Anggota DPR RI Sebut Bandara SMB II Palembang Lebih Layak Jadi Bandara Transit

Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang direkomendasikan menjadi bandara transit penerbangan internasional.

Penulis: Siti Olisa | Editor: Welly Hadinata
SRIPOKU.COM/SITI OLISA
Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono, saat melakukan kunjungan kerja ke Bandara SMB II Palembang, Jumat (14/12/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Siti Olisa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang direkomendasikan menjadi bandara transit penerbangan internasional.

Hal ini dipertimbangkan berdasarkan kapasitas, fasilitas dan sarana dan prasaran juga menunjang untuk dijadikan bandara transit penerbangan internasional.

"Bandara ini disamping memiliki fasilitas yang sangat baik, juga layak karena bandara ini mempunyai panjang landasan 3000 sehingga pesawat 777 bisa masuk. Hanya PCN yang kurang hanya 88 sedangkan PCN 777 114. Tapi 747 bisa di sini Di sini layak untuk menjadi bandara alternatif," kata, Anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono, saat melakukan kunjungan kerja ke Palembang, Jumat (14/12/2018).

Namun Bambang menjelaskan, Bandara SMB II ini bisa menjadi bandara transit seperti di Singapura. "Saya tidak ingin hanya itu saja, bandara ini harus bisa menjadi bandara transit kalau perlu menggantikan Singapura. Singapura itu menjadi bandara transit ke Australia menuju Asia Timur, Australia menuju Eropa. Indonesia bisa," ujarnya.

Bambang juga menjelaskan bandara ini juga jauh lebih besar dari bandara Kertajati, yang digadang-gadang jadi bandara terbesar nomor 2 terbesar itu sebenarnya ada di bawah SMB II. Punya 4 konveyor sedangkan Bandara Kertajati hanya punya satu, 14 apron sedangkan Kertajati hanya 10, garbaratnya 8 sedangkan di Bandara Kertajati hanya ada empat.

"Bandara ini jauh lebih layak menjadi bandara alternatif dibanding Kertajati. Cuman kan permasalahannya terminalnya. Terminalnyan dibangun dengan kapaistas 3,4 juta juta sedangkan demandnya 4.7 juta. Ini berarti sudah harus ada pemikiran untuk mengembangkan lagi terminalnya tapi ini dikaji dulu karena hutangnya BUMN udah menjapai 5.300 triliun," ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, menjadi bandara transit internasional harus murah dari sisi pelayanan. Termasuk mendapat dukungan dari Pertamina lantaran bahan bakar pesawat lebih mahal 20 persen dibandingkan Singapura dan Malaysia.

"Selain itu tempat istirahat harus bagus, fasilitas baik, responsif dari petugas di bandara dari sisi keamanan dan keselamatan selama di bandara, termasuk kenyamanan pilot termasuk dari sisi zero holding. Hal itu menyebabkan Singapura jadi bandara transit," jelasnya.

Sky Bridge Sudah Selesai 100 Persen, Penumpang Bandara SMB II Bisa Langsung ke Stasiun LRT

Kapasitas Bandara SMB II Palembang Sudah Tidak Sesuai, Anggota DPR RI Ingatkan Pemerintah

Keterbatasan Jarak Pandang, Jadwal Penerbangan di Bandara SMB II Terganggu

Ia menambahkan, syarat bandara transit itu meliputi, harus murah dari sisi pelayanan seperti bahan bakar. Sementara ini, lebih mahal Singapura dan Malaysia. Jadi pesawat yang transit itu tentunya akan memilih negara tersebut. Selain itu juga, tempat istirahat nya penumpang harus nyaman dan terintegrasi, dari sisi kelengkapan restoran dan produk khas daerah sehingga ada yang berbeda dari bandara lainnya, responsif petugas bandara, kenyamanan pilot.

"Jadi memang untuk menjadi bandara alternatif atau transit itu tidak gampang, tapi dengan fasilitas sangat baik ini sayang apabila tidak dimanfaatkan," bebernya.

Sementara itu, General Manager (GM) PT Angkasa Pura II Palembang Fahroji mengatakan, semua masukan memang sudah ada, tetapi untuk melengkapi semuanya itu yang memang sulit dan tidak mudah serta membutuhkan waktu yang lama.

"Untuk jadi bandara alternatif atau transit sendiri memang tidak mudah karena memang banyak aspek yang harus dilengkapi," singkatnya.

====

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved