Mulanya Flu dan Sakit Tenggorokan, Begini Pengakuan Mengejutkan Pasien yang Sembuh dari Virus Corona
Tiger Yee, mahasiswa 21 tahun, yang sebelumnya dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengatakan penyakit ini bisa dilawan.
SRIPOKU.COM - Sampai hari ini, Virus Corona masih jadi trending topic pembicaraan seluruh dunia.
Ketakutan soal serangan Virus Corona sampai ke berbagai negera di belahan dunia.
Kini wabah Virus Corona sudah mulai menyebar ke beberapa bagian negara di Asia.
Meningkatnya jumlah kasus dan korban meninggal akibat Virus Corona, membuat banyak pihak merasa khawatir.
Meski begitu, tak sedikit juga pasien terjangkit Virus Corona berhasil sembuh.
Tiger Yee, mahasiswa 21 tahun, yang sebelumnya dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengatakan penyakit ini bisa dilawan.
• Padahal Negatif Virus Corona, Harga Masker di Indonesia Naik Drastis, Media Asing: Lebih dari Emas
Sekolahnya sendiri berada di dekat Pasar Seafood Huanan di Wuhan, China.
Pasar tersebut diduga menjadi pusat penyebaran Virus Corona.
Setelahnya, Tiger merasa tenggorokan dan perutnya sakit saat pertengahan Januari.
Ia kemudian memutuskan untuk memeriksakan diri dan melakukan pengecekan.
"Aku mengambil hasil (pemeriksaan)ku. Itu positif dan akhirnya aku dirawat," katanya.
Awalnya, Tiger mencoba mengonsumsi obat flu untuk menyembuhkan penyakitnya.
Namun, semakin hari kondisi Tiger justru semakin memburuk.
"Ayahku menyadari mungkin ada sesuatu yang salah telah terjadi," ujar Tiger.
Karena tak kunjung membaik dan terus demam, Tiger kemudian pergi ke rumah sakit.
Tapi, kondisi rumah sakit ketika itu sangat kacau.
Banyak orang berlalu lalang di klinik bagian demam.
"Benar-benar berantakan. Banyak orang, perawat, dan dokter berada di klinik demam," kisah dia.
Di tengah banyaknya orang berkunjung ke rumah sakit, Tiger akhirnya menemukan rumah sakit yang sedikit sepi dan bersedia memeriksanya.
Karena positif mengidap Covid-19, Tiger mendapat akses untuk memperoleh obat antivirus, yang disebut-sebut efektif.
Seminggu menjalani perawatan, Tiger mengungkapkan saat itu kondisinya semain membaik.
Disisi lain, seorang insinyur asal Wuhan juga mengisahkan diagnosa awalnya.
Pria berusia 31 tahun ini mengaku sempat takut tertular Virus Corona.
Ia pun menceritakan saat awal wabah merebak, rumah sakit dipenuhi banyak orang sehingga menjalani tes membutuhkan waktu berhari-hari.
Saat ia dinyatakan positif corona dan dirawat, ia optimis bisa sembuh.
"Aku pikir untuk mereka yang muda dan kuat, penyakit (Covid-19) ini lebih seperti pilek berat."
"Hanya saja itu menular dan menyebabkan kepanikan," tuturnya.
Saat ini, Tiger dan insinyur tersebut tengah dikarantina di sebuah hotel yang diawasi pemerintah.
Mereka diperiksa secara teratur untuk memastikan penyakit Covid-19 tak kembali lagi.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul Pengakuan Mengejutkan Pasien yang Sembuh dari Virus Corona
• Bikin Pilu, Belum Pasti Terinfeksi Virus Corona, Seorang Pejabat di Korea Utara Ini Ditembak Mati
Baru-baru ini, seorang pejabat Korea Utara (Korut) yang dikarantina karena diduga terinfeksi virus corona ditembak mati karena pergi ke pemandian umum.
Pejabat bidang perdagangan itu ketahuan dan ditangkap. Dia dieksekusi di lokasi pemandian oleh otoritas negara komunis tersebut.
Si pejabat yang tidak disebutkan identitasnya itu langsung dikarantina setelah kembali dari perjalanan di China, dilansir Donga via Daily Mirror Kamis (13/2/2020).
Begitu petugas pemerintahan Korea Utara itu ketahuan pergi ke pemandian umum, dia segera diseret dan ditembak mati.
Sedangkan pejabat lain yang bekerja di Badan Keamanan NasionalKorea Utara diturunkan jabatannya di pertanian karena diam-diam melakukan perjalanan ke China.
Pemerintah Korea Utara telah mengklaim bahwa tidak ada kasus virus corona dalam perbatasannya namun hal ini masih belum diverifikasi secara independen.
Klaim itu disambut skeptis oleh mereka yang berada di luar negeri. Khususnya yang berbagi perbatasan dengan China dan memiliki puluhan ribu kasus terkonfirmasi.
Bir Mandal dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengungkapkan, "Pihak berwenang Korea Utara mengatakan kepada FAO bahwa tidak ada kasus virus corona baru tapi kami curiga terhadap klaim tersebut."
Pasalnya, beberapa outlet media di Pyongyang telah mengakui adanya beberapa warga yang dikarantina.
JoongAng Ilbo, sebuah outlet berita di wilayah tersebut membantah klaim bahwa tidak ada kasus yang terkonfirmasi.
Sebuah sumber mengatakan kepada surat kabar lokal tersebut bahwa ada warga Pyongyang yang baru kembali dari China dan mengidap virus corona.
Meski begitu, pemerintah otoriter Korea Utara telah melakukan serangkaian langkah pencegahan. Dia telah menutup perbatasannya dengan China dan melarang masuknya semua turis asing.
Selain itu, pemerintah negara yang dipimpin Kim Jong Un tersebut juga memblokir lalu lintas internasional.
Mereka juga melaporkan telah melakukan tes untuk semua orang yang memasuki ibukota Pyongyang melalui jalan darat dan siapa saja yang hendak bepergian ke luar negeri.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Diduga Terinfeksi Virus Corona, Pejabat Korea Utara Ditembak Mati Saat Masuk Pemandian Umum"
• Masa Inkubasi 14 Hari Selesai, Adam Lega Bebas Dari Virus Corona
Baru-baru ini aksi kejam yang dilakukan oleh oknum petugas jadi kecaman.
Petugas komunitas di China memukuli anjing di jalanan sampai mati karena takut akan penularan Virus Corona.
Padahal, menurut WHO, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Virus Corona bisa menjangkiti hewan peliharaan, termasukanjing dan kucing.
Namun masih saja ada beberapa orang yang percaya tanpa alasan bahwa anjing atau kucing bisa membawa Virus Corona.
Sebuah video viral di media sosial China memperlihatkan petugas komunitas memukuli anjing di jalanan.
Mereka memukuli anjing itu dengan tongkat kayu.
Satu video dibagikan oleh Chengdu Pet Adaptation Platform.
Dalam video itu terlihat anjing jenis Labrador hitam di Chengdu, Provinsi Chengdu dipukuli empat pekerja dari sebuah komunitas.


Organisasi perlindungan hewan itu berkata kejadian itu terjadi Selasa (11/2/2020) sore.
Anjing itu kabarnya tidak menyerang siapapun.
Anjing itu sedang menunggu pemiliknya di jalan ketika para petugas menyerangnya.
Saat pemiliknya sudah tiba, anjing itu sudah mati dan petugas yang memukulinya sudah pergi.
Video berbeda diambil di Yongjia, Provinsi Zhejiang.
Seorang pria terlihat memukuli anjing yang berada di pinggir jalan dengan tongkat kayu.


Petugas itu mengenakan masker wajah dan selembar plastik sebagai baju pelindung sementara.
Ia terlihat memukul anjing setidaknya tiga kali, ada beberapa warga yang menontonnya.
Menurut aktivis hewan, insiden itu terjadi hari Rabu (12/2/2020) di Desa Huangsha.
Dikatakan petugas memusnahkan semua ayam dan anjing setelah dua orang komunitas didiagnosis dengan virus pada hari Senin (10/2/2020).
Kemudian ada pula video yang dikirim ke MailOnline dari pecinta hewan.
Dalam video itu terlihat seorang pria memukul anjing sampai tak bergerak lagi di siang bolong.
Insiden itu terjadi Rabu (12/2/2020) pagi di komplek perumahan di Nanchong, Sichuan, menurut aktivis hewan.


Mereka mengecam aksi petugas komunitas yang menyalahgunakan kekuasaannya dengan membunuh hewan-hewan dengan nama mencegah Virus Corona.
