Kisah Sukses Bank Sampah Hade Jaya, Di Balik Kisah Pilu Banjir Bandang Sungai Cimanuk Garut

Di balik kisah pilu dari banjir bandang Sungai Cimanuk, ada warga Garut yang bisa mengambil hikmah positif dari bencana tersebut.

Editor: Bejoroy
https://regional.kompas.com/
Para pengurus Bank Sampah Hade Jaya saat dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhamul Ulum, Minggu (22/09/2019). (KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG) 

Di balik kisah pilu dari banjir bandang Sungai Cimanuk, ada warga Garut yang bisa mengambil hikmah positif dari bencana tersebut.

SRIPOKU.COM, GARUT – Banjir bandang Sungai Cimanuk Garut pada 20 September 2016, masih meninggalkan luka pilu bagi banyak warga Garut.

Puluhan orang meninggal dunia hingga hilang. Ratusan kepala keluarga pun kehilangan tempat tinggal.

Namun, di balik kisah pilu dari banjir bandang Sungai Cimanuk, ada warga Garut yang bisa mengambil hikmah positif dari bencana tersebut.

Fakta Baru Pemeran Pria Vina Garut yang Meninggal, Terungkap Nikah 3 Kali dan Korban Banjir Bandang

7 Orang Tewas, Sedang Bertanding Sepak Bola di Maroko Dihantam Banjir Bandang

Kesadaran untuk lebih peduli lingkungan, tumbuh di kalangan masyarakat Desa Cintaasih Kecamatan Samarang. Salah satu bentuknya adalah dengan membentuk bank sampah.

“Awal didirikan memang setelah banjir bandang Cimanuk, kami sadar banyak membuang sampah ke sungai, makanya dibentuklah bank sampah,” jelas Hendi Munawar, Direktur Bank Sampah Hade Jaya.

Bank Sampah Hade Jaya sendiri, didirikan di atas tanah yang disewa pengelola. Setiap dua minggu sekali, warga yang jadi nasabah bank sampah, menyetorkan sampah rumah tangga mereka setelah dipilah sesuai dengan jenisnya.

Dampak banjir bandang di Komplek Jati Endah Regency RT 004/016 Dusun Pasir Jati, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/2/2019).
Dampak banjir bandang di Komplek Jati Endah Regency RT 004/016 Dusun Pasir Jati, Desa Jatiendah, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Gani Kurniawan/Tribun Jabar)

Jenis sampah juga akan menentukan berapa uang yang akan didapat dari tiap-tiap nasabah.

“Harganya beda-beda, paling mahal botol dan gelas air mineral, nanti semua dicatat di buku tabungan milik masing-masing warga,” katanya.

Hingga saat ini, menurut Hendi, Bank Sampah Hade Jaya sudah memiliki nasabah lebih dari 150 orang yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga hingga santri.

Mereka menyetorkan sampah rumah tangganya ke bank sampah secara rutin.

“Tabungan dibuka setiap enam bulan sekali, tidak semuanya dijadikan uang, ada yang dicairkan dalam bentuk sembako,” jelas Hendi.

Dari enam bulan menyetorkan sampah rumah tangga, menurut Hendi, tiap-tiap nasabah bisa berbeda-beda saldonya, sesuai dengan banyak dan jenis sampah yang disetorkan.

Namun, rata-rata tiap nasabah paling besar bisa mendapatkan saldo hingga Rp 500 ribu per enam bulan.

Selain memberikan keuntungan ekonomi, menurut Hendi, keberadaan bank sampah juga sedikit banyak mulai mengubah pola hidup masyarakat dalam membuang sampah.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved