Berita Musi Rawas
Sejarah Tugu Mulyo di Musi Rawas, Hingga Dinobatkan Jadi Kampung Bola
Sejarah Tugu Mulyo salah satu dari 14 Kecamatan yang ada di Kabupaten Musi Rawas, Hingga Ada Kampung Bola Musi Rawas
Sejarah Tugu Mulyo di Musi Rawas, Hingga Dinobatkan Jadi Kampung Bola
Laporan Wartawan TribunSumsel.com, Eko Hepronis
SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS -- Kabupaten Musi Rawas tepatnya di Kecamatan Tugu Mulyo tak hanya dikenal dengan central penghasil beras saja, tetapi kini salah satu dari 14 Kecamatan yang ada di kabupaten tersebut sudah terkenal dengan adanya kampung bola.
Letak Kecamatan Tugu Mulyo sendiri di Kabupaten Musi Rawas berbatasan langsung dengan kecamatan Muara Beliti, Kecamatan Lubuklinggau Selatan dan Kecamatan Purwodadi.
Kecamatan Tugu Mulyo dinobatkan sebagai kampung bola sendiri tidak terlepas dari komitmen dari Gubernur Sumatra Selatan, H Herman Deru dan Bupati Musi Rawas, H Hendra Gunawan tepatnya di Kelurahan B Srikaton, Kecamatan Tugu Mulyo sebagai kampung bola merupakan hal yang wajar, karena sejak zaman kolonial Belada hampir semua masyarakat Mirasi menyukai sepak bola.
Sebelum dinobatkan menjadi kampung bola Kecamatan Tugu Mulyo sendiri rasanya tak asing ditelinga dan identik dengan bahasa Jawa. Ya memang benar, nama Tugu Mulyo sendiri diambil dari sebuah bangunan tugu.
"Bangunan tugu tersebut dibangun di wilayah Desa Mataram. Kata Tugu Mulyo diambil dari kata itu, harapannya masyarakatnya hidup mulya dan makmur," kata Badrun Tokoh Masyarakat setempat pada Tribunsumsel, Jumat (19/7/2019).
• Herman Deru Turunkan Tim Khusus Investigasi Kasus Korban MOS
• Hadapi PSPS Riau, Pemain Sriwijaya FC Diminta Konsentrasi dan Jaga Emosi
• Belajar Dari Kasus Nunung, Begini Cara Jaga Stamina Agar Selalu Bugar Tanpa Harus Pakai Narkoba
Badrun yang menjabat sebagai Camat Purwodadi ini menceritakan, jika wilayah Tugu Mulyo sudah terbentuk sejak tahun 1932 pada masa penjajahan Belanda dan merupakan daerah Transmigrasi pertama di Kabupaten Musi Rawas.
"Dalam perkembangannya sebelum dikenal dengan nama Tugu Mulyo, masyarakat transmigrasi saat itu agak sulit menyebutkan kata transmigrasi. Sehingga mereka zaman dulu menyebutnya Mirasi," ungkapnya.
Selain Mirasi, masyarakat zaman dahulu menyebutnya juga sebagai kampung Kolones. Alasannya ketika zaman penjajahan kolonian Belanda, masyarakat juga tidak bisa menyebutkan kolonial, sehingga mereka menyebutnya sebagai kolones.
"Jadi ada dua sebutan sebelum berganti nama menjadi Tugu Mulyo yakni Mirasi dan Kolones. Wilayah Mirasi atau kolones memanjang dari wilayah Tugu Mulyo sampai wilayah Kecamatan Megang Sakti saat ini," ujarnya.
Seiring perkembangan zaman, wilayah Mirasi atau Kolones dipecah-pecah menjadi empat Kecamatan yakni Kecamatan Tugu Mulyo, Purwodadi, Sumber Harta dan Megang Sakti.
"Khusus untuk Tugu Mulyo sendiri diambil dari nama tugu yany dibangun kala itu, tugunya saat itu sangat bagus. Jadi supaya masyarakatnya mulya atau makmur seperti Tugu, maka diberilah nama Tugu Mulyo," paparnya.
Badrun menyebutkan masyarakat Tugu Mulyo didominasi oleh masyarakat transmigrasi yang berasal dari provinsi Jawa Tengah. Rata-rata masyarakatnya merupakan petani sawah dengan memanfaatkan air irigasi.
"Sistem pengairan di wilayah ini dari irigasinya Bendungan Watervang, sebuah bendungan air terjun yang dibangun pada tahun 1942 pada zaman kedudukan belanda dulu," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/sejarah-tugu-mulyo-di-musi-rawas-hingga-dinobatkan-jadi-kampung-bola.jpg)