Sumsel Maju

Sumsel Miliki Pabrik Ban akan Segera Terwujud, Harga Karet di Sumsel Lebih Stabil

Kebijakan Gubernur Sumsel mendirikan Pabrik Ban di Sumsel untuk menyerap karet hasil produksi petani hampir dipastikan berjalan mulus.

Editor: Tarso
Humas Pemprov Sumsel
Kunjungan Kerja Presiden Jokowi ke Balai Penelitian Karet Sembawa Banyuasin Sumsel, ditemani Gubernur Sumsel Herman Deru. 

PALEMBANG - Kebijakan Gubernur Sumsel mendirikan Pabrik Ban di Sumsel untuk menyerap karet hasil produksi petani hampir dipastikan berjalan mulus.

Pasalnya kebijakan tersebut sejalan dengan anjuran Presiden RI Joko Widodo saat Kunker di Sumsel 8-9 Maret kemarin.

Presiden Jokowi melalui Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden, Bey Machmudin, menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan berbagai upaya mendongkrak harga karet.

Hal itu terungkap saat Jokowi menghadiri Acara Silaturahmi Petani Karet, di Balai Pusat Penelitian Karet Sembawa Kabupaten Banyuasin, Sabtu (9/3).

Dikatakannya rendahnya harga karet tersebut merupakan salah satu imbas dari kondisi ekonomi dunia yang juga turun.

Presiden menuturkan, meskipun menanggung beban tekanan ekonomi dunia yang tidak gampang, Indonesia masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

"Kalau ekonomi dunia turun, artinya permintaan juga turun. Atas apa? Ya untuk barang-barang. Misalnya kelapa sawit. Kalau permintaan sawit turun, harga otomatis juga ikut turun. Batu bara, permintaan turun, harga juga turun. Termasuk karet juga sama. Inilah problem besar kita karena ekonomi dunia belum normal," ujar Presiden.

Presiden Jokowi saat kunker ke balai Penelitian Karet Sembawa Banyuasin Sumsel ditemani Gubernur Sumsel H Herman Deru.
Presiden Jokowi saat kunker ke Balai Penelitian Karet Sembawa Banyuasin Sumsel ditemani Gubernur Sumsel H Herman Deru. (Humas Pemprov Sumsel)

Khusus untuk karet, Presiden menjelaskan bahwa pemerintah sudah melakukan upaya-upaya untuk mendongkrak harganya.

Pertama, pemerintah sudah berkomunikasi dengan negara-negara produsen karet lain di dunia seperti Malaysia dan Thailand.

"Karena produsen terbesar karet ada di Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kita sudah berhubungan dengan menteri-menteri mereka. Untuk mengendalikan agar suplai ke pasar bisa diturunkan. Barangnya kurang berarti harga bisa kedongkrak naik. Tapi yang namanya negosiasi dengan negara lain tidak mudah," jelasnya.

Meski tidak mudah, Presiden menuturkan bahwa tiga minggu lalu komunikasi sudah dilakukan dengan Malaysia dan Thailand. Hasilnya sudah mulai terasa, yakni harga karet mulai merangkak naik dua pekan terakhir ini.

"Dulu Rp5.000-Rp6.000, sekarang Rp8.300 sampai Rp9.000. Ini harus disyukuri karena ekonomi dunia masih pada posisi yang belum baik. Tetapi akan menuju normal kembali," lanjutnya.

Kedua, upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan menggunakan karet sebagai bahan campuran untuk mengaspal jalan.

"Sudah dicoba dan hasilnya bagus. Tapi pak harganya lebih mahal sedikit. Enggak apa-apa, beli. Saya perintahkan. Enggak apa-apa harga jalan lebih mahal sedikit, tapi kualitas lebih baik," ungkapnya.

Presiden Jokowi melakukan penyayatan (Melukai) pohon karet untuk mendapatkan getahnya di Balai Penelitian Karet Sembawea Banyuasin Sumsel.
Presiden Jokowi melakukan penyayatan (Melukai) pohon karet untuk mendapatkan getahnya di Balai Penelitian Karet Sembawea Banyuasin Sumsel. (Humas Pemprov Sumsel)

Dongkrak Harga Jual Karet, Petani Bentuk UPPB dan Jual Getah Karet Sistem Lelang

Di Usianya yang ke-38 PTBA Menggelar Festival Seni Pelajar di Kabupaten Lahat

Kondisi PDAM Empatlawang Memprihatinkan, Karyawan Sering tidak Gajian dan Keuangan tidak Karuan

Upaya ketiga yang dilakukan pemerintah adalah dengan memaksimalkan sektor industri. Terkait hal ini, Presiden telah memerintahkan Menteri Perindustrian agar Indonesia tidak terlalu banyak mengekspor produk mentah melainkan produk jadi.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved