Cacar Monyet Belum Ditemukan di Indonesia, Begini Cara Menghindarinya
Kabar adanya kasus cacar monyet (Monkeypox atau MPX) di Singapura membuat masyarakat panik karena dikhawatirkan penyakit itu akan masuk ke Indonesia,
"Pelaku perjalanan yang baru kembali dari wilayah terjangkit Monkeypox agar segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala cacar monyet," ujar Anung.
Dia mengatakan, beberapa gejala cacar monyet yang perlu diperhatikan setelah pulang dari daerah endemik Monkeypox antara lain demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening, dan ruam kulit dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.
"Pasien juga harus menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya," imbuh Anung.
Kepada petugas kesehatan, Dirjen Anung mengingatkan agar menggunakan alat pelindung, minimal sarung tangan dan masker saat menangani pasien atau binatang yang sakit.
Gejala dan Tanda
Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) Monkeypox biasanya 6–16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5–21 hari.
Gejala yang timbul berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.
Ruam pada kulit muncul pada wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.
Monkeypox biasanya merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung selama 14–21 hari.
Kasus yang parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan tingkat paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi.
Kasus kematian bervariasi tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak. Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit Monkeypox.
Dirjen Anung menegaskan Monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.
"Tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus Monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul," tambahnya.
Kejadian Luar Biasa
Monkeypox pernah menjadi KLB di beberapa wilayah. Tahun 1970 terjadi kejadian luar biasa pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo. Tahun 2003 dilaporkan kasus di Amerika Serikat, akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Tahun 2017 terjadi kejadian luar biasa di Nigeria.
"Bulan Mei 2019 dilaporkan seorang warga negara Nigeria menderita Monkeypox, saat mengikuti lokakarya di Singapura. Saat ini pasien dan 23 orang yang kontak dekat dengannya diisolasi untuk mencegah penularan lebih lanjut," jelas Anung.
Penulis: Gloria Setyvani Putri
Like Facebook Sriwijaya Post Ya...
Berita Ini Sudah Diterbitkan di Situs https://sains.kompas.com/ dengan Judul:
Cacar Monyet Belum Ditemukan di Indonesia, Bagaimana Menghindarinya?
====
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/cacar-monyet.jpg)