Namun, pejabat komunitas membantah tuduhan daring.
Mereka mengklaim bahwa video itu menunjukkan para pekerja memusnahkan seekor anjing liar yang telah menggigit beberapa penduduk dan menyebabkan kepanikan di kompleks itu.
Masyarakat di seluruh China dikabarkan memerintahkan warganya untuk menyingkirkan hewan peliharaan mereka.
Jika tidak, hewan mereka akan dimusnahkan.
Perintah itu merupakan dampak penyebaran Virus Corona yang mematikan itu.
Diberitakan Tribunnews sebelumnya, sejumlah otoritas atau lembaga di China memerintahkan warganya untuk tidak lagi memelihara hewan peliharaan.
Jika tidak, resiko mereka untuk terjangkit Virus Corona akan meningkat.
Padahal, belum ada bukti yang menyatakan hewan peliharaan, terutama anjing dan kucing bisa membawa dan menularkan Virus Corona kepada manusia.
Seperti yang dilansir Daily Mail, sejumlah perkumpulan warga, bersama pejabat daerah dan gabungan beberapa perusahaan dan lembaga telah mengeluarkan perintah larangan memelihara hewan peliharaan.
Perintah larangan tersebut diumumkan setelah turunnya instruksi dari pejabat yang lebih tinggi lagi untuk menyingkirkan hewan-hewan peliharaan karena takut akan membawa Virus Corona.
Satu desa di Hubei meminta semua warganya untuk "mengurusi" hewan peliharaan mereka dalam waktu 5 hari.
Jika tidak, petugas akan "membereskan" mereka semua.
Sementara itu, lembaga lainnya yang berada di Shaanxi mengintruksikan warganya untuk "tahu diri" akan adanya Virus Corona yang kian menyebar kemana-mana.
Mereka pun diminta untuk menyingkirkan anjing dan kucing peliharaan mereka secepatnya.
Perintah ini muncul setelah ada ahli yang memberi peringatan bahwa hewan peliharaan perlu diisolasi karena mungkin akan terkena Virus Corona juga.
Klaim itu menyebabkan kekhawatiran dan ketakutan warga China yang mengira virus bisa menular ke anjing atau kucing.
Di Wuhan, yang merupakan sumber Virus Corona, ada satu desa yang melarang penduduknya untuk menyimpan kucing, anjing, atau ternak di rumah mereka.
Dalam flyer yang tersebar di berbagai daerah, petugas mengancam akan menangkap, membunuh dan mengubur hewan peliharaan jika mereka melihatnya jalan kemana-mana.
Perintah serupa juga muncul di provinsi dan kota di seluruh negeri, termasuk Beijing, Tianjin, Shandong, Heilongjiang, Hebei, Wuhan, Shanxi dan Shanghai, menurut organisasi kesejahteraan hewan, Humane Society International.
• Dampak Virus Corona, Warga Singapura Pakai Kondom untuk Menekan Tombol Lift, Ini Fakta Sebenarnya
Pendapat Ahli
Masih dikutip dari Daily Mail, Dr Peter J. Li, seorang pengamat kebijakan China dari Humane Society International, mengatakan pihaknya telah memperhatikan memo yang dikeluarkan oleh otoritas lokal China yang memerintahkan pelarangan dan bahkan pembunuhan anjing dan kucing liar tersebut.
"Ini bukan pendekatan yang tepat bagi otoritas lokal di China untuk menangani krisis nasional yang bersumber perdagangan satwa liar di China," kata Dr Li kepada MailOnline.
'Hewan peliharaan tidak berkontribusi terhadap merebaknya SARS pada 2002-2003. Mereka tidak ada hubungannya dengan epidemi Wuhan," tambahnya.
Menurut Dr Li, perintah semacam itu dapat merusak upaya nasional untuk menghentikan wabah.
"Tindakan mereka juga menunjukkan bahwa banyak pejabat lokal China tidak memiliki kompetensi untuk menjalankan masyarakat Tiongkok," pungkasnya.
Sementara itu, badan kesehatan dunia WHO juga belum melihat adanya bukti bahwa anjing dan kucing bisa membawa Virus Corona.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews dengan judul Takut Virus Corona, Petugas di China Pukuli Anjing dan Ayam yang Berkeliaran di Jalanan hingga Mati