Atasi Kekeringan Akibat Kemarau, Pemprov Sumsel Mobilisasi Pembuatan Sumur Sebagai Sumber Air

Atasi Kekeringan Akibat Kemarau, Pemprov Sumsel Mobilisasi Pembuatan Sumur Sebagai Sumber Air

Atasi Kekeringan Akibat Kemarau, Pemprov Sumsel Mobilisasi Pembuatan Sumur Sebagai Sumber Air
SRIPOKU.COM/ALAN NOPRIANSYAH
Warga Gunung Tiga Kecamatan Muaradua OKU Selatan tengah membuat sumur bor, Jumat (16/8/2019). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Sejak beberapa waktu terakhir, musim kemarau melanda Bumi Sriwijaya. Lahan-lahan pertanian di Sumsel akhirnya ikut terdampak.

Plt Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hotikultura Provinsi Sumsel, Antoni Alam menjelaskan Pemprov Sumsel berupaya melakukan antisipasi dengan cara pembuatan sumur bor sebagai sumber air.

"mobilisasi alat pompa ini di daerah yang berpotensi kekeringan dan juga di daerah yang debit sungainya mulai berkurang,” jelasnya, Senin (2/9/2019)

Secara umum, kata Antoni, cuaca kemarau di Sumsel masih masuk kategori kemarau basah. Artinya hujan masih turun di sebagian besar wilayah, walau intensitasnya tidak terlalu besar.

"lahan pertanian kita 50 persennya berada di lahan rawa lebak pasang surut yang sumber airnya melimpah,” ujarnya.

Lalu, sebagian besar lahan pertanian di wilayah rawa lebak saat ini memasuki musim tanam IP300 dan pertumbuhannya juga masih normal. “Airnya masih ada sehingga pertumbuhannya juga baik," jelasnya.

Antoni menambahkan, dengan kondisi kemarau saat ini pihaknya juga memaksimalkan pemanfaatan lahan dengan cara menanamnya dengan tanaman berumur pendek, seperti cabe, kacang panjang dan lain-lain.

Untuk lahan cabe, Sumsel memiliki beberapa zona tanam, yakni di dataran tinggi seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Pagaralam dan Semendo, Muara Enim. Lalu ada pula di lahan kering seperti di Muba dan Banyuasin.

Sedangkan, di dataran rendah yang berpotensi mengalami kekeringan seperti Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dan sebagian wilayah Banyuasin.

"Petani-petani di sana saat ini sedang menanam tanaman lain yang bisa dikembangkan di lahan kering seperti cabe. Sebab, masa tanam untuk Padi di Oktober-Maret," ujarnya.

Sementara, Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Sumsel, Tuti Murti mengatakan 2.160,75 hektar tanaman padi di Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami kekeringan akibat dampak buruk di Musim kemarau.

Dari jumlah tersebut penyumbang terbesar terdapat di Kabupaten Musi Rawas yang mencapai 1.432 hektar lahan yang kekeringan.

“tapi masih masuk kategori ringan dan sebagian besar sawah yang terkena kekeringan tersebut hampir panen, sementara di beberapa wilayah lahan yang mengalami kekeringan sudah diantisipasi petani dengan ditanami tanaman palawija," tuturnya. (Cr26)

Penulis: Rahmaliyah
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved