Enam Warga PALI Batal Berangkat Jadi TKW Dikembalikan ke Keluarga, Ini Pesan Bupati

Enam calon TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang gagal berangkat ke Negara Taiwan akhirnya kembali ke Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).

Penulis: Reigan Riangga | Editor: Refly Permana
sripoku.com/reigan
Kedatangan ke enam warga PALI yang batal berangkat jadi TKW disambut Bupati PALI Heri Amalindo sebelum diserahkan ke pihak keluarga. 

Laporan wartawan sripoku.com, Reigan Riangga

SRIPOKU.COM, PALI - Sebanyak enam (6) orang calon TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang gagal berangkat ke Negara Taiwan akhirnya kembali ke Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) didampingi perwakilan dari Kementrian Tenga Kerja RI pada Senin (14/10/2019) malam.

Kedatangan mereka disambut langsung Bupati PALI, Heri Amalindo, dan langsung diserahkan ke pihak keluarganya yang telah menunggu di rumah dinas Bupati PALI, Komplek Pertamina Pendopo.

Mereka disambut haru dengan derai tetes air mata setelah bertemu dengan orangtua dan anak yang ditinggalkan.

Leny, warga Desa Mangku Negara Kecamatan Penukal berkata bahwa dirinya memberanikan diri mengadu nasib ke negara Taiwan lantaran tergiur dengan gaji besar yang pihak perusahaan yang ia kenal dari temannya, lantaran sudah bekerja ke luar negeri.

Namun demikian, kata Leny, setelah sampai di asrama perusahaan, dirinya bersama enam orang warga PALI lainnya tak kunjung berangkat selama tiga bulan lamanya menunggu.

"Saya kapok pak.

Kami niat berangkat karena memang dijanjikan gaji yang besar satu bulan Rp 9 juta dan kami diminta pindah data KTP ke Lampung Utara," ungkap Leny di hadapan Bupati PALI, Heri Amalindo.

Sebelum diserahkan ke pihak keluarga, Bupati PALI, Heri Amalindo berpesan agar kejadian tersebut menjadi pelajaran baik itu bagi enam orang calon TKW yang batal berangkat dan untuk seluruh masyarakat Bumi Serapat Serasan.

"Jangan mudah percaya dan tergiur apabila ada orang yang mengiming-imingi pekerjaan enak dengan gaji besar dan berangkat dengan mudah ke luar negeri secara gratis.

Tanyakan atau gali informasi ke pemerintah atau melalui Disnaker apabila berminat jadi TKI atau TKW, tentang proses menjadi tenaga kerja ke luar negeri," jelas Heri Amalindo.

Terlebih, sebelum berangkat harus merubah data diri terlebih dahulu sebelum berangkat, seperti dialami ke enam calon TKW tersebut.

"Kita harus mempertanyakan kenapa harus merubah data, karena kalau sudah terlanjur dan berangkat ke luar negeri namun suatu saat ada masalah, yang rugi pasti yang bersangkutan karena akan sulit dalam mengurus administrasinya," jelasnya.

Sementara, Subiyanto, wakil presiden IV DPP KSPSI yang ikut mendampingi enam calon TKW asal PALI menjelaskan, bahwa enam calon TKW tersebut nyaris menjadi korban perdagangan manusia.

Sebab, ada kejanggalan saat enam calon TKW asal PALI tersebut mendaftar di salah satu PJTKI di Jakarta dan saat prosesnya data kependudukan mereka dipindahkan dari PALI ke Lampung Timur.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved