Berita Muratara

Pelecehan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten Muratara

Tercatat ada sebanyak 28 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Muratara sejak 2015 silam.

Pelecehan Seksual Dominasi Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Kabupaten Muratara
Tribunsumsel.com/Rahmat Aizullah
Hj Gusti Rohmani, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDP3A) Kabupaten Muratara. 

SRIPOKU.COM, MURATARA - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) sejak 2015 hingga 2019 cenderung fluktuatif.

Lima tahun terakhir, sudah tercatat ada sebanyak 28 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Muratara sejak 2015 silam.

Demikian catatan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDP3A) Kabupaten Muratara.

"28 kasus itu yang ada laporannya ke kami, yang tidak dilaporkan kami tidak tahu, karena banyak juga yang enggan melapor," kata Hj Gusti Rohmani, Selasa (17/12/2019).

Ia menjelaskan, tahun 2015 tercatat sebanyak 5 kasus, tahun 2016 ada 8 kasus, tahun 2017 juga ada 8 kasus, tahun 2018 hanya ada 3 kasus, dan tahun 2019 juga ada 3 kasus.

Sebanyak 28 kasus tersebut paling banyak adalah pelecehan seksual 18 kasus, pencabulan dan persetubuhan 5 kasus, kekerasan fisik 2 kasus dan penelantaran 2 kasus.

Dari semua kasus tersebut kata Gusti Rohmani ada yang diselesaikan secara kekeluargaan, ada pula melalui proses hukum.

Harga Cabai dan Bawang Merah di Pasar Tradisional Kota Pagaralam Meroket

Ditodong Pisau, Remaja di Taqwa Mata Merah Palembang Ini Tak Kuasa Motornya Hilang Dirampok

Tahanan Ini Melangsungkan Pernikahan di Musala Polsek Talang Ubi PALI, Mertua Sempat Pingsan

"Kalau pelecehan seksual, pencabulan atau persetubuhan, kami serahkan kepada pihak kepolisian," ujarnya.

Menurut Gusti, banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan masyarakat.

Diantaranya, lemah iman dalam diri seseorang, pengaruh minuman keras atau narkoba, serta faktor ekonomi maupun lingkungan.

"Itulah beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan tindakan kekerasan. Baik kekerasan fisik, seksual maupun penelantaran dalam keluarga," ujarnya.

Ia berharap, kedepannya tidak ada lagi kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Muratara.

Oleh sebab itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai pihak.

"Kita harapkan juga partisipasi dari masyarakat untuk sama-sama menjaga bahwa perlindungan perempuan dan anak ini menjadi tanggung jawab kita semua," katanya. (cr14)

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved