukanlah pekerjaan mudah untuk para petugas makam.

Alasan utamanya, tentu, takut tertular Virus Corona, entah itu dari tubuh si mayat ataupun dari keluarga mendiang yang mendatangi lokasi pemakaman.

Belum lagi, jika dalam satu waktu, terdapat lebih dari satu pasien Virus Corona yang meninggal dunia dan harus dimakamkan sesegera mungkin.

Cegah COVID-19, Tim Gabungan Kodim 0418 Palembang Semprot Disinfektan di Area Kantor Graha Tribun

Fakta tersebut setidaknya bisa menjadi deskripsi betapa sulitnya Nur Ahmad Syaifuddin menjalankan proses pemakaman untuk warga Sidoarjo yang meninggal dunia karena virus yang didatangkan dari Wuhan, China ini.

Ceritanya, Kamis (26/3/2020), pria yang menjabat sebagai Bupati Sidoarjo tersebut ikut dalam prosesi pemkaman pasien Virus Corona yang sudah meninggal dunia.

Namun, betapa terkejutnya ia ketika datang ke lokasi tidak terlihat satu pun petugas pemakaman yang sebenarnya direncanakan untuk ikut membantu proses penguburan.

Nur Ahmad Syaifuddin hanya 'disuguhi' lubang makam yang sudah digali petugas pemakaman.

"Tapi setelah itu ditinggal karena takut. Saya sampai kejar ke rumahnya. Saya yakinkan dan saya beri alat pelindung diri," terangnya saat dikonfirmasi, Kamis sore.

Setelah berhasil meyakinkan penggali kubur, akhirnya pemakaman dilakukan oleh lima orang, yaitu Nur Ahmad, tiga penggali kubur, dan seorang dokter dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Kecamatan Waru Sidoarjo.

Pemakaman dilakukan sesuai SOP pemakaman korban Covid-19, seperti jenazah dilapisi plastik dan ditutup peti.

Video: Tujuh PDP Virus Corona Sedang Dirawat di RSMH, Satu PDP Asal Palembang Belum Datang

Sementara, petugas pemakaman menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).

Nur Ahmad mengatakan, bukan hanya penggali kubur yang menolak memakamkan korban Covid-19, sopir ambulans juga menolak saat diminta mengantar jenazah ke area pemakaman.

"Karena halangan-halangan itulah, jenazah waktu pemakaman jenazah akhirnya molor. Padahal jenazah harusnya dimakamkan tidak lebih dari empat jam setelah dinyatakan meninggal," ujarnya.

Sebelumnya diberitakan,Nur Ahmad Syaifuddin mengunggah proses pemakaman warga yang meninggal akibat Covid-19 Kamis (26/3/2020) pagi, melalui Facebook.

Video tersebut viral, hingga pukul 16.40 WIB, video berdurasi lebih dari 3 menit itu sudah dilihat 6.341 kali, 203 kali dibagikan, dan menuai 119 komentar.

Kini Jadi Artis Kaya Raya, Tapi Jika tak Ada Olga Syahputra Maka Begini Jadinya Hidup Raffi Ahmad!

Dalam video tersebut, Nur Ahmad Syaifuddin ikut terlibat dalam proses penguburan bersama 4 orang lainnya dengan mengenakan alat pelindung diri.

Penguburan dilakukan pagi buta pukul 03.40 WIB dengan bantuan penerangan lampu mobil di sebuah kompleks pemakaman di Desa Praloyo, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

Dalam keterangan video tersebut, dia menyebut bahwa pasien yang meninggal adalah pasien beridentitas di Kota Surabaya, tapi dirawat dan berdomisili di Sidoarjo.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Bupati Sidoarjo Kesulitan Makamkan Pasien Covid-19, Ditolak Penggali Kubur dan Sopir

Editor: Refly Permana
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved