Mengenal Kartosoewirjo, Pentolan Pemberontak Paling Dekat dengan Soekarno Tapi Malah Dihukum Mati
Mengenal Kartosoewirjo, Pentolan Pemberontak Paling Dekat dengan Soekarno Tapi Malah Dihukum Mati
Penulis: fadhila rahma | Editor: Welly Hadinata
Menurut Sardjono, permintaan pertama ayahnya kala itu adalah, agar diizinkan bertemu dengan perwira-perwira (NII) terdekat. "Tapi permintaan ini ditolak," kata Sardjono.
Kedua, lanjut Sardjono, Kartosoewirjo minta eksekusinya disaksikan oleh perwakilan keluarga. Namun permintaan ini juga ditolak dengan alasan bertentangan dengan budaya.
"Mungkin di Indonesia tidak terbiasa seperti di Amerika yang biasa eksekusi mati disaksikan oleh keluarga," tuturnya.
Permintaan ketiga Kartosoewirjo adalah meminta supaya jenazahnya kelak dikembalikan kepada keluarga untuk dimakamkan di pemakaman keluarga. "Permintaan itupun ditolak Mahadper," ujar Sarjono.
Ketua Mahkamah Darurat Perang saat itu hanya mengabulkan permintaan keempat Kartosoewirjo yakni bertemu dengan keluarga sebelum ditembak mati di Pulau Ubi di kawasan Pulau Seribu.
"Saat itu, ketua Mahadper mengatakan akan mengabulkan apa saja permintaan Kartosoewirjo, walaupun ingin pergi ke tempat yang jauh sekalipun pasti dikabulkan, asalkan tidak ada sangkut pautnya dengan politik," terang Sardjono, sembari mengaku bahwa jelang ayahnya di eksekusi, dirinya tidak ada dalam foto karena masih berusia lima tahun.
Sarjono mengatakan, foto-foto ayahnya saat detik-detik terakhir sebelum eksekusi mati, merupakan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Fakta sejarah akhirnya terkuak dengan dukungan bukti otentik foto yang sulit terbantahkan, mulai dari peristiwa makan siang terakhir bersama keluarga hingga eksekusi tembak mati dan dimakamkan, terpapar jelas.
"Dari foto-foto tersebut akhirnya terkuak misteri di mana Kartosoewirjo dieksekusi, dan dimakamkan, terbukti kalau ayah saya hanyalah manusia biasa, sempat beredar kabar jika beliau tidak mempan di tembak, dan hal itu tidak benar," terangnya.