Berita Palembang

Tak Perlu ke Luar Negeri, Berobat Penyakit Jantung Bisa Dilakukan di RS Charitas Segini Harganya

Tak Perlu ke Luar Negeri, Berobat Penyakit Jantung Bisa Dilakukan di RS Charitas Segini Harganya

Tak Perlu ke Luar Negeri, Berobat Penyakit Jantung Bisa Dilakukan di RS Charitas Segini Harganya
SRIPOKU.COM/ODI ARIA SAPUTRA
Tim dokter RS Charitas Palembang saat melakukan cardiac resynchronization therapy (CRT) beberapa waktu lalu. 

Tak Perlu ke Luar Negeri, Berobat Penyakit Jantung Bisa Dilakukan di RS Charitas Segini Harganya

Laporan wartawan sripoku.com, Odi Aria

SRIPOKU.COM -- Para penderita jantung kini tak perlu lagi berobat jauh-jauh hingga ke luar negeri.

Kini penyakit mematikan tersebut bisa diobati melalui terapi resinkronisasi jantung atau cardiac resynchronization therapy (CRT) dengan teknologi mutakhir multipoint pacing (MPP) di RS Charitas Palembang.

Diretur Utama RS RK Charitas Palembang, dr Bernadus Freddy mengatakan bahwa RS RK Charitas bersama dr. Alexander Edo Tondas, SpJP (K), FIHA, FICA, FAPSC berinovasi menghadirkan terobosan-terobosan anyar untuk pengobatan penyakit jantung.

Dengan hadirnya terapi penyakit tersebut, kini masyarakat tak perlu lagi berobat ke luar Palembang.

" Saat ini kita sudah ada terapi resinkronisasi jantung dengan teknologi MPP. Sehingga masyarakat tak perlu berobat jauh-jauh ke luar kota Palembang ataupun ke luar negeri," ujarnya saat ditemui di RS Charitas Palembang, Sabtu (10/8/2019).

Ia menjelaskan, terapi resinkronisasi jantung dengan teknologi MPP ini bekerja menyeimbangkan jantung kiri dan kanan. Di Indonesia tindakan ini baru lima kali dilakukan, 4 diantaranya di Jakarta satu terapi lainnya di Palembang.

Bagi pasien yang hendak melakukan pengobatan terapi resinkronisasi jantung dengan teknologi MPP ini berkisar Rp 100 juta sampai Rp 150 juta.

"Selama ini pasien berobat jantung ke luar Palembang hingga ke luar negeri. Nah sekarang tak perlu jauh lagi, karena RS Charitas bisa melakukan terapi resinkronisasi jantung," jelasnya.

Sementara itu dr. Alexander Edo Tondas, SpJP (K), FIHA, FICA menjelaskan gagal jantung merupakan suatu kondisi dimana jantung itu sudah lemah, sehingga tidak sanggup memenuhi tuntutan kebutuhan tubuh. Para pasien pengidap penyakit ini biasanya jadi lebih mudah lelah dan mengas-mengas atau sesak nafas.

"Akibat gagal jantung Efeknya mempengaruhi kualitas hidup. Jadi kalau pasiennya mudah lelah dan sesak maka kualitas hidupnya berkurang. Dengan kualitas hidup rata-rata dibawah 55 persen," ungkap dr Alexander.

Ia membeberkan, bahwa gagal jantung dibagi empat tingkatan yaitu A, B, C dan D. Kalau tingkatan A itu baru faktor resiko tapi belum ada gejala. Kalau tingkatan A dan B masih bisa ditangani dengan obat, tapi apabila C ke D maka biasanya obat sudah tidak mampu lagi menanganinya. Maka ketika di tahap D pasien biasanya akan menjalani transpalasi jantung.

Menurutnya, sebagian pasien gagal jantung itu mengalami gangguan listrik, yang mengakibatkan bilik kiri dan kanan menjadi tidak sinkron yang berdenyut secara tidak bersamaan. Ini bisa memperburuk kondisi pasien gagal jantung. Untuk itu lah perlunya dipasang terapi resinkronisasi jantung dengan teknologi MPP.

"Terapi resinkronisasi jantung dengan teknologi MPP ini merupakan alat pacu jantung khusus seperti baterai dengan tiga kabel yaitu di serambi kanan, bilik kiri dan bilik kanan jantung. Tujuannya untuk mensinkronkan jantung kiri dan kanan," ujarnya.

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved