Cerita Lengkap Meutya Hafid Disandera di Irak, Ketua Komisi I DPR RI Ini Mantan Jurnalis

Mengenal Sosok Meutya Hafid, eks Jurnalis Perempuan yang Pernah Disandra di Irak Kini Jadi Ketua I DPR RI

Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Refly Permana
Kolase/Instagram/@meutya_hafid
Mengenal Meutya Hafid, eks Jurnalis Perempuan yang Pernah Disandra di Irak Kini Jadi Ketua I DPR RI 

SRIPOKU.COM - Mantan Jurnalis Perempuan, Meutya Viada Hafid yang dulu pernah disandra di Irak dan kini dirinya menjadi Ketua I DPR RI.

Siapa sih yang tidak kenal dengan Meutya? jurnalis yang banyak mendapat beragam prestasi karena pengalamannya berpuluh-puluh tahun mendalami profesinya itu,

Berkecimpungnya Meutya di dunia jurnalistik tak lepas dari proses reformasi pada tahun 1998.

Meutya yang merupakan lulusan University of New South Wales, Sidney, Australia, pada Desember tahun 2000, merasa gemas lantaran tak bisa turut serta dalam proses reformasi.

Dilansir dari Tribunnews, Meutya sebenarnya tidak bercita-cita sebagai Jurnalis.

TERUNGKAP Cara Presiden SBY Bebaskan Meutya Hafid saat Disandera di Irak, Tersebar ke Seluruh Dunia!

"Nggak pernah ada cita-cita jadi jurnalis. Karena background ilmu saya kan ilmu pasti ya, sebagai insinyur sebetulnya. 

Waktu itu saya kuliah di Australia, melihat dari jauh apa yang terjadi di Indonesia itu kita agak syok, dan kemudian gemas karena tidak bisa berbuat banyak.

Teman mahasiswa di Jakarta bisa ikut demo, (di sini) ada sih demo tapi nggak besar, ya bedalah yang dirasakan dengan teman-teman hang punya kesempatan demo di Jakarta.

Jadi gemas gitu ingin melakukan sesuatu, pengen ikutan dalam reformasi ini apa ya.

Nah ada satu profesi yang menerima dari jurusan apapun, walaupun saya nggak punya background jurnalistik ternyata mereka menerima juga insinyur.

Dan waktu itu ada televisi berita pertama di Indonesia, Metro TV, yang membuka lowongan. Kebetulan ada teman yang sudah masuk duluan, saya daftar dan kemudian jadi salah satu (jurnalis) yang paling awal di sana."

Lantas, Bagaimana perjalanan karirnya Meutya yang awalnya berkecimpung di dunia Jurnalistik dan kini dirinya mantab menggeluti dunia politik.

Berikut akan Sripoku.com rangkum untuk mengenal lebih dekat seperti apa sosok Meuty Hafid.

Dilansir dari wikipedia, Meutya Viada Hafid, perempuan yang pernah diselamatkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini lahir di Bandung, Jawa Barat, pada tanggal 3 Mei 1978

Meutya Viada Hafid yang akrab disapa Meutya Hafid adalah seorang politikus sekaligus mantan pembawa acara berita televisi, yang saat ini menjabat sebagai anggota Komisi I DPR Republik Indonesia dari Partai Golkar sejak tahun 2010.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai jurnalis di Metro TV, Meutya membawakan acara berita serta menjadi presenter di beberapa acara.

Banyak pengalaman dan tantangan yang didapatkan oleh Meuty saat menjadi jurnalis, yakni disandra dan juga duteror oleh seseorang.

Pada 18 Februari 2005, Meutya dan rekannya juru kamera Budiyanto diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak.

Kontak terakhir Metro TV dengan Meutya adalah pada 15 Februari, tiga hari sebelumnya. Mereka akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005. Sebelum ke Irak, Meutya juga pernah meliput tragedi tsunami di Aceh.

Pada tanggal 28 September 2007, Meutya melaunching buku yang ia tulis sendiri, yaitu 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak. 

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun turut menyumbangkan tulisan untuk bagian pengantar dari buku ini.

Selain presiden, beberapa tokoh lainnya pun menyumbangkan tulisannya yakni Don Bosco Selamun (Pemimpin Redaksi Metro TV 2004-2005) dan Marty Natalegawa (Mantan Juru Bicara Departemen Luar Negeri).

Sinopsis Buku 168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak

Siapa pun penonton televisi dan pembaca koran pasti ingat peristiwa nahas tersebut. Meutya Hafid,seorang reporter Metro TV dan Budiyanto, juru kamera yang mendampinginya, disandera oleh Mujahidin Irak.

Mereka diculik tiba-tiba saat sedang berhenti di POM Bensin. Seluruh bangsa pun khawatir, berdoa demi keselamatan mereka, dan mengusahakan pembebasan secepatnya.

168 jam lamanya Meutya dan Budi berada dalam sandera. Di dalam sebuah gua kceil di tengah gurun Ramadi. Tidur beralaskan batuan dan dibuai oleh suara bom dan tembakan.

Di sana mereka belajar tentang kepasrahan total kepada Yang Kuasa, karena telah begitu dekatnya dengan kata "mati". Di sana mereka diingatkan, bahwa jika Tuhan menghendaki, segalanya bisa terjadi.

Dan, di sana pula mereka berdua disadarkan, betapa nyawa sangat berharga, dibandingkan berita paling ekslusif sekalipun.

Wawancara Eksklusif oleh Tribunnews Kepada Meutya tentang Penculikan di Irak

Saya baru pulang liputan tsunami (Aceh) Desember 2004, liputan saya dianggap bagus dan saya diberi hadiah. Hadiahnya adalah tugas ke luar negeri.

Tapi ternyata tugasnya ke Irak, jadi waktu itu agak kaget. Tapi memang bagi saya hadiah itu apresiasi dan senang waktu dikirim, (saya) masih muda sekali waktu itu.

Irak ketika itu mau pemilu pertama setelah Saddam Husein terguling.

Memang situasinya saat itu karena Amerika menginvasi di 2003 sampai 2005, masih ada pendudukan dan muncul perlawanan dari kelompok-kelompok di Irak.

Akhirnya (saya) berangkat untuk meliput pemilu pertama di Irak dan 10 hari di sana mungkin nggak banyak yang ingat saya sempat melaporkan langsung.

Tapi yang diingat banyak (orang) adalah yang waktu disanderanya.

(saya) Berencana pulang waktu itu melalui kota Amman, Yordania. Sampai di Yordania ditelepon untuk diminta meliput hari Asyura, jadi masuk kembali ke Irak.

Ketika dalam perjalanan darat dari Amman menuju Baghdad, di tengah jalan kita berhenti di pom bensin.

Tepatnya di antara kota Ramadi dan Falujah. Kita di situ diambil dan dibawa. Mata saya ditutup, senjata (ditodongkan) di leher, kemudian mobil kita diambil alih.

Saya mencoba mengingat (jalan), belok kiri, belok kanan, tapi setelah dua jam saya nggak tahu dibawa kemana.

Ketika dibuka penutup mata yang saya lihat hanya gurun. Dan ketika itu saya tahu, "Oh ini saya diculik." Awalnya kan sempat nggak tahu maunya mereka apa ya, mau mengambil barang-barang kita atau lainnya.

Namun akhirnya karena kepiawanya Meutya dibidang jurnalis, dirinya mulai bertanya kepada berkelompok yang bersenjata, mengulik apa sebenarnya penyebab mereka melakukan ini.

Ternyata mereka merasa dijajah, keluarga mereka banyak yang mati oleh serangan dari pihak AS dan lain-lain. Jadi mereka menyampaikan bahwa mereka ini melawan.

Tapi saya sampaikan Indonesia ini kan tidak pernah perang melawan Irak, di situ juga mereka mengingatlah itu.

 Saya sebut almarhum Gus Dur. Akhirnya mereka sadar ada kedekatan dengan orang Indonesia.

Kemudian pelan-pelan agak berubah. Dari yang awalnya disandera di dalam gua, dimana senjatanya terus menerus ditodong atau dipegang dalam posisi siaga mulai diletakkan di sudut gua.

Jadi kok saya melihat mereka juga manusia ya, jadi ada rasa kemanusiaan.

Saya nggak bisa bilang itu rasa kemanusiaan apa nggak karena mereka kan sudah menculik, tapi paling tidak mungkin mereka ada sedikit perasaan kasihan ke kita juga.

Saya sempat mikir kameramen yang sama saya tuh istrinya sedang hamil, punya anak. Dia memang kelihatan sekali beban memikirkan keluarga.

Saya waktu itu belum menikah masih muda, kalau ada apa-apa ya udah lah ya. Mungkin nggak terlalu diambil pusing.

Kita nggak tahu apa yang terjadi di Indonesia karena alat komunikasi kami diambil. Jadi kami tak tahu apakah kantor kami tahu kami hilang, apakah negara tahu.

Jadi ketika dibebaskan dan tahu begitu banyak orang mendoakan kan itu bagi kami luar biasa terharu. Oh ternyata ada banyak sekali yang mendoakan dan peduli.

Mendapatkan Teror dari Seseorang

Tak hanya dari kasus penyekapannya di Irak, ternyata Ketenaran Meutya Hafid ini sempat berujung pada teror dari seseorang bernama Bobby Meidianto.

Pria yang dikabarkan depresi sejak 2000 itu mengaku menjadi suami Meutya, dan menyebarkan kabar bohong itu di dunia maya.

Bobby adalah warga RT. 1/ RW. VII Kalurahan Panularan, Solo, yang tidak lagi mengurusi istri dan kedua anaknya, yaitu Panji (18 tahun) dan Pramudya (8 tahun).

Bobby disebutkan tinggal berpindah-pindah karena mengalami gangguan kejiwaan. Menurut cerita Ny Harsono, mertua Bobby, menantunya ini memang sejak awal menikah terlihat berpotensi mengalami gangguan jiwa.

Puncak depresinya terjadi ketika salah seorang adik tirinya datang menanyakan apa benar dirinya meninggal. Menurut Meutya, pernah ada pria berpakaian compang-camping yang menungguinya di depan pagar rumahnya selama 3 hari.

Bobby mengaku sebagai Letkol Purnawirawan dan menjadi anggota detasemen khusus di kepolisian Republik Indonesia.

Prestasi yang di dapat saat menjadi Jurnalis

Pada 11 Oktober 2007, Meutya Hafid terpilih sebagai pemenang Penghargaan Jurnalistik Elizabeth O'Neill, dari pemerintah Australia.

Penghargaan ini dianugerahkan setiap tahun untuk mengenang mantan Atase Pers Kedutaan Australia Elizabeth O’Neill, yang gugur dalam tugasnya pada 7 Maret 2007 dalam kecelakaan pesawat di Yogyakarta.

Penghargaan diberikan kepada satu orang jurnalis Australia dan satu orang jurnalis Indonesia, diserahkan langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer.

Dari Australia, jurnalis ABC Radio Australia bernama Joanna McCarthy terpilih menjadi pemenang.

Dengan kemenangan itu, Meutya menjalani program 3 minggu di daerah pedalaman untuk mengembangkan pengertian dan apresiasi lebih baik terhadap isu kontemporer yang dihadapi Australia dan Indonesia.

Dubes Farmer menilai Meutya yang saat itu menjadi pembawa acara berita unggulan Metro TV dan acara perbincangan seperti Top Nine News, Today’s Dialogue dan Metro Hari ini, adalah pilihan “paling tepat” sebagai pekerja keras, profesional dan jurnalis yang berdedikasi dengan pengalaman luar biasa.

Pada 19 Februari 2008, Meutya meraih penghargaan alumni Australia 2008 untuk kategori Jurnalisme dan Media, bersamaan dengan pemilik grup Lippo Dr. James Tjahaja Riady (alumni University of Melbourne) yang menerima penghargaan serupa untuk kategori kewiraswastaan.

Meutya sempat kuliah di University of New South Wales, sebelum kemudian mengabdikan diri sebagai jurnalis Metro TV .

Pada 9 Februari 2012, Meutya menjadi satu di antara lima Tokoh Pers Inspiratif Indonesia versi Mizan, karena dianggap sebagai tokoh besar di balik perkembangan pers nasional.

Meutya menjadi satu-satunya perempuan yang duduk di antara tokoh pers inspiratif tersebut, dan juga yang termuda meraih penghargaan tersebut. Dia terpilih bersama Tirto Adhi Soerjo.

Tak Hanya Modal Cinta, di Era Kepemimpinan Jokowi-Maruf Amin, Ada Aturan Baru Terkait Syarat Menikah

Karir di Dunia Politik

Meutya sempat mencoba peruntungan di dunia politik dengan maju sebagai wakil Dhani Setiawan Isma dalam pemilihan wali kota Binjai, Sumatera Utara periode 2010-2015.

Pasangan ini diusung Partai Golkar, Demokrat, Hanura, PAN, Patriot, P3I, PDS serta 16 partai non-fraksi. Namun Meutya kalah.

Sebelumnya, Meutya juga gagal lolos ke Senayan sebagai caleg dari Partai Golkar saat Pemilu Legislatif 2009.

Suara Dhani-Meutya juga diduga berkurang 200, dari seharusnya 22.287 menjadi 22.087 suara.

Perolehan suara Dhani-Meutya juga banyak yang dibatalkan karena kertas suara dicoblos hingga bagian belakang secara simetris, dan banyaknya dan kertas suara yang robek di bagian tengah sehingga menguntungkan calon pasangan tertentu.

Meutya berupaya mencari keadilan ke Mahkamah Konstitusi dan meminta penghitungan kembali kotak suara sekaligus mencari kebenaran pelaksanaan Pilkada di Kota Binjai karena diduga ada kesalahan penghitungan suara di beberapa TPS, Kecamatan Binjai Barat berdasarkan temuan-temuan saksi di tiap-tiap TPS.

Sayangnya, MK memutuskan menolak permohonan Meutya dengan alasan tidak cukup bukti.

Tapi, karir politiknya kembali bersinar ketika dia akhirnya menjadi anggota DPR melalui proses pergantian antar waktu (PAW).

Dia menggantikan politikus senior Golkar Burhanuddin Napitupulu yang meninggal dunia.

Ketika organisasi massa yang didirikan Surya Paloh, yakni Nasional Demokrat, berganti baju menjadi partai politik pada 25 Juli 2011, Meutya yang dekat dengan Surya Paloh (atasannya ketika berkarya di Metro TV) termasuk di antara kader Golkar yang mundur dari Nasdem.

Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengatakan seluruh anggota Fraksi Partai Golkar memilih mundur dari Nasional Demokrat.

Pengunduran diri kader Golkar itu diumumkan pada Kamis, 11 Agustus 2011 yang merupakan tenggat bagi kader Golkar untuk memilih bertahan di partai berlambang beringin tersebut, atau pindah ke Nasdem.

Selain Meutya, kader Golkar lain yang sempat bergabung di Nasdem adalah Jeffrie Geovani dan Ferry Mursyidan Baldan.

Pada hari itu, Meutya Hafid menyatakan di akun Twitternya dengan tegas mengatakan, "sangatlah tak mungkin jika saya menjadi anggota parpol lain.

Pada Selasa, 29 Oktober 2019, Anggota DPR dari Fraksi Golkar Meutya Hafid resmi ditetapkan menjadi Ketua Komisi I DPR RI dalam rapat terbatas komisi di Kompleks Parlemen, Senayan.

Tol Lampung-Kayuagung Diresmikan Jokowi, Palembang-Lampung Hemat Waktu Lebih Banyak

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved