Pemerintah Kota Palembang Daftarkan Tradisi 'Ngobeng' ke UNESCO

"Ngobeng" adalah salah satu tradisi masyarakat Palembang dalam menjalani kebersamaan, tradisi ini biasa dilakukan pada saat ada acara kendurian,

Tayang:
Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Zaini
Ilustrasi - Makan berhidangan atau lebih di kenal dengan istilah "Ngobeng" adalah salah satu tradisi masyarakat Palembang dalam menjalani kebersamaan, tradisi ini biasa dilakukan pada saat ada acara kendurian, pernikahan dan lain sebagainya. 

Makan berhidangan atau lebih di kenal dengan istilah "Ngobeng" adalah salah satu tradisi masyarakat Palembang dalam menjalani kebersamaan, tradisi ini biasa dilakukan pada saat ada acara kendurian, pernikahan dan lain sebagainya.

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemerintah kota Palembang, Sumatera Selatan, mendaftarkan tradisi Ngobeng atau Ngidang ke Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan UNESCO sebagai warisan budaya tak benda (WBTB).

Ngobeng sendiri merupakan tradisi makan bersama yang dihidangkan secara lesehan dengan menggunakan nampan untuk delapan orang dalam satu tempat.

Hidupkan Kearifan Lokal, Wagub Mawardi Ikut Ngobeng di Bank Mandiri

Griya Agung Hidupkan Tradisi Ngobeng

Staf Ahli Wali Kota Palembang Bidang Ekonomi Pendapatan Daerah, Hukum dan HAM, Altur Febriyansyah mengatakan, tradisi ngobeng memiliki makna yang mendalam. Sebelum makan, warga terlebih dahulu bergotong-royong untuk menyiapkan lauk dan lain sebagainya.

"Dalam satu hidangan terdiri dari delapan orang, kemudian makan bersama. Ini sebagai wujud gotong-royong yang harus kita lestarikan, karena untuk makan kita menyediakan makanan secara gotong-royong, ada nilai positif, bisa menjalin komunikasi tanpa memperhatikan status sosial, semuanya rata duduk bersila," kata Altur usai membuka acara Ngidang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, Selasa (26/11/2019).

Altur menjelaskan, tradisi ngobeng akan menjadi salah satu agenda tahunan di Palembang. Sehingga, tradisi tersebut tetap bisa dilestarikan oleh para pemuda saat ini.

"Ngobeng juga diharapkan akan menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke Palembang. Pada tahun 2020 nanti, acara ngobeng ini akan di daftarkan sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dan UNESCO sehingga tidak bisa diklaim oleh orang daerah lain," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Ismail menjelaskan, sejarah ngobeng itu berawal dari negara Arab.

Namun pada zaman kesultan Demangan, cara tersebut dibuat berbeda. Jika dalam budaya Arab semua hidangan dijadikan satu, sedangkan dengan cara Palembang untuk lauk-pauk semuanya terpisah.

"Untuk di Palembang sendiri kebudayaan ini masih melekat di daerah kawasan Tangga Buntung, 13-14 ulu yang masih mempertahankan tradisi tersebut di tengah kemajuan zaman. Inilah yang menjadi tugas utama kami untuk kembali memperkenalkan warisan budaya serta mempertahankannya," ujar Ismail.

Penulis: Kontributor Palembang, Aji YK Putra

Like Facebook Sriwijaya Post Ya...

Berita Ini Sudah Diterbitkan di Situs https://regional.kompas.com/ dengan Judul:
Pemkot Palembang Daftarkan Tradisi Ngobeng ke UNESCO

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved