Cerita Lengkap Meutya Hafid Disandera di Irak, Ketua Komisi I DPR RI Ini Mantan Jurnalis
Mengenal Sosok Meutya Hafid, eks Jurnalis Perempuan yang Pernah Disandra di Irak Kini Jadi Ketua I DPR RI
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Refly Permana
Tapi ternyata tugasnya ke Irak, jadi waktu itu agak kaget. Tapi memang bagi saya hadiah itu apresiasi dan senang waktu dikirim, (saya) masih muda sekali waktu itu.
Irak ketika itu mau pemilu pertama setelah Saddam Husein terguling.
Memang situasinya saat itu karena Amerika menginvasi di 2003 sampai 2005, masih ada pendudukan dan muncul perlawanan dari kelompok-kelompok di Irak.
Akhirnya (saya) berangkat untuk meliput pemilu pertama di Irak dan 10 hari di sana mungkin nggak banyak yang ingat saya sempat melaporkan langsung.
Tapi yang diingat banyak (orang) adalah yang waktu disanderanya.
(saya) Berencana pulang waktu itu melalui kota Amman, Yordania. Sampai di Yordania ditelepon untuk diminta meliput hari Asyura, jadi masuk kembali ke Irak.
Ketika dalam perjalanan darat dari Amman menuju Baghdad, di tengah jalan kita berhenti di pom bensin.
Tepatnya di antara kota Ramadi dan Falujah. Kita di situ diambil dan dibawa. Mata saya ditutup, senjata (ditodongkan) di leher, kemudian mobil kita diambil alih.
Saya mencoba mengingat (jalan), belok kiri, belok kanan, tapi setelah dua jam saya nggak tahu dibawa kemana.
Ketika dibuka penutup mata yang saya lihat hanya gurun. Dan ketika itu saya tahu, "Oh ini saya diculik." Awalnya kan sempat nggak tahu maunya mereka apa ya, mau mengambil barang-barang kita atau lainnya.
Namun akhirnya karena kepiawanya Meutya dibidang jurnalis, dirinya mulai bertanya kepada berkelompok yang bersenjata, mengulik apa sebenarnya penyebab mereka melakukan ini.
Ternyata mereka merasa dijajah, keluarga mereka banyak yang mati oleh serangan dari pihak AS dan lain-lain. Jadi mereka menyampaikan bahwa mereka ini melawan.
Tapi saya sampaikan Indonesia ini kan tidak pernah perang melawan Irak, di situ juga mereka mengingatlah itu.
Saya sebut almarhum Gus Dur. Akhirnya mereka sadar ada kedekatan dengan orang Indonesia.
Kemudian pelan-pelan agak berubah. Dari yang awalnya disandera di dalam gua, dimana senjatanya terus menerus ditodong atau dipegang dalam posisi siaga mulai diletakkan di sudut gua.