Memarahi Dengan Berteriak Berdampak Buruk Pada Masa Depan Anak, Ini Penjelasannya

Memarahi anak atau menegurnya dengan berteriak ternyata dilakukan 90 persen dari 1000 orangtua

Memarahi Dengan Berteriak Berdampak Buruk Pada Masa Depan Anak, Ini Penjelasannya
facebook/toen bu'na nara naya
Ilustrasi ibu dan anak 

SRIPOKU.COM -- Meski sudah berusaha menjadi orangtua yang rasional saat menghadapi ulah anak, namun terkadang  ada saja kejadian yang membuat amarah kita memuncak dan berteriak.

Memarahi anak atau menegurnya dengan berteriak ternyata dilakukan 90 persen dari 1000 orangtua yang disurvei dalam penelitian yang dimuat di Journal of Marriage and Family.

Lebih dari itu, keluarga yang memiliki anak berusia di atas 7 tahun hampir 100 persennya pernah berteriak sambil marah ke anak.

“Orangtua berteriak karena mereka seolah ditarik ke segala arah dan mulai frustasi. Misalnya mereka melihat anak mereka bertengkar atau melakukan sesuatu yang dilarang,” kata Nina Howe, profesor bidang pendidikan anak usia dini.

Cristiano Ronaldo Akan Hengkang Usai Tersingkir di Liga Champion? Begini Tanggapan Pelatih Juventus

Hilangkan Kaki Pecah-Pecah Anda Dengan Menggunakan Ramuan 2 Bahan ini, Cukup 5 Menit

Bunda Jangan Ragu, Ini 7 Manfaat Puasa Bagi Anak, Ajarkan Secara Bertahap

Ilustrasi
Ilustrasi (SRIPOKU.COM/PAIRAT)

Ia menambahkan, seringkali teriakan itu adalah respon otomatis orangtua.

Meski tujuannya adalah untuk mendisiplinkan anak, ternyata cara tersebut tak sepenuhnya efektif. 

Bukan saja kita memberi contoh strategi menghadapi konflik secara buruk, tapi juga ada efek jangka panjangnya.

 

Studi tahun 2013 mengungkap, perilaku verbal yang negatif (seperti berteriak) tidak akan membuat anak usia pra-remaja dan remaja mengubah perilakunya, malah mereka akan meneruskan ulahnya tersebut.

Sebagian pakar juga menilai bahwa berteriak adalah bentuk baru dari pukulan pada bokong (spanking). 

Tips Mendapatkan Uang Belanja Tambahan Untuk Ibu Rumah Tangga

JANGAN SEPELEKAN, Ini 3 Penyebab Timbulnya Gigi Sensitif Yang Harus Anda Pahami

4 Handphone Murah Dengan Kapasitas RAM 3GB, Hanya Rp 1 Jutaan

Banyak dari generasi orangtua milenal yang tumbuh dengan teriakan, omelan, dan juga pukulan orangtuanya.

Sehingga terkadang itu jadi referensi dalam pola asuhnya mendisiplinkan anak.

Yang terlambat kita sadari adalah cara tersebut membuat kita merasa buruk.

Teriakan dan omelan itu juga menakutkan anak-anak (seperti halnya dulu kita juga takut) menanti akhir dari kalimat.

Membuat anak merasa cemas dan cenderung menganggap dirinya sebagai orang yang tidak baik.

“Anak-anak memiliki sistem saraf yang sensitif dan teriakan akan menakutkan mereka, apalagi melihat ekspresi wajah orangtua saat marah. Itu sangat agresif dan mengintimidasi,” kata konselor keluarga Elana Sures.

Ilustrasi Ibu dan anaknya
Ilustrasi Ibu dan anaknya (SRIPOKU.COM/JATI PURWANTI)

 

Ketika orangtua mendapatkan hasil yang diinginkan setelah meneriaki anak, itu lebih karena anak-anak takut dan ingin ayah atau ibunya berhenti berteriak.

“Itu bukan karena keputusan mereka. Jadi, kebiasaan berteriak hanya akan efektif dalam jangka pendek, tapi lama-lama anak akan mengacuhkannya,” ujarnya.

Jadi, apa yang bisa dilakukan orangtua ketika amarahnya memuncak? Pertama, ketahui apa yang memicunya.

Teriakan biasanya dipicu oleh sesuatu yang spesifik, misalnya stres di kantor atau sebenarnya sedang kesal dengan pasangan. 

Memahami apa yang mendasari kemarahan akan membantu kita membuat respon atau sikap yang rasional.

Orangtua Harus Menyadari, Inilah Penyebab Anak Suka Pilih-Pilih Makanan

Berteriak bukanlah bentuk komunikasi karena hanya membuat anak untuk diam dan bukan mendengarkan.

Jadi, pertama-tama kita harus tenang dulu, lalu bicarakan pada anak kalau sikapnya tidak baik dan bagaimana yang seharusnya.

Jika anak masih terus melakukan kesalahannya, beri hukuman. Misalnya memberinya time-out.

Kemudian jika ia sudah tenang sampaikan alasan mengapa ia tidak boleh mengulangi perilakunya lagi.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:

Mengasuh Anak Tanpa Berteriak

Editor: ewis herwis
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved